Tipu Daya Duniawi (2): Kemewahan dan Kenikmatan Dunia Sebagai Ujian

loading...
Tipu Daya Duniawi (2): Kemewahan dan Kenikmatan Dunia Sebagai Ujian
Ilustrasi/Dok, SINDOnews
Dunia adalah sebagai tempat ujian.Suatu anggapan yang keliru apabila cobaan hanya terbatas pada hal yang tidak mengenakkan saja. Sebut misalnya kefakiran dan penyakit. Pandangan yang sempit tentang cobaan tersebut merupakan akibat dari ketidaktahuan seorang tentang kehidupan dunia.

Baca juga: Tipu Daya Duniawi (1): Banyak Ayat Al-Quran dan Hadits yang Mencela Dunia

Allah SWT dalam banyak ayat Al-Qur’an telah menegaskan, demikian pula Rasulullah SAW dalam sekian haditsnya, nikmat dan kesenangan duniawi merupakan ujian bagi hamba sebagaimana kesengsaraan hidup juga dijadikan cobaan.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَنَبۡلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلۡخَيۡرِ فِتۡنَةًۖ وَإِلَيۡنَا تُرۡجَعُونَ

Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” ( QS al-Anbiya: 35 )

Ibnu Abbas radhialllahu anhuma berkata menafsirkan ayat ini, “(Kami menguji kalian) dengan kesusahan dan kesenangan, dengan sehat dan sakit, dengan kekayaan dan kefakiran, serta dengan yang halal dan yang haram. Semuanya adalah ujian.”

Ibnu Yazid rahimahullah mengatakan, “Kami uji kalian dengan sesuatu yang disenangi dan yang dibenci oleh kalian, agar Kami melihat bagaimana kesabaran dan syukur kalian.”

Al-Kalbi rahimahullah berkata, “(Maksud Kami menguji) dengan kejelekan ialah yang berupa kefakiran dan musibah. Adapun diuji dengan kebaikan ialah yang berupa harta dan anak.”

Baca juga: Ngaji Gus Baha Terbaru: Tipu Daya Duniawi, Melupakan Akhirat

Dalam ayat lain, Allah SWT juga berfirman,

فَأَمَّا ٱلۡإِنسَٰنُ إِذَا مَا ٱبۡتَلَىٰهُ رَبُّهُۥ فَأَكۡرَمَهُۥ وَنَعَّمَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّيٓ أَكۡرَمَنِ ١٥ وَأَمَّآ إِذَا مَا ٱبۡتَلَىٰهُ فَقَدَرَ عَلَيۡهِ رِزۡقَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّيٓ أَهَٰنَنِ ١٦ كَلَّاۖ

Adapun manusia apabila Rabb-nya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, dia akan berkata, ‘Rabb-ku telah memuliakanku.’ Adapun apabila Rabb-nya mengujinya lalu membatasi rezekinya, dia berkata, ‘Rabb-ku menghinakanku.’ Sekali-kali tidak (demikian).” ( QS al-Fajr: 15—17 )

Perhatikanlah ayat-ayat ini, bagaimana Allah SWT menguji hamba-Nya dengan memberikan kemuliaan, nikmat, dan keluasan rezeki, sebagaimana pula Allah SWT mengujinya dengan menyempitkan rezeki. Dalam ayat ini Allah ta’ala mengingkari orang yang menyangka bahwa diluaskannya rezeki seorang hamba merupakan bukti pemuliaan Allah ta’ala kepadanya dan bahwa disempitkannya rezeki adalah bentuk dihinakannya hamba.

Sesungguhnya segala macam kenikmatan dunia adalah ujian dari Allah SAW, karena pada dasarnya setiap manusia memiliki kecenderungan atau rasa suka terhadap hal-hal duniawi. Allah SWT berfirman:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوٰتِ مِنَ النِّسَآءِ وَالۡبَـنِيۡنَ وَالۡقَنَاطِيۡرِ الۡمُقَنۡطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالۡفِضَّةِ وَالۡخَـيۡلِ الۡمُسَوَّمَةِ وَالۡاَنۡعَامِ وَالۡحَـرۡثِ‌ؕ ذٰ لِكَ مَتَاعُ الۡحَيٰوةِ الدُّنۡيَا ‌ۚ وَاللّٰهُ عِنۡدَهٗ حُسۡنُ الۡمَاٰبِ

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). ( QS Ali Imran [3]: 14 )

Berbagai macam kenikmatan dunia ini adalah sebagai ujian bagi manusia, apakah dia akan bersyukur atau malah kufur. Allah SWT berfirman:

وَاعۡلَمُوۡۤا اَنَّمَاۤ اَمۡوَالُكُمۡ وَاَوۡلَادُكُمۡ فِتۡنَةٌ  ۙ وَّاَنَّ اللّٰهَ عِنۡدَهٗۤ اَجۡرٌ عَظِيۡمٌ

Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah lah pahala yang besar. ( QS al-Anfal [8]: 28 )
halaman ke-1
preload video