Renungan: Mengupas Keburukan, Belajar dari Kisah Kaki Merak

Selasa, 13 April 2021 - 15:25 WIB
Ilustrasi/Ist
GADIS cantik itu bernama Ana. Begitulah kalangan lelaki muda di satu kantor perusahaan swasta mengenalnya. Mereka selalu membicarakan kemolekan gadis itu. Cerita tentang si gadis nan jelita itu mengalir tak habis-habisnya. Dia yang telah menikah mengatakan; "Andai aku masih muda, tentu akan kugaet dia..." Sedangkan mereka yang masih lajang, menganggap diri tak tampan, berkata, "Andai aku kaya maka akan kupersembahkan apa pun yang ia minta.." Seakan Ana akan kepincut harta bila tak sudi dengan tampangnya.

Baca juga: Renungan: Ramadhan Semoga Saja Tanpa Luka Amarah

Mereka seakan mengakui, sebagai insan pemimpi tak berdaya. Bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Sampai satu ketika mereka terkaget-laget tatkala seorang pria berkulit legam, pengendara sepeda motor tua, menjemputnya dari kantor. Seorang di antara mereka memberanikan diri bertanya: "Siapa cowok itu Ana?" dengan mantap Ana menjawab, "Cowok gue!"

Mereka bungkam seribu bahasa. Mereka salah dalam mengukur diri mereka sendiri. Mereka tenggelam oleh pesona kecantikan Ana. Mereka tak yakin bahwa mereka juga tampan dan layak untuk gadis secantik Ana.

Ada cerita bijak tentang burung mera k. Burung yang indah. Begitulah gambaran tentang merak. Dia sungguh cantik bila sedang manari. Bak bunga yang sedang mekar.

Mendengar tentang merak, hal pertama yang terlintas di pikiran kita adalah warna yang indah dari bulu burung ini. Biru, hijau, emas yang berkilau. Burung ini memiliki lambang, atau mahkota, di atas kepala mereka, membuat merak lebih anggun.

Baca juga: Renungan: Bergerak dari Satu Keinginan untuk Keinginan yang Lain

Ada tiga kategori; Merak Biru, Merak Hijau, Merak Putih. Semuanya cantik. Merak Biru mempunyai bulu berwarna biru gelap mengilap. Merak jantan dewasa berukuran besar, panjangnya dapat mencapai 230cm, dengan penutup ekor yang sangat panjang berwarna hijau metalik. Di atas kepalanya terdapat jambul tegak biru membentuk kipas.

Pada musim berbiak, burung jantan memamerkan bulu ekornya di depan burung betina. Bulu-bulu penutup ekor dibuka membentuk kipas dengan bintik berbentuk mata berwarna biru.

Menurut cerita, kendati merak adalah burung nan indah, tatkala ia melihat kakinya, ia merasa sedih dan menangis, "Mengapa kaki saya dibuat begitu jelek? Allah telah menciptakan tubuh saya bagus dan gemuk, tetapi Dia memberi saya kaki yang kurus dan hitam. Mengapa Dia tidak menciptakan kakiku agar serasi dengan tubuhku?"

Merak khawatir tentang kakinya. Ia sedih tentang lapisan tipis kulit hitam yang menutupi kakinya. Padahal di bawah kulit kakinya tidak hitam. Ia tidak menyadari hal ini. Dia begitu tatkala sedang menari, memamerkan warna-warna yang indah, tapi setelah itu, ia menggantung kepalanya dan tertekan, jika mengingat kakinya yang buruk.

Allah juga menciptakan manusia dalam berbagai warna. Ada warna mata, wajah, dan kulit yang berbeda. Rambut nan indah di kepala juga berbeda antarras. Manusia memiliki banyak jenis perbebedaan fisik dan itu justru menimbukan keindahan. Suara yang indah sampai gigi yang indah. Manusia adalah makhluk yang paling indah dari semua ciptaan.

Baca juga: Renungan: Kebahagiaan Dunia Materi Bak Sungai yang Tercemar
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!