Beda Haluan Politik antara Umar bin Khattab dan Abu Bakar

Selasa, 07 Juli 2020 - 15:11 WIB
loading...
Beda Haluan Politik...
Perintah Rasulullah agar meneruskan pengiriman pasukan Usamah, maka perintah ini harus terlaksana. Foto/Ilustrasi/Ist
A A A
Umar bin Khattab dan Abu Bakar adalah dua orang sahabat Rasulullah yang dijamin masuk surga . Selain itu, Rasulullah juga mengistimewakan keduanya. Hanya saja, dalam hal urusan politik keduanya tidak bisa dianggap sama. (Baca juga: Pesan Nabi, Teladanilah Dua Orang Ini Sepeninggalku )

Dari Hudzaifah radliyallahu'anhu berkata: 'Kami duduk-duduk di samping Nabi shallallahu 'alaihi wasallam lalu beliau bersabda: "Sesungguhnya aku tidak tahu sampai kapan aku akan hidup bersama kalian, oleh karena itu teladanilah dua orang sepeninggalku (sambil menunjuk Abu Bakar dan Umar bin Khattab)". (Hadis Jami' At-Tirmidzi No. 3596)

Baca juga: Biografi Abu Bakar, Sahabat Paling Terdepan Membela Rasulullah SAW

Dari Amru bin al-Ash, bahwa Rasulullah mengutusnya atas pasukan Dzatus Salasil:

"Aku lalu mendatangi beliau dan bertanya 'Siapa manusia yang paling engkau cintai?' beliau bersabda: "Aisyah". aku berkata: 'kalau dari lelaki?' beliau menjawab: "ayahnya (Abu Bakar)". 'Lalu siapa?' Beliau menjawab: "Umar" lalu menyebutkan beberapa orang lelaki." (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Dua figur yang sama-sama dicintai Nabi ini tidak serta merta selalu sependapat dalam masalah politik. Terkadang keduanya berbeda tajam dalam beberapa hal. (Baca Juga: Abu Bakar, Sahabat Nabi yang Memiliki 16 Keutamaan )

Kebijakan Abu Bakar sesudah dibaiat menjadi khalifah , tidak ingin ia meninggalkan apa pun yang pernah dilakukan oleh Rasulullah, dan tidak akan melakukan tindakan apa pun yang tidak dilakukan oleh Rasulullah. Oleh karena itu, perintah pertama yang dikeluarkan dalam pemerintahannya ialah meneruskan pengiriman pasukan yang sudah disiapkan Rasulullah dengan pimpinan Usamah bin Zaid untuk menyerbu Romawi di Syam. (Baca juga: Kehebatan Anak-anak Muda di Sekitar Rasulullah SAW )

Sejak masa Rasulullah, kaum Muslimin memang sudah tidak puas dengan perintah ini, sebab Usamah masih terlalu muda dalam usianya yang belum mencapai dua puluh tahun itu. Yang membuat mereka lebih tidak puas karena dikhawatirkan Madinah akan terperangkap ke dalam bahaya kalau Madinah ditinggalkan pasukan ini; orang-orang Arab akan menyerbunya dan akan merongrong kewibawaannya.

Baca juga: Istri-Istri Nabi Cemburu Berat dengan Maria, Umar Ikut Sibuk

Mereka berkata kepada Abu Bakar: "Mereka [yakni pasukan Usamah] Muslimin pilihan, dan seperti Anda ketahui, orang-orang Arab sudah memberontak kepada Anda. Maka semestinya mereka terpisah dari Anda."

Abu Bakar menjawab dengan cukup bijak: "Demi Yang memegang nyawa Abu Bakar, sekiranya ada serigala akan menerkam saya, niscaya akan saya teruskan pengiriman pasukan Usamah ini, seperti yang sudah diperintahkan Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam. Sekalipun di kota ini sudah tak ada orang lagi selain saya, tetap akan saya laksanakan!"

Baca juga: Ayat-Ayat Khamr: Di Zaman Pra-Islam Sudah Ada yang Haramkan Miras

Adakah politik Umar dalam situasi semacam ini sama dengan politik Abu Bakar dalam arti kekuatan dan kebijaksanaannya? Ada disebutkan bahwa Usamah meminta kepada Umar agar memintakan izin kepada Abu Bakar memanggil pasukan ke Madinah untuk membantu dalam menghadapi kaum musyrik.

Baca juga: Akhlak Umar bin Khattab dan Kesedihannya Ketika Nabi Wafat

Kaum Ansar berkata kepada Umar: "Kalau Abu Bakar menolak dan kami harus berangkat juga tolong sampaikan atas nama kami, agar yang memimpin kami orang yang usianya lebih tua dari Usamah."

Permintaan Usamah dan permintaan Ansar itu oleh Umar tidak ditolak. Ia langsung menemui Abu Bakar dan menyampaikan apa yang mereka minta. Tetapi jawaban Khalifah: "Sekiranya saya yang akan disergap anjing dan serigala, saya tidak akan mundur dari keputusan yang sudah diambil oleh Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam."

Baca juga: Ijtihad Umar bin Khattab dari Soal Khamar Sampai Urusan Jilbab )

Dan mengenai permintaan Ansar ia berkata: "Celaka Anda Umar! Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam yang menempatkan dia, lalu saya yang akan mencabutnya?"

Pasukan Usamah pun akhirnya berangkat. Di antara anggota pasukannya itu terdapat tokoh-tokoh kaum Muhajirin dan Ansar, termasuk Umar bin Khattab, yang tidak berbeda dengan yang lain, harus tunduk kepada kepemimpinan Usamah sebagai komandan pasukan.

Baca juga: Sebelum Kenabian, Sepupu Umar bin Khattab Sudah Berakidah Tauhid

Abu Bakar juga ikut pergi melepas dan menyampaikan pesan kepada pasukan itu. Setelah tiba saatnya ia akan kembali, ia berkata kepada Usamah: "Usamah, kalau menurut pendapat Anda Umar perlu diperbantukan kepada saya, silakan." Usamah mengizinkan Umar meninggalkan pasukannya itu dan kembali (ke Madinah) bersama Abu Bakar.

Muhammad Husain Haekal dalam “Umar bin Khattab” mengatakan sebaiknya kita berhenti sejenak untuk memberikan perhatian tentang perbedaan haluan politik ini antara Abu Bakar dengan Umar. “Abu Bakar hanya seorang pengikut, bukan pembaru. Apa yang dikerjakan oleh Rasulullah akan dikerjakannya. Terserah apa yang akan dikatakan oleh kaum Muslimin, kendati mereka akan menentang pendapatnya. Ia tak akan mendengarkan apa yang mereka katakan selama perintah itu dari Rasulullah,” tulisnya.

Baca juga : Khalifah Umar Pecat Khalid bin Walid demi Selamatkan Tauhid Umat

Perintah Rasulullah agar meneruskan pengiriman pasukan Usamah, maka perintah ini harus terlaksana. Menurut Haikal, biar Muhajirin dan Ansar berselisih, biar seluruh jazirah berontak. Madinah sekalipun, biar terperangkap dalam bahaya. Semua itu tidak akan membuat Abu Bakar mundur dari melaksanakan perintah Rasulullah.

“Bukankah dia sudah menjadi pilihan Allah dan Qur'an sudah diwahyukan kepadanya, sudah diberi janji kemenangan dan Allah akan menjaga agama-Nya! Bagaimana seorang Muslim yang sudah mengorbankan dirinya tidak akan melaksanakan perintahnya. Bagaimana pula penggantinya yang pertama akan menjadi orang yang pertama pula melanggar!” ujar Haekal.

Baca juga: Preman Pasar Ukaz yang Jago Gulat dan Pacuan Kuda Itu Bernama Umar

Sikap Umar tentang Usamah
Bagi Umar, sudah menjadi kewajiban seorang politikus mempertimbangkan segala peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Di antara sekian banyak peristiwa itu adanya perbedaan pendapat antara Muhajirin dengan Ansar, yang pada masa Rasulullah tidak tampak, seperti yang kemudian terjadi di Saqifah, dan pembangkangan orang-orang Arab terhadap kekuasaan Madinah tidak setajam pemberontakan bani setelah tersiar berita tentang kematian Rasulullah di segenap penjuru Semenanjung Arab.

Kaum Muslimin waktu itu sangat menaati segala perintah Rasulullah dengan sungguh-sungguh dan penuh keimanan. Menurut Haekal, Abu Bakar tidak berhak menuntut orang agar menaatinya seperti menaati Rasulullah yang sudah menjadi pilihan Allah. Maka sudah seharusnya Khalifah memperhatikan semua masalah itu dan sudah seharusnya pula ia menjadi seorang politikus yang dapat mengatur segala persoalan dengan penalaran dan pandangan yang lebih tajam, sesudah tak ada lagi kepengurusan atau kekuasaan yang akan dapat mengawasinya dengan sungguh-sungguh dan sesudah wahyu pun terputus dengan meninggalnya Rasulullah.

(Baca juga: Beberapa Kali Umar Berselisih Pendapat dengan Rasulullah ).

Haekal mengatakan ini merupakan perbedaan dasar antara kedua tokoh itu dalam menjalankan politik negara. Tetapi perbedaan ini tak sampai mengurangi penghargaan mereka masing-masing serta kecintaan dan penghormatan mereka satu sama lain. Oleh karenanya, Umar tetap menjalankan kewajibannya terhadap Abu Bakar, dan tidak lebih ia hanya menyampaikan pendapat kaum Muslimin dan dia mendukungnya dengan alasannya sendiri.

Setelah Abu Bakar bersikeras dengan pendapatnya, Umar pun berangkat sebagai seorang prajurit yang berjuang di jalan Allah di bawah pimpinan Usamah.

“Mengapa tidak akan dilakukannya, dia pula yang telah membaiat Abu Bakar dan mengakuinya sebagai pengganti Rasulullah. Abu Bakar pun menjalankan kewajibannya terhadap Umar, dipilihnya ia sebagai wazir-nya, sebagai tangan kanannya, untuk memberikan saran-saran kepadanya seperti kepada Rasulullah dulu,” tulis Haekal. “Dengan demikian, hubungan antara kedua orang ini tetap akrab dan penuh keikhlasan, saling menghormati dan bantu-membantu, demi kepentingan Islam dan kaum Muslimin,” lanjutnya.

Baca juga: Tsauban: Jangan Kabari Rasulullah

Penolak Zakat
Perbedaan pendapat demikian antara dua tokoh ini dengan pasukan Usamah masih terjadi dalam menghadapi pendukung-pendukung Romawi di bagian utara Semenanjung Arab, yaitu tatkala kabilah-kabilah Abs dan Zubyan yang berdekatan dengan Madinah tak mau menunaikan zakat.

Abu Bakar berpendapat akan memerangi mereka, dan menangkis alasan mereka yang menentang pendapatnya dengan mengatakan: "Demi Allah, orang keberatan menunaikan zakat kepada saya, yang dulu mereka lakukan kepada Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam, akan saya perangi."

Umar termasuk orang yang menentangnya dan yang berpendapat mengambil jalan damai dengan mereka yang enggan membayar zakat itu dan lebih baik meminta bantuan mereka dalam memerangi kaum pembangkang.

Baca juga: Umar bin Khattab: Si Kidal Penggembala Unta dengan Ayah yang Pemarah

Umar begitu keras dalam membela pendapatnya itu sehingga kata-katanya agak tajam ditujukan kepada Abu Bakar. "Bagaimana kita akan memerangi orang yang kata Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam; 'Aku diperintah memerangi orang sampai mereka berkata: Tiada tuhan selain Allah dan Muhammad Rasul-Nya. Barang siapa berkata demikian, darah dan hartanya dijamin, kecuali dengan alasan, dan masalahnya kembali kepada Allah."

Tantangan Umar itu dijawab oleh Abu Bakar dengan mengatakan: "Demi Allah, saya akan memerangi siapa saja yang memisahkan salat dengan zakat. Zakat adalah kewajiban harta. Dan dia sudah berkata: 'sesuai dengan kewajiban zakat.'

Dengan perbedaan pendapat yang demikian rupa, dengan tanggung jawab sepenuhnya yang harus dipikulkan ke bahu Abu Bakar dalam memerangi mereka yang enggan membayar zakat dan berhasil mengalahkan mereka, persahabatan antara keduanya tidak berubah.

Baca juga: Yaman Pra-Islam: Abrahah dan Pembantaian 20.000 Umat Nasrani

Umar tetap mendampingi Abu Bakar dengan berjuang dalam barisan Muslimin. Dia memang laki-laki yang penuh disiplin, dan Abu Bakar memang yang bertanggung jawab dalam urusan negara.

Umar berkewajiban memberikan pendapat kepadanya, dan menjadi kewajibannya menaati segala perintah Khalifah, dan semua ini sudah dilakukannya. Kemudian ia tetap sebagai wazir-nya, sebagai tangan kanannya yang patuh dan menghargai pendapatnya.

Baca juga: Ka'bah: Kisah Paganisme Pasca-Nabi Ismail dan Pra-Islam

Abu Bakar berhasil menghadapi mereka yang menolak membayar zakat, dan keberhasilan ini merupakan bukti yang nyata ketepatan pendapatnya dan kebijakan politiknya.

Tentang Umar mengenai hal ini ada disebutkan bahwa ia berkata: "Sungguh, apa yang saya saksikan ini ternyata Allah memang telah melapangkan dada Abu Bakar dalam menghadapi perang, maka saya tahu bahwa dia benar."

Sesudah keberhasilan ini, tak ada lagi orang menentang maksud Abu Bakar hendak memerangi kaum pembangkang di seluruh Semenanjung Arab. Barangkali Muslimin sekarang melihat bahwa laki-laki yang telah mendampingi Rasulullah selama dua puluh tahun itu telah mendapat tiupan semangat Rasulullah sehingga ia dapat melihat dengan cahaya Allah, dengan nur ilahi, yang tak terlihat oleh orang lain, dan mendapat ilham yang tak diperoleh orang lain. (Baca juga: Membakar Masjid Kaum Munafik, Matinya Abdullah Bin Ubay )
(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Rahasia Keharmonisan...
Rahasia Keharmonisan Rumah Tangga Menurut Kisah Umar bin Khattab
Doa Umar bin Khattab...
Doa Umar bin Khattab agar Bisa Meninggal di Tanah Suci
Kisah Uwais Al Qarni...
Kisah Uwais Al Qarni : Menggendong Ibunya dari Yaman ke Makkah untuk Melaksanakan Haji
Kisah Sahabat Nabi dari...
Kisah Sahabat Nabi dari Iran : Salman Al Farisi Sempat Menjadi Penjaga Api Agama Majusi
Kisah Khalifah Umar...
Kisah Khalifah Umar bin Khattab yang Ingin Mati Syahid dan Doa-doanya
Kisah Sahabat Nabi :...
Kisah Sahabat Nabi : Debat Sengit Khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khattab Tentang Pembangkang Bayar Zakat
Rekomendasi
Jepang Menemukan 7.000...
Jepang Menemukan 7.000 Lebih Pulau Baru
7 Hewan yang Memanfaatkan...
7 Hewan yang Memanfaatkan Magnet Bumi untuk Navigasi
Es Antartika Terus Mencair,...
Es Antartika Terus Mencair, Ilmuwan Ungkap Hal Menakutkan Ini
Artikel Terkini
Dahsyatnya Bismillah,...
Dahsyatnya Bismillah, Doa Perisai Diri yang Ampuh dari Segala Kejahatan dan Gangguan
Keutamaan Bismillah...
Keutamaan Bismillah yang Jarang Diketahui, Dosa Diampuni dan Amal Kebaikan Dilipatgandakan
Menag Nasaruddin Umar,...
Menag Nasaruddin Umar, Andra Soni, dan Saleh Husin Hadiri MTQ Imam Masjid Se-Banten di Masjid Raya Baitul Mukhtar BSD
Cristiano Ronaldo Viral...
Cristiano Ronaldo Viral Ucap Bismillah, Bolehkah Hanya Bismillah atau Bismillahirrahmanirrahim? Ini Penjelasan Ulama
Mengapa Berbhakti pada...
Mengapa Berbhakti pada Ibu Didahulukan dalam Islam? Ini Penjelasan Al Quran dan Hadis
Kisah Uwais Al-Qarni,...
Kisah Uwais Al-Qarni, Teladan Berbakti kepada Orang Tua yang Dijamin Doanya Mustajab
Infografis
Abu Musa Jabir Bin Hayyan,...
Abu Musa Jabir Bin Hayyan, Ilmuwan Islam di Bidang Kimia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved