Jejak Geert Wilders Pembenci Islam Berhubungan Erat dengan Rezim Israel
Senin, 11 Desember 2023 - 07:29 WIB
loading...
Geert Wilders. Foto/Ilustrasi: Al Jazeera
A
A
A
Geert Wilders adalah pembenci Islam dengan produknya "Fitna". Calon Perdana Menteri Belanda yang paling kuat ini memiliki hubungan erat dengan rezim Israel .
Press TV melaporkan Wilders menghabiskan masa mudanya di wilayah pendudukan dan sering mengunjungi Tel Aviv selama bertahun-tahun. Bahkan selama berkarir di partai VVD, ia menyatakan simpati terhadap politik Israel dan memperingatkan tentang dugaan ancaman program rudal balistik Iran .
Awalnya, dia mendorong perdamaian Israel-Palestina dan mengkritik pemimpin Israel saat itu Ariel Sharon. Semua ini membantu Wilders menjauhkan diri dari fasisme, yang berakibat fatal bagi partai-partai populis Belanda sebelumnya.
Baca juga: Profil Geert Wilders, Penghina Nabi Muhammad dari Belanda
Pada fase transisi neokonservatif, ia menjadi sangat radikal dan mulai secara terbuka mendorong serangan militer terhadap Iran dan Suriah, negara-negara yang paling ditakuti oleh rezim tersebut.
Radikalisasi yang lebih drastis terjadi setelah berdirinya Partai Kebebasan (PVV) ketika partai tersebut menjadi dekat dengan neo-Zionis dan pemukim Israel, terutama Avigdor Lieberman dari Yisrael Beiteinu dan Aryeh Eldad dari Hatikva dan National Union (HH).
Dia tiba-tiba mulai menyebut Israel sebagai “benteng peradaban”, menganjurkan aneksasi Israel atas Tepi Barat yang diduduki dan deportasi seluruh warga Palestina ke Yordania.
Filmnya "Fitna" mengaitkan Islam dengan terorisme, kebencian terhadap wanita, kekerasan dan eksklusivitas agama, dengan menggunakan berbagai manipulasi, penipuan dan informasi yang salah.
Film ini diputar di Kanada melalui organisasi Zionis lokal, termasuk Liga Pertahanan Yahudi (JDL), serta di Menachem Begin Memorial Center di Yerusalem di bawah naungan Ariel Center for Policy Research (ACPR).
Baca juga: 3 Fase Perkembangan Ideologi Geert Wilders sang Pembenci Islam
Press TV melaporkan Wilders menghabiskan masa mudanya di wilayah pendudukan dan sering mengunjungi Tel Aviv selama bertahun-tahun. Bahkan selama berkarir di partai VVD, ia menyatakan simpati terhadap politik Israel dan memperingatkan tentang dugaan ancaman program rudal balistik Iran .
Awalnya, dia mendorong perdamaian Israel-Palestina dan mengkritik pemimpin Israel saat itu Ariel Sharon. Semua ini membantu Wilders menjauhkan diri dari fasisme, yang berakibat fatal bagi partai-partai populis Belanda sebelumnya.
Baca juga: Profil Geert Wilders, Penghina Nabi Muhammad dari Belanda
Pada fase transisi neokonservatif, ia menjadi sangat radikal dan mulai secara terbuka mendorong serangan militer terhadap Iran dan Suriah, negara-negara yang paling ditakuti oleh rezim tersebut.
Radikalisasi yang lebih drastis terjadi setelah berdirinya Partai Kebebasan (PVV) ketika partai tersebut menjadi dekat dengan neo-Zionis dan pemukim Israel, terutama Avigdor Lieberman dari Yisrael Beiteinu dan Aryeh Eldad dari Hatikva dan National Union (HH).
Dia tiba-tiba mulai menyebut Israel sebagai “benteng peradaban”, menganjurkan aneksasi Israel atas Tepi Barat yang diduduki dan deportasi seluruh warga Palestina ke Yordania.
Filmnya "Fitna" mengaitkan Islam dengan terorisme, kebencian terhadap wanita, kekerasan dan eksklusivitas agama, dengan menggunakan berbagai manipulasi, penipuan dan informasi yang salah.
Film ini diputar di Kanada melalui organisasi Zionis lokal, termasuk Liga Pertahanan Yahudi (JDL), serta di Menachem Begin Memorial Center di Yerusalem di bawah naungan Ariel Center for Policy Research (ACPR).
Baca juga: 3 Fase Perkembangan Ideologi Geert Wilders sang Pembenci Islam
Lihat Juga :