Ketika Nashruddin Membagi-bagi Uang kepada Katak
Sabtu, 29 Agustus 2020 - 07:04 WIB
loading...
A
A
A
(Baca juga: Pertanyaannya Tentang Langit, Jawabannya tentang Tali )
Ketika persepsi seseorang meningkat, maka begitu juga kekuatan memeras nutrisi dari cerita-cerita Nashruddin. Cerita-cerita ini memberikan kepada para pemula sesuatu yang oleh para Sufi disebut sebagai "hantaman" -- dampak yang telah dihitung yang beroperasi dengan cara khusus, untuk mempersiapkan pikiran bagi upaya Sufi.
Dilihat sebagai nutrisi, hantaman Nashruddin disebut sebagai buah kelapa. Istilah ini diambil dari pernyataan Sufi, "Seekor kera melemparkan sebuah kelapa dari pucuk pohon kepada seorang Sufi yang kelaparan, dan buah tersebut mengenai kakinya. Ia mengambilnya, meminum airnya, memakan dagingnya, dan membuat sebuah mangkuk dari tempurungnya."
Baca juga: Mullah Nashruddin Masuk Jebakan Kepala Biara
Singkatnya, mereka memenuhi fungsi hantaman harfiah yang terjadi dalam salah satu kisah Nashruddin tersingkat:
Nashruddin menyerahkan sebuah timba kepada seorang anak, menyatakan kepadanya untuk menimba air dari sumur dan kemudian menjewer telinganya. "Dan ingat, jangan engkau jatuhkan!" teriaknya.
Seorang yang melihat hal itu berkata, "Bagaimana Anda bisa memukul seseorang yang tidak melakukan kesalahan?"
"Aku menduga," ucap Nashruddin, "bahwa engkau lebih suka aku memukulnya setelah ia memecahkan timba, ketika timba dan airnya sama-sama hilang? Dengan caraku tersebut si anak akan ingat, dan timba serta isinya juga aman." Baca juga: Mullah Nashruddin Membawa Sapi Tua ke Sebuah Lomba Pacuan Kuda
Karena Sufisme merupakan suatu kerja komprehensif, maka bukan saja Salik yang harus belajar, seperti si anak. Kerja tersebut, seperti timba dan air, memiliki aturan-aturannya sendiri, di luar metode-metode duniawi dari seni dan ilmu pengetahuan (positif).
Tidak seorang pun mampu menempuh suatu jalan Sufi, kecuali jika memiliki potensi untuk hal itu. Jika ia mencoba melakukannya, kemungkinan terjatuh ke dalam kesalahan sangatlah besar baginya untuk memiliki satu kesempatan membawa kembali air tersebut tanpa memecahkan timbanya. (Baca juga: Mullah Nashruddin, Keledai, dan Kualitas Magis Berkah )
Ketika persepsi seseorang meningkat, maka begitu juga kekuatan memeras nutrisi dari cerita-cerita Nashruddin. Cerita-cerita ini memberikan kepada para pemula sesuatu yang oleh para Sufi disebut sebagai "hantaman" -- dampak yang telah dihitung yang beroperasi dengan cara khusus, untuk mempersiapkan pikiran bagi upaya Sufi.
Dilihat sebagai nutrisi, hantaman Nashruddin disebut sebagai buah kelapa. Istilah ini diambil dari pernyataan Sufi, "Seekor kera melemparkan sebuah kelapa dari pucuk pohon kepada seorang Sufi yang kelaparan, dan buah tersebut mengenai kakinya. Ia mengambilnya, meminum airnya, memakan dagingnya, dan membuat sebuah mangkuk dari tempurungnya."
Baca juga: Mullah Nashruddin Masuk Jebakan Kepala Biara
Singkatnya, mereka memenuhi fungsi hantaman harfiah yang terjadi dalam salah satu kisah Nashruddin tersingkat:
Nashruddin menyerahkan sebuah timba kepada seorang anak, menyatakan kepadanya untuk menimba air dari sumur dan kemudian menjewer telinganya. "Dan ingat, jangan engkau jatuhkan!" teriaknya.
Seorang yang melihat hal itu berkata, "Bagaimana Anda bisa memukul seseorang yang tidak melakukan kesalahan?"
"Aku menduga," ucap Nashruddin, "bahwa engkau lebih suka aku memukulnya setelah ia memecahkan timba, ketika timba dan airnya sama-sama hilang? Dengan caraku tersebut si anak akan ingat, dan timba serta isinya juga aman." Baca juga: Mullah Nashruddin Membawa Sapi Tua ke Sebuah Lomba Pacuan Kuda
Karena Sufisme merupakan suatu kerja komprehensif, maka bukan saja Salik yang harus belajar, seperti si anak. Kerja tersebut, seperti timba dan air, memiliki aturan-aturannya sendiri, di luar metode-metode duniawi dari seni dan ilmu pengetahuan (positif).
Tidak seorang pun mampu menempuh suatu jalan Sufi, kecuali jika memiliki potensi untuk hal itu. Jika ia mencoba melakukannya, kemungkinan terjatuh ke dalam kesalahan sangatlah besar baginya untuk memiliki satu kesempatan membawa kembali air tersebut tanpa memecahkan timbanya. (Baca juga: Mullah Nashruddin, Keledai, dan Kualitas Magis Berkah )
Lihat Juga :