Kisah Bijak Para Sufi: Timur Agha dan Bahasa Binatang
Senin, 13 Juli 2020 - 06:08 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Berharga dan Tak Berharga
Ketika mereka pulang ke rumah, Si Petani mengalasi tempat tidur Si Lembu menggunakan jerami segar yang dibelinya di pasar, dan binatang itu pun berkata, "Istri Tuan tak henti memancing agar Tuan membocorkan rahasia itu, dan kalau terus berlanjut, cepat atau lambat rahasia Tuan pasti terbongkar. Apabila Tuan menyadarinya, Tuanku yang malang, Tuan bisa membuatnya mengubah kelakuannya itu agar rahasia Tuan tetap terjaga; yang harus Tuan lakukan hanyalah mengancam akan memukulnya dengan tongkat yang tidak lebih tebal daripada jari kelingking Tuan."
Baca juga: Cara Jitu Menjebak Anak-Anak Serakah ke Jalan yang Benar
"Tak kusangka," pikir Timur, "bahwa Si Lembu yang kuancam akan kubawa ke rumah sembelih, ternyata memikirkan kepentinganku."
Kemudian, ia pun menemui istrinya sambil membawa sebuah tongkat kecil, katanya, "Apa kau mau mengubah kelakuanmu? Mau tidak kau berhenti mengajukan pertanyaan bahkan ketika kau lihat aku tertawa sekonyong-konyong?" (Baca juga: Tiga Nasihat Berharga dari Burung yang Tertangkap )
Istrinya itu benar-benar ketakutan, sebab suaminya belum pernah sekalipun berkata seperti itu kepadanya sebelumnya. Petani itu tak pernah memberitahukan rahasianya kepada istrinya, dan ia pun terhindar dari takdir mengerikan yang menimpa orang-orang yang membocorkan rahasia kepada orang lain yang belum siap untuk mendengarkannya.
Konon, Timur Agha mempunyai kemampuan untuk memahami arti penting dalam segala sesuatu yang sepintas tampaknya tidak penting. (Baca juga: Kebijaksanaan yang Diperjualbelikan )
Idries Shah dalam Tales of The Dervishes yang diterjemahkan Ahmad Bahar dengan judul Harta Karun dari Timur Tengah - Kisah Bijak Para Sufi menyebut kisah ini dianggap mengandung 'baraka' berkah bagi penutur maupun pendengamya, dan oleh karena itu digemari di negeri-negeri Balkan dan Timur Dekat. Banyak kisah-kisah Sufi yang tersamar sebagai cerita dongeng.
Kisah ini dikaitkan (dalam bentuk awalnya) dengan Abu Ishak Chishti, pemimpin tarekat 'Darwis Menyanyi' (Singing Dervishes) pada abad kesepuluh. (Baca juga: Tiga Cincin Permata Pembuka Pintu Harta Karun )
Ketika mereka pulang ke rumah, Si Petani mengalasi tempat tidur Si Lembu menggunakan jerami segar yang dibelinya di pasar, dan binatang itu pun berkata, "Istri Tuan tak henti memancing agar Tuan membocorkan rahasia itu, dan kalau terus berlanjut, cepat atau lambat rahasia Tuan pasti terbongkar. Apabila Tuan menyadarinya, Tuanku yang malang, Tuan bisa membuatnya mengubah kelakuannya itu agar rahasia Tuan tetap terjaga; yang harus Tuan lakukan hanyalah mengancam akan memukulnya dengan tongkat yang tidak lebih tebal daripada jari kelingking Tuan."
Baca juga: Cara Jitu Menjebak Anak-Anak Serakah ke Jalan yang Benar
"Tak kusangka," pikir Timur, "bahwa Si Lembu yang kuancam akan kubawa ke rumah sembelih, ternyata memikirkan kepentinganku."
Kemudian, ia pun menemui istrinya sambil membawa sebuah tongkat kecil, katanya, "Apa kau mau mengubah kelakuanmu? Mau tidak kau berhenti mengajukan pertanyaan bahkan ketika kau lihat aku tertawa sekonyong-konyong?" (Baca juga: Tiga Nasihat Berharga dari Burung yang Tertangkap )
Istrinya itu benar-benar ketakutan, sebab suaminya belum pernah sekalipun berkata seperti itu kepadanya sebelumnya. Petani itu tak pernah memberitahukan rahasianya kepada istrinya, dan ia pun terhindar dari takdir mengerikan yang menimpa orang-orang yang membocorkan rahasia kepada orang lain yang belum siap untuk mendengarkannya.
Konon, Timur Agha mempunyai kemampuan untuk memahami arti penting dalam segala sesuatu yang sepintas tampaknya tidak penting. (Baca juga: Kebijaksanaan yang Diperjualbelikan )
Idries Shah dalam Tales of The Dervishes yang diterjemahkan Ahmad Bahar dengan judul Harta Karun dari Timur Tengah - Kisah Bijak Para Sufi menyebut kisah ini dianggap mengandung 'baraka' berkah bagi penutur maupun pendengamya, dan oleh karena itu digemari di negeri-negeri Balkan dan Timur Dekat. Banyak kisah-kisah Sufi yang tersamar sebagai cerita dongeng.
Kisah ini dikaitkan (dalam bentuk awalnya) dengan Abu Ishak Chishti, pemimpin tarekat 'Darwis Menyanyi' (Singing Dervishes) pada abad kesepuluh. (Baca juga: Tiga Cincin Permata Pembuka Pintu Harta Karun )
(mhy)
Lihat Juga :