alexametrics

Kisah Sufi

Kisah Bijak Para Sufi: Timur Agha dan Bahasa Binatang

loading...
Kisah Bijak Para Sufi: Timur Agha dan Bahasa Binatang
Keledai. Foto/Ilustrasi/ist
PADA zaman dahulu, ada seorang Turki bernama Timur Agha, yang mencari ke berbagai desa dan kota, dusun dan negeri, orang yang bisa mengajarinya bahasa binatang dan burung. Ke mana saja ia berkelana, diadakannya penyelidikan tersebut, sebab ia mengetahui bahwa Najmuddin Kubra yang Agung telah memiliki kemampuan berbicara dengan binatang dan burung; dan ia pun mencari salah seorang pengikut langsung Sang Agung agar bisa mempelajari pengetahuan gaib itu, pengetahuan Sulaiman.

Akhirnya, karena telah mengembangkan nilai kelaki-lakian dan kemurahan hati, ia menyelamatkan hidup seorang darwis tua lemah yang bergelantungan pada tali jembatan di sebuah bukit, dan yang berkata, "Nak, Aku Bahaudin Sang Darwis, dan telah kubaca pikiranmu. Sejak saat ini, kau akan bisa berbahasa binatang." Timur berjanji tak akan menceritakan rahasia itu kepada orang lain.

Baca juga: Air Surga dari Orang Badui untuk Baginda Harun Al-Rasyid

Timur Agha pun pulang dan bergegas ke kebunnya. Segera ia bisa mempergunakan kemampuan barunya itu. Seekor lembu dan seekor keledai sedang berbincang-bincang, dalam cara mereka sendiri. Si Lembu berkata, "Aku harus menarik bajak, dan tugasmu hanya pergi ke pasar. Karena itu, kau pasti lebih pandai dariku; berilah aku jalan keluar dari masalah ini."



"Yang harus kau lakukan," kata Si Keledai yang cerdik," hanya rebah dan berpura-pura sakit perut. Aku jamin, Si Petani akan merawatmu, sebab kau seekor binatang berharga. Ia akan biarkan kau mengaso dan memberimu makan lebih banyak."

Namun, tentu saja, Timur menguping percakapan mereka. Ketika lembu jantan itu merebahkan diri, Timur berseru keras-keras, "Malam ini aku akan membawa lembu itu ke tukang daging, kecuali kalau sakitnya sembuh dalam setengah jam." Dan begitulah, lembu itu pun tiba-tiba sangat sehat!



Hal itu membuat Timur tertawa tergelak, dan istrinya yang berwatak ingin tahu dan perajuk bersikeras ingin mengetahui kenapa suaminya itu tertawa-tawa. Tetapi karena sudah janji, Si Petani pun menolak memberitahukannya.(Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Saudagar dan Darwis Kristen)

Keesokan hari, mereka pergi ke pasar; petani itu jalan kaki, istrinya duduk di atas keledai, dan anak keledai mengikuti di belakang. Anak keledai itu meringkik, dan Timur menyadari bahwa ia berbicara kepada induknya, "Aku tak bisa jalan lebih jauh lagi, biarkan aku naik ke punggungmu."

Ibunya menjawab, dalam bahasa keledai, "Ibu membawa istri Si Petani, dan kita hanyalah binatang, ini sudah takdir kita dinaiki manusia; tak ada yang bisa kulakukan untuk membantumu, Nak."
halaman ke-1 dari 3
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
cover top ayah
اَفَحَسِبۡتُمۡ اَنَّمَا خَلَقۡنٰكُمۡ عَبَثًا وَّاَنَّكُمۡ اِلَيۡنَا لَا تُرۡجَعُوۡنَ
Maka apakah kamu mengira, bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?

(QS. Al-Mu’minun:115)
cover bottom ayah
preload video
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak