Renungan: Meraih Suksesi, Belajar dari Pohon Jati

Rabu, 14 April 2021 - 05:22 WIB
loading...
Renungan: Meraih Suksesi,...
Untuk mendapatkan pohon jati yang berkualitas, butuh waktu setidaknya 20-30 tahun/Ilustrasi/Ist
A A A
Sepulang dari salat tarawih , sekumpulan anak muda terlihat sewot. Mengapa? Salah satu dari mereka mengatakan masjid masih "dikuasai" orang-orang tua dengan tradisi kuno . Mereka yang merasa sudah menimba ilmu sampai ke pesantren merasa tak berguna. "Kami ingin menjadi imam, berceramah ramadhan dan bermanfaat bagi jamaah, tapi kami tak diberi kesempatan," begitu kata seorang di antara mereka.

Baca juga: Renungan: Mengupas Keburukan, Belajar dari Kisah Kaki Merak

"Kenapa kalian tak masuk partai politik saja?" ledek salah seorang jamaah yang mendengar keluhan anak-anak muda itu.

"Kenapa harus masuk partai politik? Kami bisa menjadi imam salat dan berceramah agama," balas mereka, balik bertanya.

"Partai politik tak membutuhkan kekuatan hubungan kita dengan tuhan, tak membutuhkan cinta kasih, tak membutuhkan kebijaksanaan, yang diperlukan adalah ambisi untuk meraih kepentingan," jawab lelaki yang tampaknya mencoba memahami kekecewaan anak muda ini.

Ia lalu bercerita tentang pengalamannya waktu masih anak-anak, tatkala masih mengaji di langgar dengan guru yang ndeso. Dia juga bercerita tentang masa kecilnya sebagai penggembala kambing di hutan jati.

Baca juga: Renungan: Ramadhan Semoga Saja Tanpa Luka Amarah

Ya, hutan jati . Di satu desa di Pati, ada hamparan hutan jati. Hutan ini menghasilkan jati yang amat berkualitas dan diolah lanjut menjadi perabot rumah tangga oleh para perajin di Jepara. Kayu itu menjadi mebel berkualitas yang banyak diekspor ke berbagai negara. Kala itu, bangunan di daerah Pati rata-rata menggunakan papan kayu jati.

Kayu jati cukup berharga. Jepara menjadi kaya karena mengekspor mebel dari kayu jati. Mebel Jepara dikenal indah. Kayu jati terkenal tahan lama dan memiliki tekstur menawan sehingga cocok untuk bahan furniture. Kayu jati juga membangun harmoni keindahan bila dikombinasikan dengan kayu jenis lain.

Nah, untuk mendapatkan pohon jati yang berkualitas, butuh waktu setidaknya dua puluh sampai tiga puluh tahun sebelum dipotong. Kayu jati yang sudah berumur itu mengandung getah berwarna gelap. Getah di kayu ini sangat pahit dan beracun sehingga serangga enggan mendekati. Tapi, bila pohon jati masih muda, getah ini tak begitu pahit karena tercampur kadar air yang tinggi. Kualitas kayu juga menjadi rendah dan gampang rapuh.

Pohon jati dapat bertahan hidup selama dua hingga tiga ratus tahun. Papan yang terbuat dari jati seusia itu amat kuat. Jika dibuat mebel juga sangat indah. Kayu ini jika dipoles akan bersinar bak cermin, dan ia dapat bertahan dari generasi ke generasi. Hanya butuh polesan sesekali saja untuk membersihkan.

Baca juga: Renungan: Bergerak dari Satu Keinginan untuk Keinginan yang Lain

Pohon jati juga perlu perawatan. Saat berusia lima tahun, tatkala pohon masih kecil, cabangnya mesti dipotong secara teratur. Ini perlu dilakukan agar pohonnya tumbuh lurus, dan dalam dua puluh tahun pohon ini siap untuk dipotong.

"Guru mengaji saya memberikan perumpamaan bahwa manusia itu bak pohon jati," ujar lelaki yang tampaknya sudah berumur itu.

"Meskipun ia dapat disebut seorang manusia, ia tidak akan mampu mengembangkan nilai-nilai secara penuh sampai ia dewasa. Sebelum itu, tak peduli bagaimana ia belajar, tidak peduli berapa banyak seni dan ilmu yang telah dipelajari, ia akan seperti pohon jati muda. Belum banyak berguna bagi dirinya, atau orang lain. Jika dia ditebang sebelum waktunya, maka tak banyak gunanya. Ia akan mudah hancur dan keropos,' jelasnya.

Apa yang harus dilakukan agar manusia menjadi dewasa?

"Menurut guru mengaji saya, pertama-tama harus membuat sambungan antara dirinya dengan Allah. Membangun hubungan dengan Allah dengan menjalankan sifat-sifat Allah. Menempatkan antara keadilan dan hati nurani, keadilan Allah dan hati nurani dirinya, antara cinta dirinya dan cinta Allah."

Baca juga: Renungan: Kebahagiaan Dunia Materi Bak Sungai yang Tercemar

Dia harus membangun koneksi antara perdamaian dan belas kasih Allah. Damai untuk dirinya dan belas kasih. Untuk menjadi kuat dalam kebijaksanaan, kualitas dan tindakan harus ditempa oleh waktu. Ibadah, doa dan pendekatan dengan Allah juga harus matang.

Lalu, kapan rahmat Tuhan berkembang dalam dirinya? Kapan dia akan tampil dengan hati nan cantik, berkualitas, dan memiliki kebijaksanaan?

"Karena kita telah memahami mana yang benar dan salah dalam hati orang lain, kita akan menjadi indah dalam bentuk cinta, kasih sayang, kebijaksanaan, dan keadilan. Kemegahan Allah akan mengalir dari diri kita seperti keluarnya getah dari pohon jati, dan kita akan berguna sampai ratusan tahun."

Dengan cara yang sama bahwa jati dewasa dapat digunakan untuk membangun rumah yang indah, orang seperti itu akan berguna dalam membantu masyarakat untuk membangun rumah yang indah dari hati mereka. Dia akan membantu mereka untuk membangun hubungan dengan Tuhan. Dia akan bermanfaat walau dalam diamnya. Tindakannya, keadilan dan perdamaian, setiap napasnya akan berguna dan bermanfaat bagi semua orang.

Baca juga: Renungan: Mengejar Wadah, Tak Sempat Menikmati Isi

Eksistensi manusia ada ketika ia telah membentuk hubungan dengan Tuhan. Hidupnya akan bermanfaat bagi orang lain ketika ia telah mengembangkan kebijaksanaan dan hati nurani dalam dirinya, ketika ia tahu mana yang benar dan salah, surga dan neraka, baik dan yang jahat. Setan tidak akan mendekati dia ketika dia dalam keadaan matang, seperti serangga tidak akan mengerumuni pohon jati dewasa.

"Mengapa kalian marah, bersedih dan cemburu?" tanyanya kepada anak-anak muda yang serius mendengar siraman rohani yang ia sampaikan itu.

"Apakah tidak lebih baik bila ilmu agama yang kalian kuasai benar-benar dijalankan dengan istiqamah agar kalian menemukan cinta, kasih sayang, dan kejaksanaan Allah. Endapkanlah energi spiritualmu agar kemegahan Allah mengalir dalam diri kita, untuk mencegah masuknya serangga laknat itu... Bahkan dengan diam, kalian pun akan bermanfaat bagi siapa pun."

Baca juga: Renungan: Ingin Mendekati Tuhan? Berkhidmatlah kepada Sesama Manusia Dulu
(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Kisah Khalifah Umar...
Kisah Khalifah Umar bin Khattab Ingin Abu Ubaidah Menggantikannya
Suksesi Kenabian Menurut...
Suksesi Kenabian Menurut Syaikh Ahmed Deedat
Suksesi Kepemimpinan:...
Suksesi Kepemimpinan: Mengapa Kaum Anshar Mengalah dengan Muhajirin?
Renungan: Menagih Janji...
Renungan: Menagih Janji Tuhan, Apa Itu Harta Segalanya?
Renungan: Menghabiskan...
Renungan: Menghabiskan Umur untuk Perut, Sesekali Lapar Itu Baik
Renungan: Membunuh dengan...
Renungan: Membunuh dengan Lidah, Belajar dari Kodok Budeg
Rekomendasi
Bangun Ulang Piramida...
Bangun Ulang Piramida Dipercaya Akan Menimbulkan Malapetaka
Gelombang Panas Terus...
Gelombang Panas Terus Meningkat, Negara Timur Tengah Berpotensi Tak Layak Huni
Berhala yang Biasa Disembah...
Berhala yang Biasa Disembah Firaun Ditemukan di Dasar Laut
Artikel Terkini
Jadwal Puasa Muharam...
Jadwal Puasa Muharam 1448 H Tahun 2026, Kapan Puasa Tasu'a dan Asyura Dilaksanakan?
Jangan Tasyabbuh dengan...
Jangan Tasyabbuh dengan Tahun Baru Masehi, Ini Adab Menyambut 1 Muharram Menurut Ulama
Bolehkah Puasa pada...
Bolehkah Puasa pada 1 Muharram? Ini Penjelasan Ulama dan Dalilnya
Doa Akhir dan Awal Tahun...
Doa Akhir dan Awal Tahun Baru Islam, Baca sebelum Maghrib Nanti!
Gus Zainul Arifin, Kiai...
Gus Zainul Arifin, Kiai Muda yang Hadirkan Dakwah Modern Tanpa Tinggalkan Tradisi
Selamat Tahun Baru Islam...
Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriyah, Berikut Keutamaan Muharram
Infografis
Jadwal Belajar dari...
Jadwal Belajar dari Rumah untuk Paud hingga SMA di TVRI
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved