Perjalanan Spiritual Lex Hixon, Mimpi Bertemu Rasulullah SAW

Sabtu, 05 November 2022 - 09:27 WIB
loading...
Perjalanan Spiritual...
Lex Hixon (1941–1995) dikenal sebagai Syaikh Nur al-Jerrahi dalam komunitas Sufi. Foto/Ilustrasi: pir press
A A A
Lex Hixon (1941–1995) dikenal sebagai Syaikh Nur al-Jerrahi dalam komunitas Sufi . Dia adalah seorang penulis, penyair, dan guru spiritual Sufi Amerika Serikat . Anehnya, dia tidak merasa berpindah agama. Lex Hixon mengaku bermimpi bertemu Rasulullah SAW . Berikut penuturannya:

Baca juga: Kisah Perjalanan Rohani Muhammad Ali: Malcolm, Ingat David dan Goliath

Kontak pertama saya dengan Islam dimulai ketika saya berumur 17 tahun. Waktu itu saya sedang mengunjungi seorang teman di Washington, D.C. Pada sore hari saya biasa berjalan-jalan di dekat bangunan pada saat itu mungkin merupakan satu-satunya masjid besar di Amerika Serikat, yaitu Islamic Center yang berdiri gagah dengan kubah dan dengan arsitekturnya yang Islami. Waktu itu saya mendapat perasaan bahwa bangunan itu adalah bangunan yang penting.

Suatu kali, saya mengetuk pintu depan bangunan itu. Tak ada seorang pun di sana. Sesuatu mendorong saya untuk masuk. Saya berjalan berkeliling ke bagian belakang bangunan itu. Saya mengangkat salah satu jendela untuk memasuki sebuah kelas. Lalu saya naik ke tingkat atas, di sana ada sebuah rak sepatu dan di rak tersebut ada sepasang sandal yang sudah usang.

Saya melepas sepatu saya dan masuk ke dalam masjid. Saya berada di sana sendirian selama setengah jam. Saya duduk di atas permadani yang indah, merasakan suasana religius yang luar biasa. Kemudian saya mengambil sepatu saya dan menentengnya keluar melalui pintu depan.

Kesadaran saya terusik: Mungkin pintu depan itu tidak dikunci dengan benar. Mungkin orang yang bertanggung jawab atas tempat ini akan disalahkan karena sesuatu. Saya kembali dan mengetuk dengan keras. Saya berteriak-teriak. Akhirnya seseorang keluar dari ruang bawah tanah. Saya menunjukkan padanya apa yang telah saya lakukan. Saya menunjukkan kepadanya tempat di mana jendelanya terbuka. Dia tidak marah atau gusar.

Saya menceritakan kejadian itu kepada syaikh saya, Muzaffer (Syaikh Muzaffer Ozak dari Istambul, pimpinan kelompok Halveti-Jerrahi). Komentarnya hanyalah, "Dengan cara itulah engkau dibimbing."

Ketika kuliah di Universitas Columbia saya mempelajari agama-agama di dunia. Saya bergabung dengan stasiun radio di New York. Selama empat belas tahun saya melakukan wawancara mingguan dengan para pimpinan dan guru-guru agama dari berbagai kelompok aliran. Dan di stasiun radio itulah saya berjumpa dengan dua syaikh yang hebat. Yang satu adalah Bawa Muhaiyaddeen dari Sri Lanka, yang mempunyai masjid di Philadelphia dan wafat pada 1986. Selama itu saya telah mewawancarainya sebelas kali dan saya menjadi sangat dekat dengannya.

Syaikh yang satu lagi adalah Muzaffer Ozak. Saya juga mewawancaramya di radio. Saya belum pernah bertemu Syaikh Muzaffer sebelum mewawancarainya. Saya hanya melihatnya duduk di sana dengan tenang.

Kami mengatur semua mikrofon, dan saya minta agar program itu dimulai dengan suara azan. Lalu syaikh itu duduk di hadapan saya. Acara itu disiarkan dari puncak Empire State Building (azan yang kami udarakan membuat Empire State Building menjadi minaret tertinggi di dunia)-ketika panggilan sholat itu dikumandangkan, saya memandang wajah syaikh tersebut.

Terlihat tetesan air mata mengalir di wajahnya. Saya pikir: Sungguh sebuah ketulusan spiritual! Dia mendengar panggilan itu lima kali sehari, tetapi tetap saja air matanya berlinang setiap kali mendengarnya.

Baca juga: Kisah Mualaf Jerman Murad Wilfred Hoffman Pergi Haji

Belakangan saya mengetahui bahwa interpretasi saya tidak tepat. Sebenarnya dia mencucurkan air mata karena dia merasa mengenali saya sebagai penerusnya, wakilnya. Setiap syaikh mempunyai beberapa penerus. Ada demokrasi yang nyata dalam kolompok darwis. Tak seorang pun yang merasa lebih utama dari yang lain.

Itu terjadi pada hari Minggu. Kemudian hari Selasa malam, syaikh itu memberikan zikir pertamanya di Katedral St. John. Melalui salah seorang darwisnya dia mengirimi saya setangkai bunga mawar. Saya memutuskan untuk tidak masuk ke dalam lingkaran peserta acara zikir itu. Saya berdiri di sudut dengan memegang mawar itu, dan dia terus memandang saya dari tengah lingkaran tersebut.

Kemudian dia mengundang saya untuk datang pada hari Kamis malam ke tempat tinggalnya di Spring Valley, New York. Di sana dia akan melakukan zikir. Sebelum pergi, dia mencium kening saya. Itu merupakan suatu bentuk transmisi spiritual yang sangat hebat.

Malam itu saya melihat kitab tentang 99 nama Allah. Ada dua nama yang sangat menarik bagi saya melebihi yang lainnya. Pertama adalah al-Aziz, Yang Maha Kuasa. Kedua adalah Al-Nur, Cahaya. Saya mengingat-ingat kedua nama itu dalam pikiran dan hati saya sampai saya tertidur. Kemudian pada hari Kamis, saya pergi ke tempat kediamannya.

Sepanjang perjalanan ke sana, saya selalu mengulang-ulang La ilaha ill Allah keras-keras. Ketika tiba di sana hal pertama yang dikatakan Syaikh Muzaffer kepada saya adalah, "Kami telah mendengar kedatanganmu."

Seorang syaikh yang mulia memperlihatkan kekuatannya yang penuh keajaiban. Mereka tidak memamerkannya di segala tempat. Mereka hanya mengisyaratkan hal itu, dan jika Anda menerimanya, itu akan sangat berarti bagi Anda.

Malam itu kami melakukan zikir bersama-sama. Keesokan harinya dia berkata, "Saya ingin menjadikan Anda sebagai darwis saya. Saya ingin memberikan nama Arab untuk Anda." Dia melanjutkan, "Namamu adalah Nur."

Dan saya berkata, "Saya mempunyai sebuah nama untukmu: Aziz" --karena kedua nama itulah yang selalu saya pikirkan. Dan semua darwis yang ada di sana terkejut karena Aziz adalah nama rahasia kelompok itu.

Pada musim panas itu, Ramadhan jatuh pada bulan Agustus. Dia meminta saya untuk datang ke Istambul dan melewatkan bulan Ramadhan bersamanya. Dia berkata untuk mempersiapkan diri menghadapi bulan Ramadhan itu saya harus membaca La ilaha illa Allah 70.000 kali: sehari 700 kali selama seratus hari, dan saya mengerjakannya. (Saya mengalami banyak pengalaman penting dalam proses tersebut). Dan ketika sampai di Istambul, saya mendapat masa percobaan saya yang pertama dalam kelompok itu.

Baca juga: Mualaf Jerman Murad Hoffman Bicara tentang Pluralisme dalam Islam

Peristiwa itu terjadi dengan cara yang lucu. Malam itu tak ada penerjemah bahasa Inggris. Di sana ada seratus pasangan laki-laki dan perempuan Turki yang berada di tekke (pondok, tempat kumpul kaum sufi) yang terpisah. Mereka tidak saling tampak karena bentuknya yang khusus. Di tekke kami, wanita dan laki-laki duduk bersama-sama dan melakukan zikir bersama --di dua lingkaran terpisah tetapi bersama-lama.

Sebuah permadani tua yang indah dibawa ke dalam. Dia berlutut di atasnya, dan dua khalifah seniornya menggandeng tangan saya dan membimbing saya melewati empat langkah ini: syari'ah, tariqah, haqiqah, dan ma'rifah, yang mewakili seluruh aliran spiritual itu.

Saya berlutut dengan saling menyentuhkan lutut dengan syaikh dan kami saling berpegangan tangan kanan. Saat itu, saya tidak mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi. Tak ada penerjemah di sana. Saya menangkap kesan bahwa itu merupakan inisiasi.

Dia membimbing saya membaca syahadat. Dan membawa saya bersalaman dengan seluruh anggota kelompok. Lalu dia membaca doa yang panjang (dia sangat berbakat dalam membaca doa, dia dapat membaca doa yang bagus itu selama sepuluh sampai lima belas menit terus menerus). Semua orang menangis, dan semua orang ingin mencium saya.

Keesokan harinya, seseorang yang dapat berbahasa Inggris sedikit mengunjungi saya. Dia berkata, "Bagaimana rasanya berpindah agama?" Karena saya dibesarkan sebagai pemikir yang bebas, tanpa keterikatan pada satu tradisi agama pun, saya tidak merasa bahwa saya telah mengganti agama saya.

Saya merasa itu sebagai pengukuhan agama yang dimiliki oleh seseorang, yang datang dalam bentuk yang berbeda, dalam kebudayaan yang berbeda, dalam waktu yang berbeda, tapi berdasarkan pada kebenaran yang satu.

Jadi agama itu merupakan satu kesatuan yang saya yakin tidak dapat diubah-ubah oleh siapa pun. Saya pikir kebenaran itu dimiliki oleh setiap orang secara alami.

Di Istambul, syaikh itu mendapat ilham untuk menjadikan saya seorang syaikh. Tetapi itu merupakan tanggung jawab yang terlalu berat bagi saya saat itu. Saya takut akan prospeknya. Saya tidak menginginkan tanggung jawab itu. Saya tidak ingin menanggung beban yang berat dengan menjadi seorang pembimbing agama, seorang pemuka agama.

Jadi saya melarikan diri dari Istambul pada malam Lailatul Qadr di bulan Ramadhan tahun 1978. Saya ingat ketika meninggalkan tekke saya tidak dapat menemukan sepatu saya; di sana ada setumpuk sepatu milik ratusan darwis yang datang untuk memuliakan malam itu. Jadi saya harus berjalan tanpa alas kaki.

Telapak kaki saya dapat merasakan halusnya batu jalanan yang telah dipergunakan selama bertahun-tahun oleh kendaraan yang lalu-lalang di sana. Saya berlari dan menangis di sepanjang jalanan Istambul dengan hanya memakai kaus kaki. Saya merasa seperti pengantin laki-laki yang melarikan diri dari altar.

Baca juga: Catatan Seorang Mualaf Jerman: Masyarakat Alkohol, Nikotin, dan Daging Babi

Saya kembali ke hotel, mengemasi barang-barang saya dan pergi ke bandar udara. Esok paginya saya mendapat pesawat dan kembali ke Amerika Serikat. Effendi (syaikh) itu sangat terkejut. Dia sangat sedih.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Kisah Hikmah : Tidak...
Kisah Hikmah : Tidak Melakukan Ibadah Haji Tapi Dapat Pahala Haji, Kok Bisa?
Kisah Bulan Zulhijjah...
Kisah Bulan Zulhijjah : Diijabahnya Doa Nabi Zakaria Mendapatkan Keturunan di Umur 90 Tahun
Kisah Uwais Al Qarni...
Kisah Uwais Al Qarni : Menggendong Ibunya dari Yaman ke Makkah untuk Melaksanakan Haji
Kisah Hikmah : Laki-laki...
Kisah Hikmah : Laki-laki yang Selamat dari Neraka karena Zikir Laa Ilaaha Illallaah
Kisah Hikmah : Diselamatkan...
Kisah Hikmah : Diselamatkan dari Siksa Kubur karena Fadilah Puasa Syawal
Kisah Hit, Seorang Waria...
Kisah Hit, Seorang Waria yang Hidup di Zaman Nabi SAW
Rekomendasi
Terdorong Gas Langit,...
Terdorong Gas Langit, Bumi Terperangkap di Lingkaran Magnet Raksasa
Bongkar Patung Buddha...
Bongkar Patung Buddha Berusia Ribuan Tahun, Ilmuwan Ungkap Sederet Fakta Menakutkan
10 Fenomena Alam Misterius...
10 Fenomena Alam Misterius yang Membius Mata Manusia
Artikel Terkini
9 Hadis tentang Pernikahan,...
9 Hadis tentang Pernikahan, Kaum Muslim Wajib Tahu!
Ingin Menikah? Bulan...
Ingin Menikah? Bulan Zulhijjah dan Muharram Jadi Waktu yang Penuh Keberkahan
Sama-Sama Ibadah ke...
Sama-Sama Ibadah ke Tanah Suci, Apa Bedanya Haji dan Umrah?
Kapan Tahun Baru Islam...
Kapan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriyah?
Cerita Unik Khalifah...
Cerita Unik Khalifah Al-Mahdi: Bangun Insfrastruktur Makkah dan Tradisi Parfum di Masjidil Haram
Data Kemenhaj, 6.333...
Data Kemenhaj, 6.333 Jemaah Haji Kembali ke Tanah Air
Infografis
Negara-negara dengan...
Negara-negara dengan Pertumbuhan Muslim Tercepat di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved