Waktu yang Tepat untuk Mencukur Bulu Bagi Muslimah

loading...
Waktu yang Tepat untuk Mencukur Bulu Bagi Muslimah
Sesuai hadis, waktu mencabut dan mencukur bulu-bulu yang ada di area wanita, disunnahkan untuk dilakukan setiap 40 hari sekali. Foto ilustrasi/istimewa
Bagi muslimah, menjaga kebersihan dan kecantikan di area tertentu harus sangat diperhatikan. Salah satunya adalah rutinitas mencukur bulu di area ketiak dan kemaluan. Bagaimana pandangan Islam mengenai hal tersebut? Dan Kapan waktu yang tepat untuk melakukannya sesuai syariat?

Baca juga: Hukum Mendoakan Keburukan

Dalam Islam, ternyata mencukur bulu kemaluan dan mencabut bulu ketiak merupakan dua dari 10 perkara yang merupakan fitrah manusia . Hal ini sebagaimana salah satu hadis shahih, dari Sayyidah Aisyah Radhiyallahu ‘anha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Ada sepuluh hal dari fitrah (manusia); memangkas kumis, memelihara jenggot, bersiwak, istinsyaq (menghirup air ke dalam hidung), potong kuku, membersihkan ruas jari-jemari, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu pubis dan istinjak (cebok) dengan air.” (HR. Muslim, Abu Daud, Turmudzi, Nasa’i, dan Ibn Majah).

Hadis ini menerangkan bahwa mencabut bulu ketiak dan mencukur bulu kemaluan merupakan sebuah anjuran dan sunnah yang sangat baik.

Baca juga: Bacaan dan Keutamaan Zikir Hauqolah

Dilansir dari laman NU Online, salah satu hikmah dari mencabut bulu ketiak adalah bahwa ketiak merupakan area yang sering menyebabkan bau tak sedap. Sebab itu, mencabut bulunya setidaknya dapat mengurangi bau tersebut.

Haruskah bulu tersebut dicukur atau dicabut? Para ulama berpendapat bahwa mencabut bulu ketiak lebih utama dibanding mencukurnya. Ibnu Hajr dalam Fathul Bari bi Syarhi Shahihil Bukhari mengatakan, mencukur bulu ketiak akan menguatkan bulu dan melebatkannya sehingga menambah batu tak sedap dari ketiak tersebut. Begitu pula dengan Imam Syafi’i dan Imam Al Ghazali yang lebih mengutamakan mencabut dibanding mencukurnya.

Baca juga: Apakah Dagu Perempuan Termasuk Aurat Ketika Shalat?

Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin mengatakan, salah satu yang dibersihkan adalah bulu ketiak. Namun bukan berarti kita tidak diperbolehkan untuk mencukurnya. Beliau berkata, “Adapun orang yang terbiasa mencukur (bulu ketiak), maka cukup dengan mencukur itu karena pencabutan sejenis penyiksaan dan tindakan menyakitkan. Sedangkan tujuan dasarnya adalah pembersihan dan untuk mengantisipasi pengendapan kotoran di sela lipatannya. Tujuan itu dapat tercapai dengan pencukuran,".
halaman ke-1
cover top ayah
وَلَا تُعۡجِبۡكَ اَمۡوَالُهُمۡ وَاَوۡلَادُهُمۡ‌ؕ اِنَّمَا يُرِيۡدُ اللّٰهُ اَنۡ يُّعَذِّبَهُمۡ بِهَا فِى الدُّنۡيَا وَتَزۡهَقَ اَنۡفُسُهُمۡ وَهُمۡ كٰفِرُوۡنَ‏
Dan janganlah engkau (Muhammad) kagum terhadap harta dan anak-anak mereka. Sesungguhnya dengan itu Allah hendak menyiksa mereka di dunia dan agar nyawa mereka melayang, sedang mereka dalam keadaan kafir.

(QS. At-Taubah:85)
cover bottom ayah
preload video