Hakim Jami', si Jenius yang Bikin Pujangga Tidak Nyaman
Sabtu, 08 Oktober 2022 - 14:25 WIB
loading...
Hakim Jami adalah seorang yang jenius, ia membuat para pendeta dan pujangga di zamannya benar-benar merasa tidak nyaman. Foto/Ilustrasi: Ist
A
A
A
Nama lengkapnya Hakim Nuruddin Abdurrahman Jami’ (1414-1492) dan populer dengan Hakim Jami' . Idries Shah (1924 –1996) menyebut Jami' adalah seorang yang jenius, ia membuat para pendeta dan pujangga di zamannya benar-benar merasa tidak nyaman.
"Terutama sejak konvensi, dimana tidak seorang pun kelihatan hebat kecuali ia merendahkan diri," tulis Idries Shah dalam bukunya berjudul "The Way of the Sufi".
Baca juga: Rabi'ah Al-‘Adawiyah, Sang Guru Tokoh -Tokoh Sufi Dunia
Dalam karyanya Alexandrian Book of Wisdom, Jami' menunjukkan bahwa mata rantai penyebaran esoteris Sufi Asia Khajagan (para 'Guru'), sama dengan yang digunakan oleh penulis-penulis mistik Barat. Dalam penyebaran Sufi, ia menempatkan beberapa nama sebagai guru, seperti Plato, Hippocrates, Pythagoras dan Hermes Trismegistos.
Idries Shah menjelaskan Jami' merupakan murid Sadedin Kasygari, pimpinan aliran Naqsyabandiyah, yang berhasil memimpin di wilayah Herat, Afghanistan. Kesetiaannya yang tertinggi kepada Khaja Obaidullah Ahrar, Pemimpin Aliran (madzhab).
Salah satu ucapan Jami' yang ringkas, menggambarkan persoalan seluruh guru Sufi yang menolak untuk menerima murid atas dasar penilaian mereka sendiri.
"Para pencari banyak sekali: tetapi hampir seluruhnya adalah pencari pengembangan pribadi. Dapat kutemukan hanya beberapa Pencari tentang Kebenaran."
Ataukah itu hanya merupakan keprihatinannya. Beberapa pecandu agama di Baghdad, mencoba mendiskreditkannya, telah salah mengutip sebagian dari karyanya Chain of Gold, dan menciptakan suatu keributan yang dengan menggelikan terus diperdebatkan publik.
Menurut Idries Shah, setelah Jami' almarhum, hal-hal seperti itu dapat terjadi di semua komunitas yang disebut manusia.
Tulisan dan ajaran Jami', pada akhirnya membuat dirinya begitu terkenal, sehingga kaum monarki kontemporer, dari Sultan Turki ke bawah, secara konstan mengganggunya dengan menawarkan sejumlah besar emas dan hadiah lain, dan memohon menghiasi istana mereka. Seruannya yang diucapkan publik juga menjengkelkan dirinya, pada ketakjuban khalayak, yang tidak dapat memahami bahwa ia menginginkan mereka untuk tidak menerimanya sebagai pahlawan, melainkan melakukan sesuatu untuk diri mereka sendiri.
"Terutama sejak konvensi, dimana tidak seorang pun kelihatan hebat kecuali ia merendahkan diri," tulis Idries Shah dalam bukunya berjudul "The Way of the Sufi".
Baca juga: Rabi'ah Al-‘Adawiyah, Sang Guru Tokoh -Tokoh Sufi Dunia
Dalam karyanya Alexandrian Book of Wisdom, Jami' menunjukkan bahwa mata rantai penyebaran esoteris Sufi Asia Khajagan (para 'Guru'), sama dengan yang digunakan oleh penulis-penulis mistik Barat. Dalam penyebaran Sufi, ia menempatkan beberapa nama sebagai guru, seperti Plato, Hippocrates, Pythagoras dan Hermes Trismegistos.
Idries Shah menjelaskan Jami' merupakan murid Sadedin Kasygari, pimpinan aliran Naqsyabandiyah, yang berhasil memimpin di wilayah Herat, Afghanistan. Kesetiaannya yang tertinggi kepada Khaja Obaidullah Ahrar, Pemimpin Aliran (madzhab).
Salah satu ucapan Jami' yang ringkas, menggambarkan persoalan seluruh guru Sufi yang menolak untuk menerima murid atas dasar penilaian mereka sendiri.
"Para pencari banyak sekali: tetapi hampir seluruhnya adalah pencari pengembangan pribadi. Dapat kutemukan hanya beberapa Pencari tentang Kebenaran."
Ataukah itu hanya merupakan keprihatinannya. Beberapa pecandu agama di Baghdad, mencoba mendiskreditkannya, telah salah mengutip sebagian dari karyanya Chain of Gold, dan menciptakan suatu keributan yang dengan menggelikan terus diperdebatkan publik.
Menurut Idries Shah, setelah Jami' almarhum, hal-hal seperti itu dapat terjadi di semua komunitas yang disebut manusia.
Tulisan dan ajaran Jami', pada akhirnya membuat dirinya begitu terkenal, sehingga kaum monarki kontemporer, dari Sultan Turki ke bawah, secara konstan mengganggunya dengan menawarkan sejumlah besar emas dan hadiah lain, dan memohon menghiasi istana mereka. Seruannya yang diucapkan publik juga menjengkelkan dirinya, pada ketakjuban khalayak, yang tidak dapat memahami bahwa ia menginginkan mereka untuk tidak menerimanya sebagai pahlawan, melainkan melakukan sesuatu untuk diri mereka sendiri.
Lihat Juga :