Meraih Peluang Dekat dengan Rasulullah di Surga, Muliakanlah Anak Yatim

Rabu, 14 Oktober 2020 - 14:17 WIB
loading...
Meraih Peluang Dekat dengan Rasulullah di Surga, Muliakanlah Anak Yatim
Salah satu keutamaan menyayangi dan memuliakan anak yatim, adalah akan meraih peluang dekat dengan Rasulullah di surga. Foto ilustrasi/ist
A A A
Umat Islam diajarkan untuk memuliakan anak-anak yatim. Menyantuni dan menyayangi mereka, merupakan akhlak mulia. Al-Qur’an secara tegas mengatakan, anak yatim adalah sosok-sosok yang harus dikasihi, dipelihara dan diperhatikan.

Allah Ta'ala berfirman:

فِى ٱلدُّنْيَا وَٱلْءَاخِرَةِ ۗ وَيَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلْيَتَٰمَىٰ ۖ قُلْ إِصْلَاحٌ لَّهُمْ خَيْرٌ ۖ وَإِن تُخَالِطُوهُمْ فَإِخْوَٰنُكُمْ ۚ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ ٱلْمُفْسِدَ مِنَ ٱلْمُصْلِحِ ۚ وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ لَأَعْنَتَكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakan lah “Memperbaiki keadaan mereka adalah baik,.....” (QS. Al-Baqarah: 220).

(Baca juga : Amanah, Tanda-tanda Iman Seorang Mukmin )

Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu dia berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: "Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di Surga seperti ini”, kemudian beliau mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau, serta agak merenggangkan keduanya." (HR.Bukhari)

Muslimah, banyak sekali keutamaan-keutamaan menyayangi dan memuliakan anak yatim ini. Antara lain seperti yang disebutkan pada hadis di atas yaitu akan meraih peluang dekat dengan Rasulullah di surga. Dengan kata lain, pemelihara anak yatim dijamin masuk surga. Jika mereka, para pemelihara anak yatim tidak bisa menjadi teman Rasulullah di surga karena suatu hal tertentu, namun ia akan tetap dijamin masuk surga.

(Baca juga : Aktivitas Ringan Tapi Ganjaran Pahalanya Besar, Yuk Amalkan! )

“Orang yang memelihara anak yatim di kalangan umat muslimin, memberikannya makan dan minum, pasti Allah akan masukkan ke dalam surga, kecuali ia melakukan dosa yang tidak bisa diampuni.” (HR. Tirmidzi dari Ibnu Abbas).

Penyantun anak yatim dan memberi makan yatim beserta orang miskin merupakan tanda orang-orang yang abror (saleh atau taat kepada Allah).

Firman Allah Ta'ala :

إِنَّ ٱلْأَبْرَارَ يَشْرَبُونَ مِن كَأْسٍ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا

Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur. (QS. Al-Insan: 5)

عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا عِبَادُ ٱللَّهِ يُفَجِّرُونَهَا تَفْجِيرًا

(yaitu) mata air (dalam surga) yang daripadanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya. (QS. Al-Insan: 6)

(Baca juga : Pesan Imam Al Ghazali : Berikanlah Hak Anak untuk Bermain )

Allah dan Rasul-Bya telah menunjukkan besarnya keutamaan dan pahala orang yang meyantuni anak yatim. Islam menempatkan anak yatim dalam posisi yang sangat istimewa.

Secara khusus dalam Al-Qur'an tercatat lebih dari 20 ayat tentang anak yatim, antara lain; QS. Al-An'an ayat 152, QS. Al-Isra' ayat 34, QS. Al-Fajr ayat 17, QS. Ad-Duha ayat 6 dan 9, QS. Al-Ma'un ayat 2, QS. Al-Insan ayat 8, QS. Al-Balad ayat 15, QS. Al-Kahfi ayat 82, QS. Al-Baqarah ayat 83, 177, 215, dan 220, QS. An-Nisa' ayat 2,3,6,8,10,36 dan 127, QS. Al-Anfal ayat 41, dan QS. Al-Hasyr ayat 7.

(Baca juga : Pandemi Membuat BUMN Rugi Makin Banyak, Terbesar di Jiwasraya )

Ulama memberi penegasan, yang dimaksud dengan anak yatim adalah seorang anak yang ditinggal oleh ayahnya sebelum anak itu mencapai usia dewasa. Keutamaan menyantuni anak yatim adalah yang punya hubungan keluarga dengannya atau anak yatim yang sama sekali tidak punya hubungan keluarga dengannya tapi lebih diistimewakan yang ada hubungan dengan kekeluargaan.

Firman-Nya :

وَمَا أَدْرَاكَ مَاالْعَقَبَةُ ۞ فَكُّ رَقَبَةٍ ۞ أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ ۞ يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ ۞ أَوْ مِسْكِينًا ذَا مَتْرَبَةٍ ۞

"Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (Yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang yang miskin yang sangat fakir. (QS. Al-Balad: 12-16).

(Baca juga : Delapan Anggota KAMI Ditangkap, Aksi Nyata Gatot Nurmantyo Ditunggu )

Sebaliknya, jika keras, bakhil, dan kasar terhadap anak yatim maka akan diancam dengan azab. Para pembenci anak yatim disebut sebagai orang yang mendustakan hari pembalasan. Mereka adalah orang tidak punya kasih sayang pada anak yatim dan orang miskin. Masih ada sifat lainnya yang disebutkan dalam surat Al-Maa’uun.

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ ۞ فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ ۞ وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ ۞ فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ ۞ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ۞ الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ ۞ وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ ۞

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan hari pembalasan? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. Orang-orang yang berbuat riya’ dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (QS. Al Maa’uun: 1-7)

(Baca juga : Pemuda Muhammadiyah Berharap Penangkapan 8 Tokoh KAMI Tak Bermotif Membungkam )

Akan ada ancaman keras memakan harta anak yatim karena secara dzalim.

إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوٰلَ الْيَتٰمَىٰ ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِى بُطُونِهِمْ نَارًا ۖ وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا ۞

"Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara dzalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)." (QS. An-Nisaa': 10).

Jadi, berbuat baik kepada anak yatim adalah amalan sangat utama. Sebelum Islam datang, anak yatim tak mendapatkan perhatian apalagi santunan yang layak. Lalu, Islam memuliakannya dan melarang untuk mengeksploitasinya.

(Baca juga : Kabar Habib Rizieq Bakal Pulang, Politikus PKS: Sepatutnya Negara Menolong )

Memakan harta anak yatim merupakan salah satu dosa besar dan penyebab masuk neraka. Rasul SAW bersabda, "Jauhilah tujuh dosa besar, yakni menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan kecuali dengan hak, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan perang, dan menuduh zina wanita mukmin yang lalai." (HR Bukhari dan Muslim).

Wallahu A'lam
(wid)
Copyright © 2024 SINDOnews.com
All Rights Reserved
read/ rendering in 0.1252 seconds (0.1#10.140)