Kisah Mistik Sultan Agung Taklukkan Mekkah
Selasa, 04 Oktober 2022 - 19:49 WIB
loading...
A
A
A
Mark R. Woodward mengatakan kendati penerimaan gelar dan penulisan teks-teks tersebut memperkokoh klaim-klaim keagamaan mengenai pentingnya kekerabatan, tetapi hal itu memperlihatkan bahwa strategi legitimasi bertemu dengan resistensi yang ada, khususnya dari ulama.
Kendati Sultan Agung berhasil menaklukkan kerajaan-kerajaan pantai yang didominasi ulama, tetapi ia tak sepenuhnya menguasai Jawa Tengah. Menurut Mark R. Woodward, penguasaan ini tampaknya baru disempurnakan pada masa pemerintahan Amangkurat I, yang menurut sumber-sumber Belanda kontemporer, memerintahkan eksekusi sekitar lima hingga enam ribu ulama.
Baca juga: Haul Sultan Agung Hanyokrokusumo di Solo Berlangsung Khidmat
Pembantaian Ulama
Dalam Serat Jaya Baya, Amangkurat I dilukiskan sebagai Kalpa sru semune kenaka putung (masa kelaliman yang dimetaforakan dengan kuku yang putus). "Masa lalim" artinya kekejaman pemerintahan raja, dan "kuku yang putus" maksudnya banyaknya panglima yang dibunuh.
Puncak dari kelaliman Raja Amangkurat I terjadi di alun-alun Plered, Kesultanan Mataram, pada 1647, dua tahun setelah ayahnya Sultan Agung wafat. Ia memerintahkan agar membunuh semua ulama yang ada di wilayah Kerajaan Mataram.
Semua itu berawal dari rasa cemas Amangkurat I yang kemudian menimbulkan dendam. Ia cemas akan kehilangan kekuasaan yang terus menghantuinya.
Dikisahkan, sebelum dia mengambil keputusan untuk menghabisi para ulama, raja menyepi sendirian di pendopo istana. Pikirannya suntuk karena memikirkan siasat untuk mempertahankan tahta. Sebab dua hari sebelumnya, adiknya yang bernama Raden Mas Alit telah melakukan kudeta.
Dalam kudeta yang gagal itu, Alit tewas terbunuh pasukannya. Setelah menemukan siasat, Amangkurat I lalu memanggil empat orang pembesar keraton untuk menghadap dirinya.
Kepada keempat pejabat kepercayaannya itu, raja mengutarakan niatnya. Keempat orang itu adalah Pangeran Aria, Tumenggung Nataairnawa, Tumenggung Suranata, dan Ngabehi Wiranata. Kepada mereka, sang raja berharap niat balas dendam tereksekusi dengan baik.
Sejarawan H.J. de Graaf dalam bukunya berjudul "De Regering van Sunan Mangku-Rat I Tegal-Wangi, vorst van Mataram, 1646-1677" menyebut bahwa raja berpesan agar tak seorang pun dari pemuka-pemuka agama dalam seluruh yurisdiksi Mataram lolos dariaksi kejam itu.
Kendati Sultan Agung berhasil menaklukkan kerajaan-kerajaan pantai yang didominasi ulama, tetapi ia tak sepenuhnya menguasai Jawa Tengah. Menurut Mark R. Woodward, penguasaan ini tampaknya baru disempurnakan pada masa pemerintahan Amangkurat I, yang menurut sumber-sumber Belanda kontemporer, memerintahkan eksekusi sekitar lima hingga enam ribu ulama.
Baca juga: Haul Sultan Agung Hanyokrokusumo di Solo Berlangsung Khidmat
Pembantaian Ulama
Dalam Serat Jaya Baya, Amangkurat I dilukiskan sebagai Kalpa sru semune kenaka putung (masa kelaliman yang dimetaforakan dengan kuku yang putus). "Masa lalim" artinya kekejaman pemerintahan raja, dan "kuku yang putus" maksudnya banyaknya panglima yang dibunuh.
Puncak dari kelaliman Raja Amangkurat I terjadi di alun-alun Plered, Kesultanan Mataram, pada 1647, dua tahun setelah ayahnya Sultan Agung wafat. Ia memerintahkan agar membunuh semua ulama yang ada di wilayah Kerajaan Mataram.
Semua itu berawal dari rasa cemas Amangkurat I yang kemudian menimbulkan dendam. Ia cemas akan kehilangan kekuasaan yang terus menghantuinya.
Dikisahkan, sebelum dia mengambil keputusan untuk menghabisi para ulama, raja menyepi sendirian di pendopo istana. Pikirannya suntuk karena memikirkan siasat untuk mempertahankan tahta. Sebab dua hari sebelumnya, adiknya yang bernama Raden Mas Alit telah melakukan kudeta.
Dalam kudeta yang gagal itu, Alit tewas terbunuh pasukannya. Setelah menemukan siasat, Amangkurat I lalu memanggil empat orang pembesar keraton untuk menghadap dirinya.
Kepada keempat pejabat kepercayaannya itu, raja mengutarakan niatnya. Keempat orang itu adalah Pangeran Aria, Tumenggung Nataairnawa, Tumenggung Suranata, dan Ngabehi Wiranata. Kepada mereka, sang raja berharap niat balas dendam tereksekusi dengan baik.
Sejarawan H.J. de Graaf dalam bukunya berjudul "De Regering van Sunan Mangku-Rat I Tegal-Wangi, vorst van Mataram, 1646-1677" menyebut bahwa raja berpesan agar tak seorang pun dari pemuka-pemuka agama dalam seluruh yurisdiksi Mataram lolos dariaksi kejam itu.
Lihat Juga :