Penaklukan Persia (3)

Tragedi Perang Jembatan dan Sikap Umar bin Khattab yang Lembut

loading...
Tragedi Perang Jembatan dan Sikap Umar bin Khattab yang Lembut
Ilustrasi/Ist
GUGURNYA para komandan perang muslim membuat semangat pasukan menjadi lemah. Banyak di antara mereka yang kembali ke jembatan, masing-masing mau menyelamatkan diri. Keberadaan mereka dengan pasukan itu menjadi tak ada artinya lagi. Pemimpin mereka sudah tak ada, disiplin sudah rusak dan barisan mereka pun sudah kacau-balau. (Baca juga: Tragedi Perang Jembatan: Langgar Pesan Umar Bin Khattab, Pasukan Muslim Berguguran)

Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul “Umar bin Khattab” menceritakan melihat keadaan begitu genting Al-Musanna bin Harisah maju merebut bendera pimpinan. la sudah tidak ingin lagi bertempur dan mencari kemenangan sesudah musibah menimpa pasukan Muslimin. Tetapi ia ingin menyusun kembali organisasinya lalu menyeberang sungai kembali ke Marwahah. (Baca juga: Perang Irak di Era Khalifah Umar bin Khattab, Jalankan Wasiat Abu Bakar)

Setelah itulah ia nanti akan menentukan langkah. Sementara ia sedang menyusun rencana akan kembali itu tiba-tiba Abdullah bin Marsad as-Saqafi merintangi perahu-perahu yang akan menyeberangi jembatan sambil berteriak sekuat-kuatnya: "Saudara-saudara! Matilah seperti pemimpin-pemimpin kita, atau menang!" (Baca juga: Ini Alasan Mengapa Umar bin Khattab Tak Biarkan Agama Lain Tumbuh di Jazirah Arab)

Merasa ngeri melihat apa yang dilakukan oleh Ibn Marsad, mereka yang tidak sabar berlompatan terjun ke sungai, dan banyak di antara mereka yang tenggelam. Musanna khawatir akan terjadi kekacauan.

Ia berdiri sambil berseru dengan bendera di tangan. "Saudara-saudara! Saya di belakangmu, menyeberanglah menurut cara-cara kalian dan jangan panik, tidak akan kami tinggalkan kalian sebelum kami melihat kalian sudah di seberang!" (Baca juga: Spekulasi Mengapa Umar bin Khattab Habisi Karir Militer Khalid bin Walid)

Setelah Ibn Marsad dijemput dan dibawa ia mendapat pukulan sebagai hukuman. Kapal yang sudah pecah dihimpun dan dijadikan jembatan penyeberangan. Mereka mulai kembali ke tempat semula dengan menyeberanginya. Di belakang mereka Musanna terus bertempur.

Ia dan pasukannya menghalang-halangi pasukan Persia. Dalam posisinya yang demikian itu Musanna terkena sasaran panah sehingga ia mengalami luka-luka dan meninggalkan sebuah lingkaran di baju besinya. Tetapi dia terus bertempur bersama Abu Zaid at-Ta'i an-Nasrani melindungi pasukan Muslimin. (Baca juga: Tak Mudah bagi Umar bin Khattab untuk Jalankan Wasiat Khalifah Abu Bakar)

Keberanian Salit bin Qais tidak kurang dari Musanna. Dengan demikian pasukan Muslimin yang masih ada dapat menyeberang ke Marwahah. Musanna tidak beranjak di tempatnya tanpa menghiraukan luka-luka yang dideritanya.



Sesudah melihat rekan-rekannya semua menyeberang, baru ia sendiri bertolak di belakang mereka, dengan meninggalkan Salit bin Qais yang gugur sebagai syahid, darahnya bercampur aduk dengan tanah medan pertempuran yang telah mengubur ribuan pahlawan Islam. (Baca juga: Sulit Menyakinkan Umat Islam, Begini Pengakuan Umar bin Khattab)

Banyak yang Terbunuh
Musanna tetap waspada adanya kemungkinan pasukan Bahman Jadhuweh, komandan perang tentara Persia, masih akan membuntutinya. Oleh karenanya, cepat-cepat ia dan pasukannya meluncur turun dari Marwahah ke Hirah, kemudian terus menyusur ke selatan menuju Ullais. Pengejarannya ini sudah diperhitungkannya seribu kali.

Mengapa tidak, mengingat dalam pertempuran itu anggota pasukan Muslimin sudah begitu banyak yang terbunuh, tenggelam di Furat dan dua ribu orang lagi dari Madinah lari menyelamatkan diri! (Baca juga: Pidato Pelantikan Umar bin Khattab yang Menggetarkan)

Tetapi mata Abu Ubaid yang sudah tertutup oleh kedudukan dan oleh besarnya jumlah orang, sehingga ia terdorong ingin menyeberangi sungai itu sampai akhirnya dia sendiri menemui ajalnya dan sekaligus menjerumuskan Muslimin ke dalam malapetaka, rupanya masih akan melindungi Musanna.

Sementara masih dalam pertempuran itu Bahman mendapat berita bahwa pasukan Persia di Mada'in terpecah dua, sebagian berpihak kepada Rustum dan yang sebagian lagi di pihak Fairuzan menentang Rustum. Itu sebabnya ia dan pasukannya kembali ke ibu kota. Yang masih tinggal hanya Javan dan Mardan Syah dengan sejumlah kecil pasukan. (Baca juga: Kisah Umar bin Khattab Meyakinkan Khalifah Abu Bakar tentang Pengumpulan Al-Qur'an)

Kedua pasukan inilah yang mengejar Musanna dengan anggapan bahwa mereka mampu menghadapinya. Mengenai berita-berita sekitar Persia oleh penduduk Ullais disampaikan kepada Musanna. la dan pasukannya disertai sejumlah besar penduduk Ullais segera bergerak, dan berhasil menawan Javan dan Mardan Syah. Mereka semua akhirnya dibunuh.



Baca juga: Menkeu Sebut Indonesia Masuk Epinsetrum Covid-19 Dunia
halaman ke-1 dari 3
cover top ayah
اُدۡعُوۡا رَبَّكُمۡ تَضَرُّعًا وَّخُفۡيَةً‌ ؕ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الۡمُعۡتَدِيۡنَ‌
Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

(QS. Al-A’raf:55)
cover bottom ayah
preload video