Wasiat Al-Fatih kepada Putranya (2): Berperang di Jalan Allah atau Mati Syahid
Kamis, 23 Juli 2020 - 11:58 WIB
loading...
A
A
A
Menurut Ash-Shalabi, Sultan Muhammad Al-Fatih dalam setiap peperangan, tidak melupakan dirinya sebagai seorang dai yang menyeru manusia ke jalan Islam. Dia selalu mendorong para komandan perang dan pasukannya untuk menyebarkan ajaran Islam.
Baca juga: Al-Fatih Kirim Hadiah dan Surat kepada Penguasa Makkah, Begini Isinya
Dia akan memberikan pujian terhadap setiap komandan yang mampu menaklukkan kota-kota dengan senjata mereka. Dia pernah memerintahkan komandan perangnya Umar bin Tharhan untuk memberangkan pasukan ke Athena, lalu dia mampu menguasainya, serta menjadikan wilayah itu sebagai bagian dari pemerintahan Utsmani.
Saat Sultan mengadakan lawatan ke kota itu dua tahun setelah penaklukkan, dia berkata, “Betapa besar utang Islam kepada Ibnu Tharhan."
Pemerintahan Utsmani begitu peduli terhadap penyebaran dakwah di Eropa. Seiring berlalunya waktu dan perkembangan zaman, jamaah-jamaah Islam mampu melakukan perlawanan terhadap semua bentuk usaha-usaha Nasranisasi yang dilakukan orang-orang Eropa. (Baca juga: Sembahyang Terakhir di Hagia Sophia, Kisah Haru Jelang Takluknya Konstantinopel )
Kelompok minoritas muslim sampai saat ini tetap eksis di Bulgaria, Rumania, Albania, Yunani, Yugoslavia yang jumlahnya mencapai jutaan manusia. Semua ini merupakan karunia Allah dan sebagai buah dari perjuangan Khilafah Turki Utsmani menyebarkan hidayah Islam ke Eropa.
Kepentingan Agama
“Kedepankan kepentingan agama atas kepentingan apa pun yang lain. Janganlah kamu lemah dan lalai dalam menegakkan agama," begitu wasiat keempat Sultan.
Baca juga: Ketika Sultan Muhammad Al-Fatih Ubah Daratan Menjadi Lautan
Ash-Shalabi mengatakan sesungguhnya para Sultan pemerintahan Utsmani sebelum dan sesudah Sultan Muhammad Al-Fatih, mereka tumbuh dan dididik dalam suasana keislaman yang kental dan murni. Keimanan mereka dibina dengan dasar-dasar akidah yang jelas dan tegas. Berangkat dari sinilah mereka memiliki ambisi dan kehormatan agama yang sangat tinggi.
Ungkapan paling populer ketika orang-orang Utsmani mulai keluar untuk melancarkan jihad fi sabilillah ialah; “Ghazi au syahid” (berperang di jalan Allah atau mendapatkan mati syahid),
Baca juga: Pecat Syaikh Kurani sebagai Hakim, Sultan Muhammad Al-Fatih Menyesal
Baca juga: Al-Fatih Kirim Hadiah dan Surat kepada Penguasa Makkah, Begini Isinya
Dia akan memberikan pujian terhadap setiap komandan yang mampu menaklukkan kota-kota dengan senjata mereka. Dia pernah memerintahkan komandan perangnya Umar bin Tharhan untuk memberangkan pasukan ke Athena, lalu dia mampu menguasainya, serta menjadikan wilayah itu sebagai bagian dari pemerintahan Utsmani.
Saat Sultan mengadakan lawatan ke kota itu dua tahun setelah penaklukkan, dia berkata, “Betapa besar utang Islam kepada Ibnu Tharhan."
Pemerintahan Utsmani begitu peduli terhadap penyebaran dakwah di Eropa. Seiring berlalunya waktu dan perkembangan zaman, jamaah-jamaah Islam mampu melakukan perlawanan terhadap semua bentuk usaha-usaha Nasranisasi yang dilakukan orang-orang Eropa. (Baca juga: Sembahyang Terakhir di Hagia Sophia, Kisah Haru Jelang Takluknya Konstantinopel )
Kelompok minoritas muslim sampai saat ini tetap eksis di Bulgaria, Rumania, Albania, Yunani, Yugoslavia yang jumlahnya mencapai jutaan manusia. Semua ini merupakan karunia Allah dan sebagai buah dari perjuangan Khilafah Turki Utsmani menyebarkan hidayah Islam ke Eropa.
Kepentingan Agama
“Kedepankan kepentingan agama atas kepentingan apa pun yang lain. Janganlah kamu lemah dan lalai dalam menegakkan agama," begitu wasiat keempat Sultan.
Baca juga: Ketika Sultan Muhammad Al-Fatih Ubah Daratan Menjadi Lautan
Ash-Shalabi mengatakan sesungguhnya para Sultan pemerintahan Utsmani sebelum dan sesudah Sultan Muhammad Al-Fatih, mereka tumbuh dan dididik dalam suasana keislaman yang kental dan murni. Keimanan mereka dibina dengan dasar-dasar akidah yang jelas dan tegas. Berangkat dari sinilah mereka memiliki ambisi dan kehormatan agama yang sangat tinggi.
Ungkapan paling populer ketika orang-orang Utsmani mulai keluar untuk melancarkan jihad fi sabilillah ialah; “Ghazi au syahid” (berperang di jalan Allah atau mendapatkan mati syahid),
Baca juga: Pecat Syaikh Kurani sebagai Hakim, Sultan Muhammad Al-Fatih Menyesal
Lihat Juga :