Detik-Detik Ketika Umar bin Abdul Aziz Diangkat Jadi Khalifah
Selasa, 30 Juni 2020 - 13:44 WIB
loading...
A
A
A
Lalu manusia memenuhi setiap sisi di dalam masjid. Setelah mereka berkumpul, Umar bin Abdul Aziz naik mimbar dan berkhutbah. Beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya lalu mengucapkan shalawat atas Nabi kemudian berkata :
"Wahai manusia, sesungguhnya aku telah mendapat musibah dengan urusan ini (yakni diangkatnya beliau sebagai khalifah), tanpa pertimbangan dariku, tanpa aku memintanya, tanpa musyawarah antara kaum muslimin, maka aku lepaskan bai'at yang melilit leher kalian dariku... lalu silakan kalian memilih pemimpin lagi yang kalian ridhai."
Baca juga: Guru Yahudi Ini Anggap di Surga Itu Aneh, Makan Tapi Tidak Buang Air Besar
Maka orang-orang berteriak dengan satu suara: "Kami memilih anda wahai amirul mukminin dan kami ridha kepada anda. Kami serahkan urusan kami dengan harapan keberuntungan dan keberkahan."
Ketika beliau melihat suara-suara mulai tenang dan hatipun mulai tertata, maka beliau bertahmid kepada Allah untuk kesekian kalinya dan mengucapkan shalawat atas Nabi Muhammad sebagai hamba dan utusan-Nya.
Baca juga: Nasehat Mahal dan Menyentuh dari Tabiin Syaikh Ar-Rabi bin Khutsaim
Beliau menganjurkan manusia untuk senantiasa bertakwa kepada Allah, zuhud di dunia, berharap kenikmatan akhirat serta mengingatkan kepada mereka tentang kematian.
Khutbah Amirul Mukminin itu sanggup melunakkan hati yang keras dan meneteskan air mata orang yang sadar akan dosanya. Begitulah nasihat yang keluar dari hati akan sampai di hati orang yang mendengarnya.
Beliau mengeraskan suara agar semua orang mendengarnya: "Wahai manusia, barangsiapa yang taat kepada Allah maka wajib untuk ditaati dan barangsiapa yang memerintahkan maksiat maka tiada ketaatan kepadanya siapapun dia. Wahai manusia, taatilah aku selagi aku mentaati Allah dalam memerintah kalian. Namun jika aku bermaksiat kepada Allah, maka tiada kewajiban sedikitpun bagi kalian untuk mentaatiku."
Baca juga: Dituduh Menyimpang karena Tidak Menikah dan Menolak Makan Daging
Selanjutnya beliau turun dari mimbar dan beranjak menuju rumahnya dan masuk ke dalam kamarnya. Beliau ingin sekali istirahat barang sejenak setelah menguras tenaganya karena banyaknya kesibukan pasca wafatnya khalifah sebelumnya.
Akan tetapi, belum lagi lurus pinggangnya di tempat tidur, tiba-tiba datanglah putra beliau yang bernama Abdul Malik. Pemuda ini melihat sesuatu yang dianggapnya kurang tepat. "Apa yang ingin anda lakukan wahai amirul mukminin?" tanya Abdul Malik yang kala itu baru berusia 17 tahun.
"Wahai manusia, sesungguhnya aku telah mendapat musibah dengan urusan ini (yakni diangkatnya beliau sebagai khalifah), tanpa pertimbangan dariku, tanpa aku memintanya, tanpa musyawarah antara kaum muslimin, maka aku lepaskan bai'at yang melilit leher kalian dariku... lalu silakan kalian memilih pemimpin lagi yang kalian ridhai."
Baca juga: Guru Yahudi Ini Anggap di Surga Itu Aneh, Makan Tapi Tidak Buang Air Besar
Maka orang-orang berteriak dengan satu suara: "Kami memilih anda wahai amirul mukminin dan kami ridha kepada anda. Kami serahkan urusan kami dengan harapan keberuntungan dan keberkahan."
Ketika beliau melihat suara-suara mulai tenang dan hatipun mulai tertata, maka beliau bertahmid kepada Allah untuk kesekian kalinya dan mengucapkan shalawat atas Nabi Muhammad sebagai hamba dan utusan-Nya.
Baca juga: Nasehat Mahal dan Menyentuh dari Tabiin Syaikh Ar-Rabi bin Khutsaim
Beliau menganjurkan manusia untuk senantiasa bertakwa kepada Allah, zuhud di dunia, berharap kenikmatan akhirat serta mengingatkan kepada mereka tentang kematian.
Khutbah Amirul Mukminin itu sanggup melunakkan hati yang keras dan meneteskan air mata orang yang sadar akan dosanya. Begitulah nasihat yang keluar dari hati akan sampai di hati orang yang mendengarnya.
Beliau mengeraskan suara agar semua orang mendengarnya: "Wahai manusia, barangsiapa yang taat kepada Allah maka wajib untuk ditaati dan barangsiapa yang memerintahkan maksiat maka tiada ketaatan kepadanya siapapun dia. Wahai manusia, taatilah aku selagi aku mentaati Allah dalam memerintah kalian. Namun jika aku bermaksiat kepada Allah, maka tiada kewajiban sedikitpun bagi kalian untuk mentaatiku."
Baca juga: Dituduh Menyimpang karena Tidak Menikah dan Menolak Makan Daging
Selanjutnya beliau turun dari mimbar dan beranjak menuju rumahnya dan masuk ke dalam kamarnya. Beliau ingin sekali istirahat barang sejenak setelah menguras tenaganya karena banyaknya kesibukan pasca wafatnya khalifah sebelumnya.
Akan tetapi, belum lagi lurus pinggangnya di tempat tidur, tiba-tiba datanglah putra beliau yang bernama Abdul Malik. Pemuda ini melihat sesuatu yang dianggapnya kurang tepat. "Apa yang ingin anda lakukan wahai amirul mukminin?" tanya Abdul Malik yang kala itu baru berusia 17 tahun.
Lihat Juga :