Ini Dia Tokoh yang Ubah Hagia Sophia dari Masjid Menjadi Museum
Jum'at, 24 Juli 2020 - 13:47 WIB
loading...
A
A
A
Semasa belajar, Mustafa sudah mulai kenal dengan politik melalui seorang temannya bernama Ali Fethi. Temannya ini mendorongnya untuk memperkuat dan memperdalam pemikiran filosof-filosof Prancis seperti Rousseau, Voltaire, Auguste Comte, Montesquieu dan banyak lagi.
Menikah Lalu Cerai
Mukti Ali menulis saat menginjak masa dewasanya, Mustafa Kemal menikahi seorang wanita cantik yang berpendidikan Eropa yang bernama Latifah Hanim, putri dari Usakizade Muammer seorang pedagang kayu dari Izmir.
Baca juga: Begini Cara Sultan Muhammad Al-Fatih Memuliakan Ulama
Kota Izmir adalah sebuah kota metropolitan yang terletak di ujung barat Anatolia dan merupakan kota terbesar ketiga di Turki setelah Istanbul dan Ankara.
Menurut Maryam Jameel, perkawinan mereka tidak berumur panjang dan berakhir dengan perceraian. Itu semua terjadi karena Mustafa Kemal memaksa dan menganjurkan Latifah untuk berpakaian seorang laki-laki dan menuntut persamaan hak bagi kaum wanita.
Jelas sekali ini adalah menentang kepribadian Latifah yang kental akan keislamannya sehingga ia sontak menuntut agar dapat diperlakukan seperti wanita terhormat bahkan ia sampai mengutuk apabila kehormatan wanita itu diinjak-injak.
Baca juga: Konstantinopel Jadi Islambul: Al-Fatih Berambisi Jadikan Ibu Kota Terindah di Dunia
Dari peristiwa ini kesetian Mustafa meluntur dan marah besar. Dengan perasaan yang amat marah iapun menceraikan dan mengusir Latifah. Setelah kejadian itu ia kembali berkumpul dengan minum-minuman keras bahkan sampai menjadi pemabuk yang berat.
Erik Zucher dalam Sejarah Moodern Turki (Penj. Karisdi Diningrat R.) memaparkan dengan sikap dan sifat Mustafa yang serampangan, pada tahun 1937-1938 ia mengalami kondisi kesehatan yang semakin menurun.
Sekitar awal tahun 1937 ia telah menderita penyakit Cyrhosis Liveryang amat parah. Namun penyakitnya baru dapat didiagnosa sekitar awal tahun 1938 dan sejak itu sekitar bulan Maret kesehatannya semakin menurun drastis, banyak penyakit yang ia alami namun dirahasiakan dari publik.
Baca juga: Al-Fatih Siapkan 400 Kapal dan 250.000 Mujahid untuk Kuasai Konstantinopel
Menurut beberapa buku sejarah, kematian Kemal dikarenakan akibat over dosis minuman keras. Ditambah lagi dengan berbagai penyakit seperti penyakit kelamin, malaria, sakit ginjal dan lever.
Dia meninggal dunia pada 10 November 1938, kulit di badannya rusak dengan cepat dan díganggu pula oleh penyakit gatal-gatal. Dokter sudah memberi bermacam-macam salep untuk diusap pada kakinya yang sudah banyak luka-luka karena tergaruk oleh kukunya.
Ia meninggalkan keluarganya di antaranya yaitu Makbule Hanim saudara perempuannya dan Sabihe seorang anak pungutnya.
Menurut Erik Zucher, jenazah Attaturk dibawa ke Ankara untuk sementara disemayamkan di Museum Etnografi. Kemudian pada tahun 1953 jenazahnya dipindahkan ke sebuah Mausoleum yang dibangun dibukit di pinggir kota. (Baca juga: Sujud Syukur Dunia Islam Sambut Kemenangan Al-Fatih, Hagia Sophia Jadi Masjid )
Menikah Lalu Cerai
Mukti Ali menulis saat menginjak masa dewasanya, Mustafa Kemal menikahi seorang wanita cantik yang berpendidikan Eropa yang bernama Latifah Hanim, putri dari Usakizade Muammer seorang pedagang kayu dari Izmir.
Baca juga: Begini Cara Sultan Muhammad Al-Fatih Memuliakan Ulama
Kota Izmir adalah sebuah kota metropolitan yang terletak di ujung barat Anatolia dan merupakan kota terbesar ketiga di Turki setelah Istanbul dan Ankara.
Menurut Maryam Jameel, perkawinan mereka tidak berumur panjang dan berakhir dengan perceraian. Itu semua terjadi karena Mustafa Kemal memaksa dan menganjurkan Latifah untuk berpakaian seorang laki-laki dan menuntut persamaan hak bagi kaum wanita.
Jelas sekali ini adalah menentang kepribadian Latifah yang kental akan keislamannya sehingga ia sontak menuntut agar dapat diperlakukan seperti wanita terhormat bahkan ia sampai mengutuk apabila kehormatan wanita itu diinjak-injak.
Baca juga: Konstantinopel Jadi Islambul: Al-Fatih Berambisi Jadikan Ibu Kota Terindah di Dunia
Dari peristiwa ini kesetian Mustafa meluntur dan marah besar. Dengan perasaan yang amat marah iapun menceraikan dan mengusir Latifah. Setelah kejadian itu ia kembali berkumpul dengan minum-minuman keras bahkan sampai menjadi pemabuk yang berat.
Erik Zucher dalam Sejarah Moodern Turki (Penj. Karisdi Diningrat R.) memaparkan dengan sikap dan sifat Mustafa yang serampangan, pada tahun 1937-1938 ia mengalami kondisi kesehatan yang semakin menurun.
Sekitar awal tahun 1937 ia telah menderita penyakit Cyrhosis Liveryang amat parah. Namun penyakitnya baru dapat didiagnosa sekitar awal tahun 1938 dan sejak itu sekitar bulan Maret kesehatannya semakin menurun drastis, banyak penyakit yang ia alami namun dirahasiakan dari publik.
Baca juga: Al-Fatih Siapkan 400 Kapal dan 250.000 Mujahid untuk Kuasai Konstantinopel
Menurut beberapa buku sejarah, kematian Kemal dikarenakan akibat over dosis minuman keras. Ditambah lagi dengan berbagai penyakit seperti penyakit kelamin, malaria, sakit ginjal dan lever.
Dia meninggal dunia pada 10 November 1938, kulit di badannya rusak dengan cepat dan díganggu pula oleh penyakit gatal-gatal. Dokter sudah memberi bermacam-macam salep untuk diusap pada kakinya yang sudah banyak luka-luka karena tergaruk oleh kukunya.
Ia meninggalkan keluarganya di antaranya yaitu Makbule Hanim saudara perempuannya dan Sabihe seorang anak pungutnya.
Menurut Erik Zucher, jenazah Attaturk dibawa ke Ankara untuk sementara disemayamkan di Museum Etnografi. Kemudian pada tahun 1953 jenazahnya dipindahkan ke sebuah Mausoleum yang dibangun dibukit di pinggir kota. (Baca juga: Sujud Syukur Dunia Islam Sambut Kemenangan Al-Fatih, Hagia Sophia Jadi Masjid )
(mhy)
Lihat Juga :