Zubair: Orang Pertama yang Menghunuskan Pedang di Jalan Allah
Kamis, 11 Juni 2020 - 04:59 WIB
Zubair bin Awwam memang terkenal sebagai sosok yang pemberani dan dijuluki dengan orang pertama yang menghunuskan pedang di jalan Allah SWT (awwalu man salla sayfahu fi sabiilillah).
Baca juga: Ajaran Menakjubkan Sayidina Ali di Saat Bertempur
Meskipun masih terbilang remaja, keberanian Zubair bin Awwam ditopang oleh tubuhnya yang tinggi besar.
Menurut kitab Siyar A’lam al-Nubala digambarkan bahwa ketika Zubair bin Awwam menunggang kuda, maka kakinya bisa menyentuh tanah. Dalam kitab yang sama, dideskripsikan bahwa pribadi Zubair bin Awwam selalu wangi dan rapi dengan jenggot tipis menghiasi dagunya.
Ia salah seorang dari enam ahli syura, yang memusyawarahkan pengganti khalifah Umar bin Khattab. Ini merupakan pengakuan terhadap keilmuan dan kematangannya.
Baca juga: Penghulu Wanita di Surga, Sayyidah Fatimah Wafat di Bulan Ramadhan
Hawari Nabi
Zubair merupakan keponakan dari ibunda Khadijah radhiallahu ‘anha, karena ayahnya adalah saudara laki-laki ummul mukminin. Adapun ibunya adalah bibi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Shafiyyah binti Abdul Muthalib. Nasab laki-laki Quraisy ini adalah sebagai berikut: Zubair bin Awwam bin Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushay bin Kilab al-Qurasyi al-Asadi. Kunyahnya adalah Abu Abdullah, Hawari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Baca juga: Kisah Cinta Mengharukan Atikah dan Abdullah Putra Abu Bakar
Hawari Rasulullah ini dilahirkan 28 tahun sebelum hijrah, melalui perantara Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu. Zubair adalah seorang bangsawan terpandang dalam kaumnya. Namun, ia tak lepas dari siksaan kaum kafir Quraisy. Yang memimpin penyiksaan itu adalah pamannya sendiri.
Keislamannya menimbulkan kemarahan orang-orang kafir Quraisy, terutama dari kalangan keluarganya. Beliau pernah juga disekap di suatu kurungan, kemudian dipenuhi dengan embusan asap api agar sesak nafasnya, lalu mereka memaksa Zubair untuk keluar dari Islam. "Tolaklah olehmu Tuhan Muhammad itu, nanti kulepaskan kamu dari siksa ini.”
Baca juga: Teladan Sikap Wara Rasulullah dan Para Khulafaur Rasyidin
"Tidak.. ! Demi Allah, aku tak akan kembali kepada kekafiran untuk selama-lamanya!" jawab Zubair dengan pedas dan mengejutkan.
Zubair turut serta dalam dua kali hijrah, hijrah ke Habasyah lalu menikah dengan putri Abu Bakar , Asma binti Abu Bakar radhiallahu ‘anha, kemudian ke Madinah dan mendapat anugerah putra pertama yang diberi nama Abdullah dan putra kedua Mush’ab radhiallahu ‘anhuma.
Tak pernah ia ketinggalan dalam berperang atau bertempur. Banyaknya tusukan dan luka-luka yang terdapat pada tubuhnya dan masih berbekas sesudah lukanya itu sembuh membuktikan pula kepahlawanan Zubair dan keperkasaannya.
Dari Aurah dan Ibnu al-Musayyib keduanya berkata, “Laki-laki pertama yang menghunuskan pedangnya di jalan Allah adalah Zubair.” Peristiwa tersebut terjadi saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diganggu, lalu ia menghunuskan pedangnya kepada orang-orang yang mengganggu Nabi.(Baca juga : Perang Badar (1): Menguji Kesetiaan Kaum Anshar )
Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di hari Perang Ahzab, “Siapa yang akan memerangi Bani Quraidhah?” Zubair menjawab, “Saya (ya Rasulullah)” Beliau kembali bertanya, “Siapa yang akan memerangi Bani Quraidhah?” Zubair kembali merespon, “Saya” Lalu Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya setiap nabi memiliki hawari (teman-teman setia), dan hawariku adalah Zubair.”
Malaikat Jibril tampil dengan fisik Zubair bin Awwam di Perang Badar . Dari Aurah bin Zubair, “Zubair mengenakan mantel kuning (di hari itu), lalu Jibril turun dengan menyerupai Zubair. Di Perang Badar, Rasulullah menempatkan Zubair di sayap kanan pasukan, lalu ada sosok Zubair dekat dengan Rasulullah, beliau berkata kepadanya, “Perangilah mereka wahai Zubair!” Lalu orang itu menjawab, “Aku bukan Zubair.” Akhirnya Rasulullah mengetahui bahwa itu adalah malaikat yang Allah turunkan dengan sosok Zubair, untuk membantu kaum muslimin di Perang Badar. (Baca juga : Perang Badar (2): Bukti Dahsyatnya Kekuatan Doa dan Keyakinan)
Seorang sahabatnya yang telah menyaksikan bekas-bekas luka yang terdapat hampir pada segenap bagian tubuh Zubair bercerita, "Aku pernah menemani Zubair ibnul 'Awwam pada sebagian perjalanan dan aku melihat tubuhnya, maka aku saksikan banyak sekali bekas luka goresan pedang, sedang di dadanya terdapat seperti mata air yang dalam, menunjukkan bekas tusukan lembing dan anak panah.
Maka kataku kepadanya: "Demi Allah, telah kusaksikan sendiri pada tubuhmu apa yang belum pernah kulihat pada orang lain sedikit pun."
Baca juga: Islam Turun di Makkah, Benarkah Karena Wilayah Itu Paling Bejat?
Mendengar itu Zubair menjawab, "demi Allah, semua luka-luka itu kudapat bersama Rasulullah pada peperangan di jalan Allah."
Ketika perang Uhud usai dan pasukan Quraisy berbalik kembali ke Makkah, ia diutus Rasul bersama Abu Bakar untuk mengikuti gerakan tentara Quraisy dan menghalau mereka, hingga mereka menganggap Kaum Muslimin masih punya kekuatan, dan tidak terpikir lagi untuk kembali ke Madinah guna memulai peperangan yang baru.
Baca juga: Preman Pasar Ukaz yang Jago Gulat dan Pacuan Kuda Itu Bernama Umar
Abu Bakar dan Zubair memimpin tujuhpuluh orang Muslimin. Sekalipun mereka sebenarnya sedang mengikuti suatu pasukan yang menang, namun kecerdikan dan muslihat perang yang dipergunakan oleh ash-Shiddiq dan Zubair, membuat orang-orang Quraisy menyangka kaum Muslimin masih sangat kuat. Mereka berpikir, bahwa pasukan perintis yang dipimpin oleh Zubair dan ash-Shiddiq dan tampak kuat, tak lain sebagai pendahuluan dari balatentara Rasul yang menyusul di belakang. Oleh karena itu mereka bergegas mempercepat perjalanannya dan mengambil langkah seribu pulang ke Makkah.
Baca juga: Sebelum Kenabian, Sepupu Umar bin Khattab Sudah Berakidah Tauhid
Gandrung Sahid
Di samping Yarmuk, Zubair merupakan seorang prajurit yang memimpin langsung suatu pasukan. Sewaktu ia melihat sebagian besar anak buah yang dipimpinnya merasa gentar menghadapi balatentara Romawi yang menggunung maju, ia meneriakkan "Allahu Akbar". Ia maju membelah pasukan musuh yang mendekat itu seorang diri dengan mengayunkan pedangnya, kemudian kembali ke tengah-tengah barisan musuh yang dahsyat itu dengan pedang di tangan kanannya, menari-nari dan berputar bagaikan kincir, tak pernah melemah apalagi berhenti.
Baca juga: Ajaran Menakjubkan Sayidina Ali di Saat Bertempur
Meskipun masih terbilang remaja, keberanian Zubair bin Awwam ditopang oleh tubuhnya yang tinggi besar.
Menurut kitab Siyar A’lam al-Nubala digambarkan bahwa ketika Zubair bin Awwam menunggang kuda, maka kakinya bisa menyentuh tanah. Dalam kitab yang sama, dideskripsikan bahwa pribadi Zubair bin Awwam selalu wangi dan rapi dengan jenggot tipis menghiasi dagunya.
Ia salah seorang dari enam ahli syura, yang memusyawarahkan pengganti khalifah Umar bin Khattab. Ini merupakan pengakuan terhadap keilmuan dan kematangannya.
Baca juga: Penghulu Wanita di Surga, Sayyidah Fatimah Wafat di Bulan Ramadhan
Hawari Nabi
Zubair merupakan keponakan dari ibunda Khadijah radhiallahu ‘anha, karena ayahnya adalah saudara laki-laki ummul mukminin. Adapun ibunya adalah bibi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Shafiyyah binti Abdul Muthalib. Nasab laki-laki Quraisy ini adalah sebagai berikut: Zubair bin Awwam bin Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushay bin Kilab al-Qurasyi al-Asadi. Kunyahnya adalah Abu Abdullah, Hawari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Baca juga: Kisah Cinta Mengharukan Atikah dan Abdullah Putra Abu Bakar
Hawari Rasulullah ini dilahirkan 28 tahun sebelum hijrah, melalui perantara Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu. Zubair adalah seorang bangsawan terpandang dalam kaumnya. Namun, ia tak lepas dari siksaan kaum kafir Quraisy. Yang memimpin penyiksaan itu adalah pamannya sendiri.
Keislamannya menimbulkan kemarahan orang-orang kafir Quraisy, terutama dari kalangan keluarganya. Beliau pernah juga disekap di suatu kurungan, kemudian dipenuhi dengan embusan asap api agar sesak nafasnya, lalu mereka memaksa Zubair untuk keluar dari Islam. "Tolaklah olehmu Tuhan Muhammad itu, nanti kulepaskan kamu dari siksa ini.”
Baca juga: Teladan Sikap Wara Rasulullah dan Para Khulafaur Rasyidin
"Tidak.. ! Demi Allah, aku tak akan kembali kepada kekafiran untuk selama-lamanya!" jawab Zubair dengan pedas dan mengejutkan.
Zubair turut serta dalam dua kali hijrah, hijrah ke Habasyah lalu menikah dengan putri Abu Bakar , Asma binti Abu Bakar radhiallahu ‘anha, kemudian ke Madinah dan mendapat anugerah putra pertama yang diberi nama Abdullah dan putra kedua Mush’ab radhiallahu ‘anhuma.
Tak pernah ia ketinggalan dalam berperang atau bertempur. Banyaknya tusukan dan luka-luka yang terdapat pada tubuhnya dan masih berbekas sesudah lukanya itu sembuh membuktikan pula kepahlawanan Zubair dan keperkasaannya.
Dari Aurah dan Ibnu al-Musayyib keduanya berkata, “Laki-laki pertama yang menghunuskan pedangnya di jalan Allah adalah Zubair.” Peristiwa tersebut terjadi saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diganggu, lalu ia menghunuskan pedangnya kepada orang-orang yang mengganggu Nabi.(Baca juga : Perang Badar (1): Menguji Kesetiaan Kaum Anshar )
Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di hari Perang Ahzab, “Siapa yang akan memerangi Bani Quraidhah?” Zubair menjawab, “Saya (ya Rasulullah)” Beliau kembali bertanya, “Siapa yang akan memerangi Bani Quraidhah?” Zubair kembali merespon, “Saya” Lalu Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya setiap nabi memiliki hawari (teman-teman setia), dan hawariku adalah Zubair.”
Malaikat Jibril tampil dengan fisik Zubair bin Awwam di Perang Badar . Dari Aurah bin Zubair, “Zubair mengenakan mantel kuning (di hari itu), lalu Jibril turun dengan menyerupai Zubair. Di Perang Badar, Rasulullah menempatkan Zubair di sayap kanan pasukan, lalu ada sosok Zubair dekat dengan Rasulullah, beliau berkata kepadanya, “Perangilah mereka wahai Zubair!” Lalu orang itu menjawab, “Aku bukan Zubair.” Akhirnya Rasulullah mengetahui bahwa itu adalah malaikat yang Allah turunkan dengan sosok Zubair, untuk membantu kaum muslimin di Perang Badar. (Baca juga : Perang Badar (2): Bukti Dahsyatnya Kekuatan Doa dan Keyakinan)
Seorang sahabatnya yang telah menyaksikan bekas-bekas luka yang terdapat hampir pada segenap bagian tubuh Zubair bercerita, "Aku pernah menemani Zubair ibnul 'Awwam pada sebagian perjalanan dan aku melihat tubuhnya, maka aku saksikan banyak sekali bekas luka goresan pedang, sedang di dadanya terdapat seperti mata air yang dalam, menunjukkan bekas tusukan lembing dan anak panah.
Maka kataku kepadanya: "Demi Allah, telah kusaksikan sendiri pada tubuhmu apa yang belum pernah kulihat pada orang lain sedikit pun."
Baca juga: Islam Turun di Makkah, Benarkah Karena Wilayah Itu Paling Bejat?
Mendengar itu Zubair menjawab, "demi Allah, semua luka-luka itu kudapat bersama Rasulullah pada peperangan di jalan Allah."
Ketika perang Uhud usai dan pasukan Quraisy berbalik kembali ke Makkah, ia diutus Rasul bersama Abu Bakar untuk mengikuti gerakan tentara Quraisy dan menghalau mereka, hingga mereka menganggap Kaum Muslimin masih punya kekuatan, dan tidak terpikir lagi untuk kembali ke Madinah guna memulai peperangan yang baru.
Baca juga: Preman Pasar Ukaz yang Jago Gulat dan Pacuan Kuda Itu Bernama Umar
Abu Bakar dan Zubair memimpin tujuhpuluh orang Muslimin. Sekalipun mereka sebenarnya sedang mengikuti suatu pasukan yang menang, namun kecerdikan dan muslihat perang yang dipergunakan oleh ash-Shiddiq dan Zubair, membuat orang-orang Quraisy menyangka kaum Muslimin masih sangat kuat. Mereka berpikir, bahwa pasukan perintis yang dipimpin oleh Zubair dan ash-Shiddiq dan tampak kuat, tak lain sebagai pendahuluan dari balatentara Rasul yang menyusul di belakang. Oleh karena itu mereka bergegas mempercepat perjalanannya dan mengambil langkah seribu pulang ke Makkah.
Baca juga: Sebelum Kenabian, Sepupu Umar bin Khattab Sudah Berakidah Tauhid
Gandrung Sahid
Di samping Yarmuk, Zubair merupakan seorang prajurit yang memimpin langsung suatu pasukan. Sewaktu ia melihat sebagian besar anak buah yang dipimpinnya merasa gentar menghadapi balatentara Romawi yang menggunung maju, ia meneriakkan "Allahu Akbar". Ia maju membelah pasukan musuh yang mendekat itu seorang diri dengan mengayunkan pedangnya, kemudian kembali ke tengah-tengah barisan musuh yang dahsyat itu dengan pedang di tangan kanannya, menari-nari dan berputar bagaikan kincir, tak pernah melemah apalagi berhenti.
Lihat Juga :