Biografi Singkat Syaikh Nawawi Al-Bantani, Ulama Banten yang Mendunia
Rabu, 08 Februari 2023 - 15:22 WIB
loading...
Syaikh Nawawi Al-Bantani, ulama asal Banten yang pernah menjadi guru dan imam di Masjidil Haram Mekkah. Foto/dok referensimakalah
A
A
A
Syaikh Nawawi Al-Bantani (1813-1897) sosok ulama asal Banten yang mendunia karena keluasan ilmunya. Beliau pernah menjadi guru besar Haromain (Mekkah-Madinah) dan Imam di Masjidil Haram Mekkah.
Syaikh Nawawi memiliki julukan Al-Bantani karena berasal dari Banten Indonesia. Beliau dikenal sebagai ulama yang sangat produktif menulis kitab dan memiliki ratusan karya. Sebagian besar karyanya meliputi bidang ilmu fiqih, tafsir, tauhid, tasawuf dan juga ilmu hadits.
Kehidupan Awal
Syaikh Nawawi Al-Bantani memiliki nama lengkap Abu Abdul Mu'ti Muhammad Nawawi bin Umar Al-Jawi Al-Bantani. Atau lebih dikenal dengan sebutan Muhammad Nawawi Al-Jawi Al-Bantani. Dilahirkan di Kampung Tanara, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, Banten pada Tahun 1230 Hijriyah (1813 Masehi)
Ada yang menyebut beliau dengan nama Nawawi Banten, ada pula yang menyebutnya Nawawi Tanara, karena lahir di Kampung Tanara. Dalam sebagian bukunya tertulis nama Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi. Al-Jawi berarti orang Jawa atau orang dari pulau Jawa yang meliputi Banten. Ayah Nawawi bernama Umar bin Araby dan ibunya bernama Zubaidah.
Keduannya adalah penduduk asli Desa Tanara Serang Jawa Barat. Ayahnya seorang ulama pendiri dan pembina pertama-tama masjid jami' Desa Tanara itu dan pernah menjabat sebagai penghulu Kecamatan di daerah tersebut. Secara genologis, Syaikh Nawawi merupakan keturunan ke-12 dari Maulana syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) Cirebon.
Sejak kecil Syaikh Nawawi banyak belajar Al-Qur'an dan dasar-dasar ilmu agama Islam kepada ayahnya. Setelah belajar dengan ayahnya, beliau berguru kepada KH Sahal dan Raden Haji Yusuf selama enam tahun.
Setelah itu beliau kembali ke Tanara dan kemudian mulai berdakwah mengajarkan ilmu agama ke tengah masyarakat. Di usianya yang menginjak 15 tahun, Syaikh Nawawi menunaikan ibadah haji dan menimba ilmu kepada sejumlah ulama masyhur di Mekkah.
Setelah tiga tahun bermukim dan mempelajari ilmu agama di Mekkah, Syaikh Nawawi pulang ke Banten pada Tahun 1828. Sesampainya di Tanah Air, beliau menyaksikan penjajahan yang terjadi di wilayahnya.
Sejak saat itu, semangat jihad untuk membela kaum Muslimin di daerahnya pun menggelora. Terlebih ketika menyaksikan beberapa santrinya yang juga terkena imbas dari kekejaman penjajah.
Sebagai tokoh ulama yang dihormati, Syaikh Nawawi mengobarkan semangat untuk melawan penjajahan Belanda melalui khutbah. Hal ini membuat pihak Belanda mengawasi secara ketat atas pergerakan dari Syaikh Nawawi.
Syaikh Nawawi memiliki julukan Al-Bantani karena berasal dari Banten Indonesia. Beliau dikenal sebagai ulama yang sangat produktif menulis kitab dan memiliki ratusan karya. Sebagian besar karyanya meliputi bidang ilmu fiqih, tafsir, tauhid, tasawuf dan juga ilmu hadits.
Kehidupan Awal
Syaikh Nawawi Al-Bantani memiliki nama lengkap Abu Abdul Mu'ti Muhammad Nawawi bin Umar Al-Jawi Al-Bantani. Atau lebih dikenal dengan sebutan Muhammad Nawawi Al-Jawi Al-Bantani. Dilahirkan di Kampung Tanara, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, Banten pada Tahun 1230 Hijriyah (1813 Masehi)
Ada yang menyebut beliau dengan nama Nawawi Banten, ada pula yang menyebutnya Nawawi Tanara, karena lahir di Kampung Tanara. Dalam sebagian bukunya tertulis nama Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi. Al-Jawi berarti orang Jawa atau orang dari pulau Jawa yang meliputi Banten. Ayah Nawawi bernama Umar bin Araby dan ibunya bernama Zubaidah.
Keduannya adalah penduduk asli Desa Tanara Serang Jawa Barat. Ayahnya seorang ulama pendiri dan pembina pertama-tama masjid jami' Desa Tanara itu dan pernah menjabat sebagai penghulu Kecamatan di daerah tersebut. Secara genologis, Syaikh Nawawi merupakan keturunan ke-12 dari Maulana syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) Cirebon.
Sejak kecil Syaikh Nawawi banyak belajar Al-Qur'an dan dasar-dasar ilmu agama Islam kepada ayahnya. Setelah belajar dengan ayahnya, beliau berguru kepada KH Sahal dan Raden Haji Yusuf selama enam tahun.
Setelah itu beliau kembali ke Tanara dan kemudian mulai berdakwah mengajarkan ilmu agama ke tengah masyarakat. Di usianya yang menginjak 15 tahun, Syaikh Nawawi menunaikan ibadah haji dan menimba ilmu kepada sejumlah ulama masyhur di Mekkah.
Setelah tiga tahun bermukim dan mempelajari ilmu agama di Mekkah, Syaikh Nawawi pulang ke Banten pada Tahun 1828. Sesampainya di Tanah Air, beliau menyaksikan penjajahan yang terjadi di wilayahnya.
Sejak saat itu, semangat jihad untuk membela kaum Muslimin di daerahnya pun menggelora. Terlebih ketika menyaksikan beberapa santrinya yang juga terkena imbas dari kekejaman penjajah.
Sebagai tokoh ulama yang dihormati, Syaikh Nawawi mengobarkan semangat untuk melawan penjajahan Belanda melalui khutbah. Hal ini membuat pihak Belanda mengawasi secara ketat atas pergerakan dari Syaikh Nawawi.
Lihat Juga :