Hakim Jami', si Jenius yang Bikin Pujangga Tidak Nyaman

loading...
Hakim Jami, si Jenius yang Bikin Pujangga Tidak Nyaman
Hakim Jami adalah seorang yang jenius, ia membuat para pendeta dan pujangga di zamannya benar-benar merasa tidak nyaman. Foto/Ilustrasi: Ist
Nama lengkapnya Hakim Nuruddin Abdurrahman Jami’ (1414-1492) dan populer dengan Hakim Jami' . Idries Shah (1924 –1996) menyebut Jami' adalah seorang yang jenius, ia membuat para pendeta dan pujangga di zamannya benar-benar merasa tidak nyaman.

"Terutama sejak konvensi, dimana tidak seorang pun kelihatan hebat kecuali ia merendahkan diri," tulis Idries Shah dalam bukunya berjudul "The Way of the Sufi".

Baca juga: Rabi'ah Al-‘Adawiyah, Sang Guru Tokoh -Tokoh Sufi Dunia

Dalam karyanya Alexandrian Book of Wisdom, Jami' menunjukkan bahwa mata rantai penyebaran esoteris Sufi Asia Khajagan (para 'Guru'), sama dengan yang digunakan oleh penulis-penulis mistik Barat. Dalam penyebaran Sufi, ia menempatkan beberapa nama sebagai guru, seperti Plato, Hippocrates, Pythagoras dan Hermes Trismegistos.

Idries Shah menjelaskan Jami' merupakan murid Sadedin Kasygari, pimpinan aliran Naqsyabandiyah, yang berhasil memimpin di wilayah Herat, Afghanistan. Kesetiaannya yang tertinggi kepada Khaja Obaidullah Ahrar, Pemimpin Aliran (madzhab).

Salah satu ucapan Jami' yang ringkas, menggambarkan persoalan seluruh guru Sufi yang menolak untuk menerima murid atas dasar penilaian mereka sendiri.

"Para pencari banyak sekali: tetapi hampir seluruhnya adalah pencari pengembangan pribadi. Dapat kutemukan hanya beberapa Pencari tentang Kebenaran."

Ataukah itu hanya merupakan keprihatinannya. Beberapa pecandu agama di Baghdad, mencoba mendiskreditkannya, telah salah mengutip sebagian dari karyanya Chain of Gold, dan menciptakan suatu keributan yang dengan menggelikan terus diperdebatkan publik.

Menurut Idries Shah, setelah Jami' almarhum, hal-hal seperti itu dapat terjadi di semua komunitas yang disebut manusia.

Tulisan dan ajaran Jami', pada akhirnya membuat dirinya begitu terkenal, sehingga kaum monarki kontemporer, dari Sultan Turki ke bawah, secara konstan mengganggunya dengan menawarkan sejumlah besar emas dan hadiah lain, dan memohon menghiasi istana mereka. Seruannya yang diucapkan publik juga menjengkelkan dirinya, pada ketakjuban khalayak, yang tidak dapat memahami bahwa ia menginginkan mereka untuk tidak menerimanya sebagai pahlawan, melainkan melakukan sesuatu untuk diri mereka sendiri.

Ia tidak pernah berhenti menunjukkan, bahwa banyak orang yang berusaha mengalahkan rasa harga diri, melakukan demikian, karena dengan cara tersebut mereka dapat mengangkat diri mereka sendiri dengan kemenangan.

Baca juga: Jalaluddin Rumi, Raksasa Afghanistan yang Mempengaruhi Barat

Kemunafikan
Idries Shah menyebut bahwa tercatat dalam "Tradisi dari Guru" bahwa suatu ketika Jami' berkata, ketika ditanya tentang kemunafikan dan kejujuran:

"Apa hebatnya kejujuran dan apa anehnya kemunafikan!"

"Aku berkelana ke Mekkah dan ke Baghdad, dan aku membuat percobaan tentang perilaku manusia. Ketika aku meminta mereka untuk jujur, mereka selalu memperlakukanku dengan hormat, karena mereka berpikir bahwa orang baik selalu berkata demikian, dan mereka telah belajar bahwa mereka harus bermimik sedih pada saat orang berbicara kejujuran. Ketika aku meminta mereka menghindari kemunafikan, mereka semua setuju.

Tetapi mereka tidak tahu ketika aku berkata 'kebenaran', aku tahu kalau mereka tidak tahu apa kebenaran itu, dan kemudian mereka atau aku menjadi munafik.

Mereka pun tidak tahu bahwa ketika aku mengatakan agar tidak munafik, mereka menjadi munafik karena tidak menanyakan caranya. Mereka tidak tahu pula kalau aku menjadi munafik, ketika mengatakan 'jangan munafik', sebab kata-kata tidak menyampaikan pesan dengan sendirinya.

Mereka menghargaiku, ketika aku berlagak munafik. Mereka sudah diajari untuk bertingkah demikian. Mereka menghormati diri sendiri sementara mereka berpikir secara munafik; karena merupakan kemunafikan berpikir, bahwa seseorang secara sederhana bertambah baik dengan berpikir bahwa menjadi munafik itu jelek.

Intinya, Jalan yang membawa ke (derajat) atas adalah: mempraktekkan dan memahami untuk tidak dapat (menjadi) munafik, di mana terdapat kejujuran dan tidak ada sesuatu yang menjadi tujuan manusia."

Baca juga: Imam Al-Ghazali, Sang Pemintal Dirinya Sendiri
(mhy)
preload video