Tradisi Alkimia Masuk ke Barat Melalui Sumber-Sumber Arab
Kamis, 06 Agustus 2020 - 12:34 WIB
loading...
A
A
A
"Masalah pengetahuan Ilahiyah itu begitu dalam sehingga hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang mengalaminya. Seorang bocah tidak mungkin memahami jangkauan pengetahuan seorang dewasa yang sebenarnya. Seorang dewasa yang awam tidak mungkin memahami pencapaian seorang yang terdidik. Demikian pula seorang yang terdidik tidak mungkin memahami pengalaman-pengalaman para wali yang tercerahkan atau para sufi."
Baca juga: Imam Al-Ghazali (1): Karya-Karyanya Tak Hanya Mendahului Zamannya
Ihya' mengandung penjelasan-penjelasan yang sangat penting dengan cinta ideal sufi. Adapun perumpamaan manusia dengan sesamanya atau dengan makhluk seringkali digunakan.
Dengan mengutip guru Sufi Malik bin Dinar, al-Ghazali menyatakan dalam Ihya', Jilid IV "Seperti burung sejenis terbang bersama-sama, dua orang mempunyai kemampuan umum yang sama akan bergabung."
Baca juga: Imam Al-Ghazali (2): Tarekat sampai Untung dan Rugi )
Al-Ghazali menjelaskan bahwa suatu "(pemakaian) pembauran dari (kata) seekor babi, seekor anjing, setan dan seorang wali" adalah titik pijak yang tidak lazim bagi pikiran yang berusaha mencapai pemahaman yang mendalam tentang hal-ihwal, dan pembauran ini tidak dapat dipahami melalui definisi. "Anda harus berhenti memandang sebuah bantal apabila sedang mencoba melihat sebuah lampu."
Baca juga: Inilah Pujian Ulama kepada Imam Al-Ghazali
Cara pembauran banyak hal adalah dibenarkan, sementara metode refleksi yang khas melalui pencerminan (penyamaan) ini harus dipahami dan dipraktikkan. Metode tersebut adalah pengetahuan sekaligus praktik yang merupakan hasil spesialisasi sufi.
Menurut Idries Shah, teknik-teknik sufisme tertentu untuk mencapai kemampuan mempelajari dan pembelajaran itu sendiri, seperti hikmah yang merupakan pencapaian terakhir, adalah hasil pendekatan kongkret. “Ada banyak tingkat pengetahuan," tandas al-Ghazali. "Manusia secara fisik semata laksana semut berjalan di atas kertas, yang mengamati tulisan tinta dan hanya menghubungkan penulisannya dengan pena." (Kimiyya'us-Sa'adah).
Baca juga: Kenapa Imam Al-Ghazali Digelari Hujjatul Islam?
Apa hasil spesialisasi ini, selama dunia menjadi perhatian? Al-Ghazali menjawab dengan istilah-istilah khusus dalam Kimiyya. Sebagian orang mengendalikan tubuh mereka sendiri. "Para individu yang mencapai puncak kemampuan tertentu itu (mampu) mengendalikan tubuh mereka sendiri, demikian pula terhadap orang lain. Seandainya sebuah cacat di tubuh mereka ingin dipulihkan, maka ia tentu memulihkannya ... Mereka mempunyai daya tarik atas orang lain karena suatu pengaruh kehendak." (Bersambung)
Baca juga: Imam Al-Ghazali (1): Karya-Karyanya Tak Hanya Mendahului Zamannya
Ihya' mengandung penjelasan-penjelasan yang sangat penting dengan cinta ideal sufi. Adapun perumpamaan manusia dengan sesamanya atau dengan makhluk seringkali digunakan.
Dengan mengutip guru Sufi Malik bin Dinar, al-Ghazali menyatakan dalam Ihya', Jilid IV "Seperti burung sejenis terbang bersama-sama, dua orang mempunyai kemampuan umum yang sama akan bergabung."
Baca juga: Imam Al-Ghazali (2): Tarekat sampai Untung dan Rugi )
Al-Ghazali menjelaskan bahwa suatu "(pemakaian) pembauran dari (kata) seekor babi, seekor anjing, setan dan seorang wali" adalah titik pijak yang tidak lazim bagi pikiran yang berusaha mencapai pemahaman yang mendalam tentang hal-ihwal, dan pembauran ini tidak dapat dipahami melalui definisi. "Anda harus berhenti memandang sebuah bantal apabila sedang mencoba melihat sebuah lampu."
Baca juga: Inilah Pujian Ulama kepada Imam Al-Ghazali
Cara pembauran banyak hal adalah dibenarkan, sementara metode refleksi yang khas melalui pencerminan (penyamaan) ini harus dipahami dan dipraktikkan. Metode tersebut adalah pengetahuan sekaligus praktik yang merupakan hasil spesialisasi sufi.
Menurut Idries Shah, teknik-teknik sufisme tertentu untuk mencapai kemampuan mempelajari dan pembelajaran itu sendiri, seperti hikmah yang merupakan pencapaian terakhir, adalah hasil pendekatan kongkret. “Ada banyak tingkat pengetahuan," tandas al-Ghazali. "Manusia secara fisik semata laksana semut berjalan di atas kertas, yang mengamati tulisan tinta dan hanya menghubungkan penulisannya dengan pena." (Kimiyya'us-Sa'adah).
Baca juga: Kenapa Imam Al-Ghazali Digelari Hujjatul Islam?
Apa hasil spesialisasi ini, selama dunia menjadi perhatian? Al-Ghazali menjawab dengan istilah-istilah khusus dalam Kimiyya. Sebagian orang mengendalikan tubuh mereka sendiri. "Para individu yang mencapai puncak kemampuan tertentu itu (mampu) mengendalikan tubuh mereka sendiri, demikian pula terhadap orang lain. Seandainya sebuah cacat di tubuh mereka ingin dipulihkan, maka ia tentu memulihkannya ... Mereka mempunyai daya tarik atas orang lain karena suatu pengaruh kehendak." (Bersambung)
(mhy)
Lihat Juga :