Hijrah, Pilar Peradaban Modern (2)
Rabu, 26 Agustus 2020 - 11:00 WIB
Hal kedua yang dilakukan Rasulullah Muhammad SAW setiba di Madinah adalah "at-taakhaa" atau membangun "ukhuwah imaniyah" antara kaum Muhajirin dan Anshor . Sebuah kebijakan pemimpin (leadership policy) yang sangat krusial dalam membangun kesatuan umatnya.
Jika kita melihat Alquran maupun hadits-hadits akan didapati bahwa perintah bersatu dan ukhuwah menyusul setelah perintah takwa dan iman itu sendiri. Perhatikan ayat ini: "wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kalian dengan takwa yang sesungguhnya. Dan janganlah mati kecuali dalam keadaan Muslim".
Ayat yang memerintahkan bertakwa ini dengan tegas dan segera disusul dengan perintah bersatu: "Dan berpeganglah kamu semua kepada tali agama Allah dan jangan berpecah belah...". (Baca juga: Wahai Muslimah, Yuk Sibukkan Dirimu Dengan Membaca Al-Qur'an)
Urgensi ukhuwah ini menjadikan Rasulullah SAW setiba di Madinah segera menindaklanjutinya. Khususnya antara dua kelompok yang baru saling berinteraksi yang sudah pasti ada rasa asing dan jarak.
Kedua kelompok, Muhajirin dan Anshor, ini memiliki alasan untuk merasa lebih dari yang lain. Muhajirin bisa merasa lebih karena kedekatan dengan Rasulullah sejak awal perjuangan. Sementara Anshor bisa merasa lebih karena merekalah sebagai "tuan rumah" di saat Muhajirin diusir dari tanah kelahiran mereka.
Artinya, gesekan antara kedua kelompok ini bisa menjadi isu pribumi dan non pribumi. Seperti yang pernah terjadi antara Muslim asli Amerika dengan imigran Muslim di AS. (Baca juga: Inilah Amalan Kaum Muhajirin yang Bikin Rasulullah Gembira)
Ternyata apa yang dikhawatirkan Rasulullah SAW tersebut memang terbukti di kemudian hari. Khususnya di saat akan diadakan pemilihan pemimpin pertama di kalangan komunitas Muslim. Sentimen kelompok (Muhajirin dan Anshor) mencuat. Walau kemudian dapat dengan segera diredam sehingga tidak meluas dan meruncing. (Baca juga: Perang Badar (1): Menguji Kesetiaan Kaum Anshar)
Merujuk kepada apa yang dilakukan Rasulullah SAW di awal kepindahan Beliau ke Madinah itu mengingatkan kita kembali tentang realita umat masa kini. Umat ini sedang tercabik-cabik oleh berbagai paham dan isu, yang boleh jadi justru menjadi bagian dari rancangan orang lain untuk merusak Islam dari dalam. (Baca juga: 425 Koin Emas Islam dari Kekhalifahan Abbasiyah Ditemukan di Israel)
Oleh karenanya rekonsiliasi internal semua pihak di kalangan umat ini menjadi sebuah keharusan. Tentu harus dibangun sebuah kesadaran bahwa bagaimanapun juga perbedaan, bahkan dalam hal-hal yang fundamental sekalipun, ukhuwah dan persatuan menjadi sebuah yang mendasar dalam proses kemenangan kolektif.
Perbedaan-perbedaan yang ada adalah bagian dari sunnatullah dalam pembentukan ummah wahidah (umat yang satu) ini. Jangan pernah bermimpi bahwa persatuan umat ini mengharuskan keragaman dalam pemikiran dan karya.
Jika kita melihat Alquran maupun hadits-hadits akan didapati bahwa perintah bersatu dan ukhuwah menyusul setelah perintah takwa dan iman itu sendiri. Perhatikan ayat ini: "wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kalian dengan takwa yang sesungguhnya. Dan janganlah mati kecuali dalam keadaan Muslim".
Ayat yang memerintahkan bertakwa ini dengan tegas dan segera disusul dengan perintah bersatu: "Dan berpeganglah kamu semua kepada tali agama Allah dan jangan berpecah belah...". (Baca juga: Wahai Muslimah, Yuk Sibukkan Dirimu Dengan Membaca Al-Qur'an)
Urgensi ukhuwah ini menjadikan Rasulullah SAW setiba di Madinah segera menindaklanjutinya. Khususnya antara dua kelompok yang baru saling berinteraksi yang sudah pasti ada rasa asing dan jarak.
Kedua kelompok, Muhajirin dan Anshor, ini memiliki alasan untuk merasa lebih dari yang lain. Muhajirin bisa merasa lebih karena kedekatan dengan Rasulullah sejak awal perjuangan. Sementara Anshor bisa merasa lebih karena merekalah sebagai "tuan rumah" di saat Muhajirin diusir dari tanah kelahiran mereka.
Artinya, gesekan antara kedua kelompok ini bisa menjadi isu pribumi dan non pribumi. Seperti yang pernah terjadi antara Muslim asli Amerika dengan imigran Muslim di AS. (Baca juga: Inilah Amalan Kaum Muhajirin yang Bikin Rasulullah Gembira)
Ternyata apa yang dikhawatirkan Rasulullah SAW tersebut memang terbukti di kemudian hari. Khususnya di saat akan diadakan pemilihan pemimpin pertama di kalangan komunitas Muslim. Sentimen kelompok (Muhajirin dan Anshor) mencuat. Walau kemudian dapat dengan segera diredam sehingga tidak meluas dan meruncing. (Baca juga: Perang Badar (1): Menguji Kesetiaan Kaum Anshar)
Merujuk kepada apa yang dilakukan Rasulullah SAW di awal kepindahan Beliau ke Madinah itu mengingatkan kita kembali tentang realita umat masa kini. Umat ini sedang tercabik-cabik oleh berbagai paham dan isu, yang boleh jadi justru menjadi bagian dari rancangan orang lain untuk merusak Islam dari dalam. (Baca juga: 425 Koin Emas Islam dari Kekhalifahan Abbasiyah Ditemukan di Israel)
Oleh karenanya rekonsiliasi internal semua pihak di kalangan umat ini menjadi sebuah keharusan. Tentu harus dibangun sebuah kesadaran bahwa bagaimanapun juga perbedaan, bahkan dalam hal-hal yang fundamental sekalipun, ukhuwah dan persatuan menjadi sebuah yang mendasar dalam proses kemenangan kolektif.
Perbedaan-perbedaan yang ada adalah bagian dari sunnatullah dalam pembentukan ummah wahidah (umat yang satu) ini. Jangan pernah bermimpi bahwa persatuan umat ini mengharuskan keragaman dalam pemikiran dan karya.
Lihat Juga :