Begini Isi Surat Al-Fatih kepada Sultan Mesir tentang Penaklukan Konstantinopel
Senin, 20 Juli 2020 - 08:36 WIB
loading...
A
A
A
Maka tatkala kami berhasil menang atas orang-orang kafir ini, kami membersihkan busur panah kami dari rumah-rumah ibadah. Dan kami keluarkan dari gereja-gereja itu palang salib dan lonceng-lonceng gereja. Lalu kami jadikan tempat-tempat penyembahan berhala itu menjadi masjid-masjid kaum muslimin. Mulialah tempat-tempat itu dengan khutbah-khutbah. Terjadilah kehendak Allah dan gagallah apa yang mereka lakukan...” (Baca juga: Hagia Sophia dan Kehebatan Sultan Muhammad Al-Fatih )
Sultan Muhammad Al-Fatih juga mengirimkan surat kepada penguasa Makkah melalui penguasa Mesir. Sedangkan penguasa Mesir telah membalas surat Sultan Muhammad Al-Fatih dan hadiah-hadiahnya dengan untaian syair yang demikian indah dan mempesona. Di antaranya adalah bait-bait syair seperti di bawah ini:
Baca juga: Al-Fatih Siapkan 400 Kapal dan 250.000 Mujahid untuk Kuasai Konstantinopel
"Kau pinang dia saat masih perawan dan tak ada mahar yang kuberikan
kecuali pedang yang tajam, tombak dan pasukan-pasukan penunggang kuda
Barangsiapa yang menjadikan malam gulita sebagai maharnya
dia akan mendapatkan telur benteng itu sebagai tempat pelaminannya
Allah Mahabesar, tidaklah kau memetik buah ranumnya kecuali karena ayahmu telah menanam jauh sebelumnya
Baca juga: Ini Tokoh yang Makamnya Dimuliakan Sultan Muhammad Al-Fatih
Dalam surat penguasa Mesir juga terdapat bait-bait syair:
“Allah Mahabesar, inilah pertolongan dan keberhasilan
inilah kemenangan yang tidak pernah terbetik dalam pikiran.”
Salah seorang penyair Mesir berkata mengenai penaklukkan ini:
"Demikianlah, hendaklah dalam perjuangan ada semangat membakar
Jika tidak, tidak akan pernah kering sarung pedang yang ganas
Baca juga: Ketika Sultan Muhammad Al-Fatih Ubah Daratan Menjadi Lautan
Pasukanmu adalah laut, samudera adalah kuda yang kencang larinya
jika gelombang yang bergulung-gulung tidak segera berhenti geraknya
Yang mengelilingi panji-panji yang menunjukkan kemenangan
dia mendapat pertolongan, dukungan sebagai hamba dan pelayan
Wahai penolong Islam, Wahai orang yang dengan serbuannya
pada musuh-musuh kafir di hari-hari yang demikian mencekam
Bergembiralah dengan kemenangan yang menjadi buah bibir di seluruh bumi
Hujan berlalu digiring angin timur dan burung unta.” (Baca juga: Sejarah Hagia Sophia, antara Katedral Kristen Ortodoks dan Masjid )
Sultan Muhammad Al-Fatih juga mengirimkan surat kepada penguasa Makkah melalui penguasa Mesir. Sedangkan penguasa Mesir telah membalas surat Sultan Muhammad Al-Fatih dan hadiah-hadiahnya dengan untaian syair yang demikian indah dan mempesona. Di antaranya adalah bait-bait syair seperti di bawah ini:
Baca juga: Al-Fatih Siapkan 400 Kapal dan 250.000 Mujahid untuk Kuasai Konstantinopel
"Kau pinang dia saat masih perawan dan tak ada mahar yang kuberikan
kecuali pedang yang tajam, tombak dan pasukan-pasukan penunggang kuda
Barangsiapa yang menjadikan malam gulita sebagai maharnya
dia akan mendapatkan telur benteng itu sebagai tempat pelaminannya
Allah Mahabesar, tidaklah kau memetik buah ranumnya kecuali karena ayahmu telah menanam jauh sebelumnya
Baca juga: Ini Tokoh yang Makamnya Dimuliakan Sultan Muhammad Al-Fatih
Dalam surat penguasa Mesir juga terdapat bait-bait syair:
“Allah Mahabesar, inilah pertolongan dan keberhasilan
inilah kemenangan yang tidak pernah terbetik dalam pikiran.”
Salah seorang penyair Mesir berkata mengenai penaklukkan ini:
"Demikianlah, hendaklah dalam perjuangan ada semangat membakar
Jika tidak, tidak akan pernah kering sarung pedang yang ganas
Baca juga: Ketika Sultan Muhammad Al-Fatih Ubah Daratan Menjadi Lautan
Pasukanmu adalah laut, samudera adalah kuda yang kencang larinya
jika gelombang yang bergulung-gulung tidak segera berhenti geraknya
Yang mengelilingi panji-panji yang menunjukkan kemenangan
dia mendapat pertolongan, dukungan sebagai hamba dan pelayan
Wahai penolong Islam, Wahai orang yang dengan serbuannya
pada musuh-musuh kafir di hari-hari yang demikian mencekam
Bergembiralah dengan kemenangan yang menjadi buah bibir di seluruh bumi
Hujan berlalu digiring angin timur dan burung unta.” (Baca juga: Sejarah Hagia Sophia, antara Katedral Kristen Ortodoks dan Masjid )
(mhy)
Lihat Juga :