Apa Jawaban Jika Ada yang Bertanya, Apakah Engkau Mencintai Tuhan?
Sabtu, 08 Agustus 2020 - 08:24 WIB
loading...
Ilustrasi/Ist
A
A
A
Idries Shah dalam The Sufis yang diterjemahkan M. Hidayatullah dan Roudlon, S.Ag. menjadi Mahkota Sufi : Menembus Dunia Ekstra Dimensi, mengatakan wawasan kalangan Deistis [kalangan yang percaya kepada Tuhan secara alamiah atau secara kultural (Deisme)] yang disebut pengalaman mistik itu, yang sama sekali tidak menghasilkan pengetahuan unggul dan hanya merupakan suatu bentuk (pengalaman) yang memabukkan, bukanlah satu-satunya pengalaman yang berusaha dilukiskan oleh Imam Al-Ghazali .
Baca juga: Pada Fase Tertentu Manusia Dapat Terbang dengan Kekuatannya Sendiri
Setidaknya ia cenderung menerima anggapan bahwa ada semacam perasukan Ilahi ke dalam diri manusia. Namun, seluruh penyampaian (pengalaman) lewat upaya penyulihan dengan sarana 'kata', yang secara adequate (memadai-makna) tidak akan terpenuhi, telah ditiadakan, bahkan mungkin ditentang.
Baca juga: Inilah Pujian Ulama kepada Imam Al-Ghazali
Seorang sufi , pengulas al-Ghazali, mencatat bahwa hal-ihwal yang merupakan pengalaman komprehensif, "tidak dapat dikandungi (dilingkupi) dengan ungkapan secara lisan, lebih-lebih lagi apabila ia menganggap gambar buah di kertas dapat dimakan atau mengandung gizi."
Upaya kalangan cendekiawan atau eksternalis (zhahiriyah) dalam memahami sesuatu -- seolah-olah ia "mengetahui"-nya -- dengan memaksakan pemakaian sesuatu yang berada "di seberang", adalah "seperti seseorang yang bercermin, membayangkan bahwa wajahnya sama dengan kesan (bayangan) yang ada di cermin". (Baca juga: Tradisi Alkimia Masuk ke Barat Melalui Sumber-Sumber Arab )
Dalam pertemuan para darwis, ada semacam kejang ekstase dan tanda-tanda lain tentang pengalaman atau keadaan yang menyimpang.
Baca juga: Imam Al-Ghazali dari Persia, Sang Pembela Islam
Al-Ghazali mengutip bahwa satu kali Syekh Junaid yang Agung menegur seorang pemuda yang mengalami "ceracau/kegilaan" pada suatu pertemuan Sufi. "Jangan pernah lakukan itu lagi, atau tinggalkan majelisku!" tandas Junaid kepadanya.
Kepercayaan Sufi adalah, bahwa peristiwa semacam itu yang mungkin berasal dari perubahan-perubahan batin adalah semu atau emosional semata. Adapun pengalaman yang sejati tidak menimbulkan gejala fisik sedemikian itu, baik berupa "ungkapan secara lisan" atau bergulir-gulir di lantai.
Baca juga: Pada Fase Tertentu Manusia Dapat Terbang dengan Kekuatannya Sendiri
Setidaknya ia cenderung menerima anggapan bahwa ada semacam perasukan Ilahi ke dalam diri manusia. Namun, seluruh penyampaian (pengalaman) lewat upaya penyulihan dengan sarana 'kata', yang secara adequate (memadai-makna) tidak akan terpenuhi, telah ditiadakan, bahkan mungkin ditentang.
Baca juga: Inilah Pujian Ulama kepada Imam Al-Ghazali
Seorang sufi , pengulas al-Ghazali, mencatat bahwa hal-ihwal yang merupakan pengalaman komprehensif, "tidak dapat dikandungi (dilingkupi) dengan ungkapan secara lisan, lebih-lebih lagi apabila ia menganggap gambar buah di kertas dapat dimakan atau mengandung gizi."
Upaya kalangan cendekiawan atau eksternalis (zhahiriyah) dalam memahami sesuatu -- seolah-olah ia "mengetahui"-nya -- dengan memaksakan pemakaian sesuatu yang berada "di seberang", adalah "seperti seseorang yang bercermin, membayangkan bahwa wajahnya sama dengan kesan (bayangan) yang ada di cermin". (Baca juga: Tradisi Alkimia Masuk ke Barat Melalui Sumber-Sumber Arab )
Dalam pertemuan para darwis, ada semacam kejang ekstase dan tanda-tanda lain tentang pengalaman atau keadaan yang menyimpang.
Baca juga: Imam Al-Ghazali dari Persia, Sang Pembela Islam
Al-Ghazali mengutip bahwa satu kali Syekh Junaid yang Agung menegur seorang pemuda yang mengalami "ceracau/kegilaan" pada suatu pertemuan Sufi. "Jangan pernah lakukan itu lagi, atau tinggalkan majelisku!" tandas Junaid kepadanya.
Kepercayaan Sufi adalah, bahwa peristiwa semacam itu yang mungkin berasal dari perubahan-perubahan batin adalah semu atau emosional semata. Adapun pengalaman yang sejati tidak menimbulkan gejala fisik sedemikian itu, baik berupa "ungkapan secara lisan" atau bergulir-gulir di lantai.
Lihat Juga :