Syaikh Al-Qardhawi: Hati-Hati Membelanjakan Uang Negara!
Minggu, 02 Juli 2023 - 05:15 WIB
loading...
Syaikh Yusuf Al-Qardhawi. Foto/Ilustrasi: MEE
A
A
A
Syaikh Yusuf al-Qardhawi mengatakan apabila kesederhanaan itu dituntut dalam pengeluaran seseorang terhadap dirinya, maka ia juga dituntut dalam anggaran belanja negara, mulai dari kepala negara kemudian orang di bawahnya.
"Bahkan sepatutnya bagi imam kaum Muslimin, baik Amir atau Rais mereka hendaknya menjadi uswah (teladan) bagi umat dalam hal kehati-hatian penggunaan uang negara dan memperkecil fenomena kemewahan dan foya-foya," ujar al-Qardhawi dalam kitabnya berjudul "Malaamihu Al Mujtama' Al Muslim Alladzi Nasyuduh" yang dalam edisi Indonesia menjadi "Sistem Masyarakat Islam dalam Al Qur'an & Sunnah" (Citra Islami Press, 1997).
Rasulullah SAW sebagai imam kaum muslimin adalah orang yang pertama kali merasakan lapar di saat umat menderita kelaparan dan yang terakhir kali merasakan kenyang di saat mereka dalam kemakmuran.
Aisyah ra berkata, "Rasulullah SAW tidak pernah kenyang sepanjang tiga hari berturut-turut. Kalau seandainya kami mau pasti kami kenyang, akan tetapi beliau selalu mengutamakan orang lain daripada dirinya (sendiri)" (HR Baihaqi)
Abu Hurairah ra berkata, "Rasulullah SAW keluar dari dunia (wafat) dan beliau belum pernah kenyang dari roti gandum" (HR Bukhari dan Tirmidzi)
Baca juga: Mengapa Orang Beriman Menyukai Hidup Sederhana?
Rasulullah menolak untuk mengambil alas tidur yang enak (empuk), dan bantal beliau terbuat dari kulit pohon. Beliau juga tidur di atas tikar sampai membekas di lambungnya, beliau wafat dengan mengenakan pakaian yang sudah lusuh dan sarung yang kasar.
Demikian juga Abu Bakar, Umar dan Ali ra, hingga Umar pernah berkata, "Saya dengan harta ini tidak lain kecuali seperti wali anak yatim, jika saya sudah cukup, maka saya berhati-hati, tetapi jika saya memerlukannya maka saya memakannya dengan ma'ruf (baik)."
Al-Qardhawi mengatakan kita tidak menginginkan bahwa pemimpin dan amir kita harus persis seperti mereka, tetapi kita ingin dari para pemimpin itu hendaknya bertakwa kepada Allah dalam menggunakan harta milik umum. Tidak memihak dengan harta itu kepada istri dan sanak kerabat serta orang-orang yang loyal kepadanya dari para penjilat.
Sesungguhnya kebanyakan dari raja-raja (para pemimpin) dan amir di negeri-negeri Islam mengira bahwa harta negara itu adalah milik mereka, sehingga mereka pergunakan semaunya. "Sedikit sekali dari kalangan mereka orang yang mau menghisab (menghitung) amal perbuatannya," ujar al-Qardhawi.
"Bahkan sepatutnya bagi imam kaum Muslimin, baik Amir atau Rais mereka hendaknya menjadi uswah (teladan) bagi umat dalam hal kehati-hatian penggunaan uang negara dan memperkecil fenomena kemewahan dan foya-foya," ujar al-Qardhawi dalam kitabnya berjudul "Malaamihu Al Mujtama' Al Muslim Alladzi Nasyuduh" yang dalam edisi Indonesia menjadi "Sistem Masyarakat Islam dalam Al Qur'an & Sunnah" (Citra Islami Press, 1997).
Rasulullah SAW sebagai imam kaum muslimin adalah orang yang pertama kali merasakan lapar di saat umat menderita kelaparan dan yang terakhir kali merasakan kenyang di saat mereka dalam kemakmuran.
Aisyah ra berkata, "Rasulullah SAW tidak pernah kenyang sepanjang tiga hari berturut-turut. Kalau seandainya kami mau pasti kami kenyang, akan tetapi beliau selalu mengutamakan orang lain daripada dirinya (sendiri)" (HR Baihaqi)
Abu Hurairah ra berkata, "Rasulullah SAW keluar dari dunia (wafat) dan beliau belum pernah kenyang dari roti gandum" (HR Bukhari dan Tirmidzi)
Baca juga: Mengapa Orang Beriman Menyukai Hidup Sederhana?
Rasulullah menolak untuk mengambil alas tidur yang enak (empuk), dan bantal beliau terbuat dari kulit pohon. Beliau juga tidur di atas tikar sampai membekas di lambungnya, beliau wafat dengan mengenakan pakaian yang sudah lusuh dan sarung yang kasar.
Demikian juga Abu Bakar, Umar dan Ali ra, hingga Umar pernah berkata, "Saya dengan harta ini tidak lain kecuali seperti wali anak yatim, jika saya sudah cukup, maka saya berhati-hati, tetapi jika saya memerlukannya maka saya memakannya dengan ma'ruf (baik)."
Al-Qardhawi mengatakan kita tidak menginginkan bahwa pemimpin dan amir kita harus persis seperti mereka, tetapi kita ingin dari para pemimpin itu hendaknya bertakwa kepada Allah dalam menggunakan harta milik umum. Tidak memihak dengan harta itu kepada istri dan sanak kerabat serta orang-orang yang loyal kepadanya dari para penjilat.
Sesungguhnya kebanyakan dari raja-raja (para pemimpin) dan amir di negeri-negeri Islam mengira bahwa harta negara itu adalah milik mereka, sehingga mereka pergunakan semaunya. "Sedikit sekali dari kalangan mereka orang yang mau menghisab (menghitung) amal perbuatannya," ujar al-Qardhawi.
Lihat Juga :