Kisah Cinta Mengharukan Atikah dan Abdullah Putra Abu Bakar
Senin, 08 Juni 2020 - 18:16 WIB
Lapangnya hati Abdullah tiba-tiba sempit. Dan hanya mampu melafalkan Atikah. Atikah terlalu sempurna di mata Abdullah. Akhirnya Abu Bakar mengizinkan anaknya untuk kembali ke istrinya.
Kisah lainnya menyebutkan, ketika Nabi mengetahui masalah itu, dia membatalkan perceraian tersebut, dan dua orang kekasih itu dipertemukan kembali. Setelah itu, Abdullah sangat khusus menjaga agar cintanya kepada Atikah tidak menghalangi tugasnya kepada Islam.
Baca juga: Ketakutan Dengan Pasukan Muslim, Pihak Romawi Menarik Diri
Abdullah kembali menumpahkan bahagianya dalam untaian indah,
Duhai Atikah, sungguh ia telah aku ceraikan
Kini aku telah kembali atas perintah yang hadir
Begitulah keputusan Allah yang hadir dan pergi
Pada manusia baik nyaman ataupun tidak
Hatiku lenyap setiap kali mengingat perpisahan itu
Dan hatiku menjadi tenang kembali karena Allah telah mendekatkan kembali
Selamat untukmu, aku tak melihat ada murka-Nya
Dan engkau semakin istimewa
Engkau termasuk orang yang diindahkan oleh Allah
Dan tak ada yang mampu merusak sesuatu yang diindahkan Allah
Baca juga: Demi Allah, Lihatlah Tetangga, Jangan-jangan Dia Masak Batu
Peran dalam Hijrah Nabi
Abdullah bin Abi Bakar adalah tokoh yang patut dikenang. Putra Abu Bakar ini terlibat dalam upaya penyelamatan Rasulullah dan Abu Bakar saat hijrah ke Madinah. Tugas Abdullah tidak sederhana. Ia harus duduk seharian mendengarkan semua pembicaraan para pembesar Quraisy di Makkah tentang Rasul dan ayahnya yang sedang di dalam Gua Tsur.
Baca juga: Umar bin Khattab: Si Kidal Penggembala Unta dengan Ayah yang Pemarah
Di sore hari menjelang gelap malam ia harus berjalan menuju Gua Tsur yang terletak di sebelah selatan Makkah sejauh kurang lebih 4 km dengan ketinggian gua lebih dari 700 M di atas permukaan laut.
Perjalanan itu bertujuan memberitahu Rasul dan ayahnya tentang semua berita yang ada di Makkah. Esok pagi ia sudah harus ada di Makkah lagi untuk melakukan hal yang sama. Dan sore hari kembali berjalan ke arah Gua Tsur.
Selama tiga hari Nabi dan Abu Bakar menginap di Gua Tsur, itulah tugas Abdullah. Tentu sebuah perjuangan yang tidak ringan, melelahkan, dan berbahaya.
Baca Juga: Kisah Umar bin Khattab, Khalifah Kedua yang Ditakuti Setan
Keluarga Abu Bakar memang selalu istimewa. Dalam hijrah Nabi, keluarga Abu Bakar lah yang berperan. Anak-anak, pembantu hingga dirinya dilibatkan. Abdullah hadir dan dididik di dalam keluarga mulia itu.
Abdullah sang pejuang. Tak memiliki rasa takut walau bertaruh nyawa. Tak menyerah hanya karena lelah fisik dan gelap malam. Penuh perhitungan matang. Bergerak dan bergerak.
Baca juga: Pesan Nabi, Teladanilah Dua Orang Ini Sepeninggalku
Abdullah sang pecinta. Tak hanya hati yang dikuasai cinta. Akal, tangan, kaki bahkan seluruh hidupnya. Cinta membuatnya berhenti. Tak mampu bergerak. Tak terlihat pergerakan dahsyat yang dilakukannya saat malam hijrah itu. Cinta menghentikan gerak mulianya. Cinta menguasai akalnya. Cinta menguasai lisannya. Dan setiap saat hanya cinta dan cinta.
Baca juga: Dua Versi Tentang Kisah Masuknya Islam Umar Bin Khattab
Cinta memang bisa mengubah segalanya. Ibnu Hazm yang menulis kitab Fikih Al Muhalla, berubah seperti sosok yang berbeda ketika bicara tentang cinta dalam bukunya Thauqul Hamamah.
Begitu juga Ibnu Qayyim yang menghantam pemikiran sesat Jahmiyyah dan Mu’athilah dalam bukunya Ash Shawaiq Al Mursalah. Ia berubah seperti sosok yang berbeda ketika membahas cinta dalam bukunya Raudhatul Muhibbin.
Baca juga: Kisah Syahidnya Umar bin Khattab dan Kenaikan Pajak
Begitu juga Abdullah, pejuang hijrah, seakan sosok berbeda saat cinta Atikah. Itu adalah rasa yang dianugerahkan Allah. Yang terpenting semuanya tetap mulia.
Dalam semua dakwah yang dilakukan oleh Nabi setelah rujuk, Abdullah mengambil bagian aktif dan bertempur dengan gagah berani.
Kisah lainnya menyebutkan, ketika Nabi mengetahui masalah itu, dia membatalkan perceraian tersebut, dan dua orang kekasih itu dipertemukan kembali. Setelah itu, Abdullah sangat khusus menjaga agar cintanya kepada Atikah tidak menghalangi tugasnya kepada Islam.
Baca juga: Ketakutan Dengan Pasukan Muslim, Pihak Romawi Menarik Diri
Abdullah kembali menumpahkan bahagianya dalam untaian indah,
Duhai Atikah, sungguh ia telah aku ceraikan
Kini aku telah kembali atas perintah yang hadir
Begitulah keputusan Allah yang hadir dan pergi
Pada manusia baik nyaman ataupun tidak
Hatiku lenyap setiap kali mengingat perpisahan itu
Dan hatiku menjadi tenang kembali karena Allah telah mendekatkan kembali
Selamat untukmu, aku tak melihat ada murka-Nya
Dan engkau semakin istimewa
Engkau termasuk orang yang diindahkan oleh Allah
Dan tak ada yang mampu merusak sesuatu yang diindahkan Allah
Baca juga: Demi Allah, Lihatlah Tetangga, Jangan-jangan Dia Masak Batu
Peran dalam Hijrah Nabi
Abdullah bin Abi Bakar adalah tokoh yang patut dikenang. Putra Abu Bakar ini terlibat dalam upaya penyelamatan Rasulullah dan Abu Bakar saat hijrah ke Madinah. Tugas Abdullah tidak sederhana. Ia harus duduk seharian mendengarkan semua pembicaraan para pembesar Quraisy di Makkah tentang Rasul dan ayahnya yang sedang di dalam Gua Tsur.
Baca juga: Umar bin Khattab: Si Kidal Penggembala Unta dengan Ayah yang Pemarah
Di sore hari menjelang gelap malam ia harus berjalan menuju Gua Tsur yang terletak di sebelah selatan Makkah sejauh kurang lebih 4 km dengan ketinggian gua lebih dari 700 M di atas permukaan laut.
Perjalanan itu bertujuan memberitahu Rasul dan ayahnya tentang semua berita yang ada di Makkah. Esok pagi ia sudah harus ada di Makkah lagi untuk melakukan hal yang sama. Dan sore hari kembali berjalan ke arah Gua Tsur.
Selama tiga hari Nabi dan Abu Bakar menginap di Gua Tsur, itulah tugas Abdullah. Tentu sebuah perjuangan yang tidak ringan, melelahkan, dan berbahaya.
Baca Juga: Kisah Umar bin Khattab, Khalifah Kedua yang Ditakuti Setan
Keluarga Abu Bakar memang selalu istimewa. Dalam hijrah Nabi, keluarga Abu Bakar lah yang berperan. Anak-anak, pembantu hingga dirinya dilibatkan. Abdullah hadir dan dididik di dalam keluarga mulia itu.
Abdullah sang pejuang. Tak memiliki rasa takut walau bertaruh nyawa. Tak menyerah hanya karena lelah fisik dan gelap malam. Penuh perhitungan matang. Bergerak dan bergerak.
Baca juga: Pesan Nabi, Teladanilah Dua Orang Ini Sepeninggalku
Abdullah sang pecinta. Tak hanya hati yang dikuasai cinta. Akal, tangan, kaki bahkan seluruh hidupnya. Cinta membuatnya berhenti. Tak mampu bergerak. Tak terlihat pergerakan dahsyat yang dilakukannya saat malam hijrah itu. Cinta menghentikan gerak mulianya. Cinta menguasai akalnya. Cinta menguasai lisannya. Dan setiap saat hanya cinta dan cinta.
Baca juga: Dua Versi Tentang Kisah Masuknya Islam Umar Bin Khattab
Cinta memang bisa mengubah segalanya. Ibnu Hazm yang menulis kitab Fikih Al Muhalla, berubah seperti sosok yang berbeda ketika bicara tentang cinta dalam bukunya Thauqul Hamamah.
Begitu juga Ibnu Qayyim yang menghantam pemikiran sesat Jahmiyyah dan Mu’athilah dalam bukunya Ash Shawaiq Al Mursalah. Ia berubah seperti sosok yang berbeda ketika membahas cinta dalam bukunya Raudhatul Muhibbin.
Baca juga: Kisah Syahidnya Umar bin Khattab dan Kenaikan Pajak
Begitu juga Abdullah, pejuang hijrah, seakan sosok berbeda saat cinta Atikah. Itu adalah rasa yang dianugerahkan Allah. Yang terpenting semuanya tetap mulia.
Dalam semua dakwah yang dilakukan oleh Nabi setelah rujuk, Abdullah mengambil bagian aktif dan bertempur dengan gagah berani.
Lihat Juga :