Musyawarah Burung (Mantiqu't-Thair)

Burung-Burung itu Meniadakan Diri Dalam Diri Sang Simurgh

loading...
Burung-Burung itu Meniadakan Diri Dalam Diri Sang Simurgh
Sirmugh. Foto/Ilustrasi/Wikipedia
Musyawarah Burung (1184-1187) karya Faridu'd-Din Abu Hamid Muhammad bin Ibrahim atau Attar dalam gaya sajak alegoris ini, melambangkan kehidupan dan ajaran kaum sufi. Judul asli: Mantiqu't-Thair dan diterjemahan Hartojo Andangdjaja dari The Conference of the Birds (C. S. Nott). (Baca juga: Faridu'd-Din Attar Pencipta Musyawarah Burung)

==

BURUNG-burung, yang dibakar cinta itu, berkata, "Bagaimana mungkin kupu-kupu menyelamatkan diri dari nyala api bila ia ingin menjadi satu dengan nyala api itu?"

Sahabat yang kita cari akan memuaskan kita dengan memperkenankan kita menyatukan diri padanya. Bila kini kami ditolak, apakah lagi daya kami? Kami seperti kupu-kupu yang menginginkan persatuan dengan nyala lilin. (Baca juga: Dari Beribu-ribu Hanya 30 Ekor Burung itu yang Tinggal)

Banyak yang meminta pada kupu-kupu itu agar tak mengorbankan diri begitu konyol dan demi tujuan yang sedemikian langka pula, namun kupu-kupu itu mengucapkan terima kasih pada mereka atas nasihat itu dan mengatakan pada mereka bahwa karena hatinya telah diserahkan pada nyala lilin itu buat selamanya, maka tak ada lagi yang mesti dipersoalkan." (Baca juga: Kisah Pilu Pengemis yang Jatuh Cinta dengan Pangeran)



Setelah menguji burung-burung itu, maka kepala rumah tangga keraton itu pun membukakan pintu, dan ketika ia menyingkapkan seratus tabir, satu demi satu, maka sebuah dunia baru di balik tabir itu tersingkap.

Kini cahaya dari segala cahaya memancar, dan sekalian burung-burung itu duduk di atas masnad, tempat duduk Yang Mulia dan Agung. Kepada mereka diberikan nas, dan mereka diminta membaca itu, dan setelah membaca dan merenungkan, mereka pun dapat memahami keadaan mereka. (Baca juga: Lembah Kematian: Kisah Orang Sudah Mati Bisa Bicara?)

Ketika mereka sepenuhnya merasa tenang dan terlepas dari segala apa pun, mereka menjadi sadar bahwa sang Simurgh ada di sana bersama mereka. Segala yang telah mereka perbuat dahulu terhapus.



Matahari keluhuran memancarkan sinarnya, dan dalam saling merenungi wajah sesama mereka, ketiga puluh burung (si-murgh) dari dunia luar ini menatap sang Simurgh dari dunia dalam. Ini amat menakjubkan sehingga mereka tak tahu apakah mereka masih tetap mereka atau apakah mereka telah menjadi sang Simurgh. (Baca juga: Lembah Keheranan dan Kebingungan: Sang Putri yang Mencintai Hambanya)
halaman ke-1 dari 3
cover top ayah
يَوۡمَ تُبَدَّلُ الۡاَرۡضُ غَيۡرَ الۡاَرۡضِ وَالسَّمٰوٰتُ‌ وَبَرَزُوۡا لِلّٰهِ الۡوَاحِدِ الۡقَهَّارِ‏
(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka (manusia) berkumpul (di Padang Mahsyar) menghadap Allah Yang Maha Esa, Mahaperkasa.

(QS. Ibrahim:48)
cover bottom ayah
preload video