Muhasabah dalam Berpuasa

Rabu, 23 Mei 2018 - 07:00 WIB
Muhasabah dalam Berpuasa
Muhasabah dalam Berpuasa
A A A
Muhibbin
Rektor UIN Walisongo, Semarang

Tujuan berpuasa ialah agar menjadi manusia yang taqwa atau menjadi lebih baik dalam arti yang sesungguhnya. Yaitu manusia yang taat hukum, sabar, berdisiplin tinggi, mempunyai etos kerja tinggi, peka terhadap lingkungan, berbudi pekerti baik, santun, dan jauh dari sifat sombong serta sifat jelek lainnya.

Tetapi pertanyaannya apakah dalam menjalankan puasa setiap tahunnya kita telah berhasil menjadi manusia taqwa seperti itu? Tentu jawabannya sangat mudah, belum. Lantas, kalau puasa kita belum dapat menjadikan kita sebagai manusia taqwa seperti itu, apa yang kita dapatkan dengan berpuasa tersebut. Jangan-jangan kita hanya mendapatkan lapar dan dahaga semata, atau jangan-jangan puasa yang kita jalankan selama ini hanya untuk membebaskan kita dari jeratan dosa saja atau jangan-jangan.

Barangkali selama ini kita hanya takut siksa Tuhan sehingga kita “terpaksa” menjalankan ibadah puasa tersebut meskipun terasa sangat berat, menyengsarakan, dan bahkan dapat mengurangi produktivitas kerja kita. Sehingga kalau seandainya ibadah puasa itu hanya sebuah pilihan, maka kebanyakan kita akan memilih tidak berpuasa. Itulah realitas yang terjadi pada kebanyakan umat Islam. Karena itulah sangat wajar manakala puasa yang dilakukan tidak akan memberikan efek atau dampak apapun dalam dirinya, terkecuali rasa lapar dan dahaga.
Kalau memang kondisinya seperti itu maka sesungguhnya kita tidak layak untuk meneriakkan kemenangan saat usai menjalankan puasa tersebut, seperti yang selama ini kita lakukan. Teriakan kemenangan tersebut ternyata hanya untuk menunjukkan bahwa kita sudah bebas dari kewajiban puasa yang kita laksanakan dengan penuh keterpaksaan.

Tidak aneh kalau setelah puasa kebiasaan jelek yang selama Ramadhan ditinggalkan, akan diulangi lagi. Bahkan semua kebaikan yang dilakukan akan menjadi berantakan dan sama sekali tidak dihiraukan lagi setelah selesai Ramadhan.

Padahal kalau kita perhatikan tujuan puasa seperti yang saya sebutkan di atas tidak akan mungkin dapat digapai dengan kondisi seperti itu. Puasa tidak secara otomatis akan mengubah perilaku kita dari jelek menjadi baik, tetapi puasa yang benar dan dilaksanakan dengan penuh kesungguhan dan kesadaran tinggi serta dengan merenungkan hikmah yang terkandung di dalamnya. Kita yakin akan dapat memberikan dampak positif bagi diri kita, dan itulah yang kemudian dinamakan sebagai takwa.

Bagi orang yang menjalankan puasa dengan penuh kesadaran dan dapat memetik manfaat puasa, tentu akan menjalankannya dengan kerelaan dan kesenangan hati. Bukan dengan keterpaksaan. Bahkan bagi orang-orang tertentu yang sangat mendalam renungannya dalam menemukan hakikat dan hikmah puasa akan sangat kehilangan pada saat harus berpisah dengan Ramadhan.

Dalam hal ini Rasulullah Muhammad SAW pernah menggambarkan, “Kalau seandainya umatku mengetahui apa apa yang terdapat di Ramadan, tentu mereka akan berharap bahwa seluruh bulan dalam setahun merupakan Ramadhan semua”. Tentu apa yang disampaikan Nabi tersebut hanya sekadar penggambaran tentang betapa Ramadhan tersebut penuh dengan sesuatu yang sangat dirindukan oleh orang-orang saleh.

Tentu ada beberapa hal di seputar Ramadhan yang disampaikan oleh Nabi dan juga langsung oleh Tuhan, yang dapat mendorong dan memotivasi kita untuk menjalankan ibadah puasa, seperti jaminan ampunan atas dosa-dosa kita yang telah lampau, jaminan masuk surga, jaminan berlipat gandanya ganjaran yang akan kita peroleh. Dan yang terbesar ialah adanya malam yang dikenal dengan lailatul qadar, yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.

Namun, demikian sesungguhnya masih ada banyak lagi sesuatu yang lain yang tidak secara langsung diberitahukan kepada kita, dan hanya kitalah yang dapat menggalinya sendiri melalui renungan mendalam dan fokus. Dan sesuatu yang tidak disebutkan inilah kiranya yang akan membuat orang menjadi tergila-gila dengan Ramadhan dan sekaligus akan selalu merindukannya.
(rhs)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Raih Keutamaan Sepuluh...
Raih Keutamaan Sepuluh Hari Akhir Ramadhan
Marhaban Ya Ramadhan!...
Marhaban Ya Ramadhan! Inilah Alasan Kenapa Harus Bergembira Menyambutnya
Marhaban Ya Ramadhan!...
Marhaban Ya Ramadhan! Ada 8 Keutamaan Bagi yang Berpuasa
5 Hadis Populer Tentang...
5 Hadis Populer Tentang Keutamaan Puasa Ramadhan
Ibadah yang Kosong dari...
Ibadah yang Kosong dari Mengingat Allah Adalah Sia-sia
Alquran sebagai Lautan...
Alquran sebagai Lautan Ilmu
Rekomendasi
Iihhh... 13 Kaki Hewan...
Iihhh... 13 Kaki Hewan Ini Terlihat Sangat Aneh
Gara-gara Cheetos Jatuh...
Gara-gara Cheetos Jatuh Picu Kekacauan Ekosistem di Gua Terbesar di AS
Jantung Mumi Berusia...
Jantung Mumi Berusia 2.500 Tahun Ini Masih Berdenyut, Ilmuwan Ungkap Keganjilan Ini
Artikel Terkini
Baca Selawat Nabi 1000...
Baca Selawat Nabi 1000 Kali di Hari Jumat, Kelak Diperlihatkan Kedudukannya di Surga
Cemas karena Ekonomi...
Cemas karena Ekonomi Terpuruk? Baca Doa Ini Bakda Ashar Hari Jumat, InsyaAllah Mustajab!
Amalan Jumat: Raih Cahaya...
Amalan Jumat: Raih Cahaya dengan Membaca Surat Al-Kahfi
15.086 Jemaah Haji Reguler...
15.086 Jemaah Haji Reguler dan 7.547 Haji Khusus Telah Tiba di Indonesia
Keistimewaan Hari Jumat,...
Keistimewaan Hari Jumat, Yaumul Maiz Saat Allah Menampakan Diri di Surga
4 Amalan Hari Jumat...
4 Amalan Hari Jumat yang Jarang Diketahui, Pahalanya Dahsyat!
Infografis
Abu Musa Jabir Bin Hayyan,...
Abu Musa Jabir Bin Hayyan, Ilmuwan Islam di Bidang Kimia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved