Zubair: Orang Pertama yang Menghunuskan Pedang di Jalan Allah

Kamis, 11 Juni 2020 - 04:59 WIB
Zubair sangat gandrung menemui syahid! Amat merindukan mati di jalan Allah. la pernah berkata: "Thalhah bin Ubaidillah memberi nama anak-anaknya dengan nama nabi-nabi padahal sudah sama diketahui bahwa tak ada Nabi lagi sesudah Muhammad SAW maka aku menamai anak-anakku dengan nama para syuhada, semoga mereka berjuang mengikuti syuhada.

Seorang anaknya Abdullah bin Zubair mengambil berkat dengan sahabat yang syahid Abdullah bin Jahasy. Dinamainya pula seorang lagi al-Munzir bin Amr mengambil berkat dengan sahabat yang syahid al-Munzir bin Amar. Dinamainya pula yang lain 'Urwah mengambil berkat dengan 'Urwah bin Amar. Dan ada pula yang dinamainya Hamzah, mengambil berkat dengan syahid yang mulia Hamzah bin Abdul Muthalib. Ada lagi Ja'far, mengambil berkat dengan syahid yang besar Ja'far bin Abu Thalib.

Juga ada yang dinamakannya Mush’ab mengambil berkat dengan sahabat yang syahid Mush'ab bin Umair. Tidak ketinggalan yang dinamainya Khalid mengambil berkat dengan sahabat Khalid bin Sa'id. Demikianlah ia seterusnya memilih untuk anak-anaknya nama para syuhada, dengan pengharapan agar sewaktu datang ajal mereka nanti, mereka tercatat sebagai syuhada. ( Baca juga: Mush'ab Bin Umair, Sahabat Nabi Paling Ganteng dan Duta Islam Pertama (1)

Dalam riwayat hidupnya telah dikemukakan:"bahwa ia tak pernah memerintah satu daerah pun, tidak pula mengumpul pajak atau bea cukai, pendeknya tak ada jabatannya yang lain kecuali berperang pada jalan Allah". Kelebihannya sebagai prajurit perang tergambar pada pengandaiannya pada dirinya sendiri secara sempurna dan kepercayaan yang teguh. Sekalipun sampai seratus ribu orang menyertainya di medan tempur, namun akan kau lihat bahwa ia berperang seakan-akan sendirian di arena pertempuran. Seolah-olah tanggung jawab perang dan kemenangan terpikul di atas pundaknya sendiri. (Baca juga: Mush'ab Bin Umair, Sahabat Nabi Paling Ganteng dan Duta Islam Pertama (2)

Keistimewaannya sebagai pejuang, terlukis pada keteguhan hatinya dan kekuatan urat syarafnya. la menyaksikan pamannya Hamzah saat guguur di perang Uhud. Orang-orang musyrik telah menyayat-nyayat tubuhnya yang terbunuh itu dengan kejam, maka ia berdiri di mukanya dengan sikap satria menahan gejolak hati dengan memegang teguh hulu pedangnya. (Baca juga: Mush'ab Bin Umair, Sahabat Nabi Paling Ganteng dan Duta Islam Pertama (3)

Tak ada pikirannya yang lain daripada mengadakan pembalasan yang setimpal, tapi wahyu segera datang melarang Rasul dan Muslimin hanya mengingat soal itu saja.

Dan sewaktu pengepungan atas Bani Quraidha sudah berjalan lama tanpa membawa hasil, Rasulullah mengirimnya bersama Ali bin Abi Thalib. la berdiri di muka benteng musuh yang kuat serta mengulang-ulang ucapannya: "Demi Allah, biar kami rasakan sendiri apa yang dirasakan Hamzah, atau kalau tidak, akan kami tundukkan benteng mereka!"

(Baca juga: Beberapa Kali Umar Berselisih Pendapat dengan Rasulullah ).

Kemudian ia terjun ke dalam benteng hanya berdua saja dengan Ali. Dan dengan kekuatan urat syaraf yang mempesona, mereka berdua berhasil menyebarkan rasa takut pada musuh yang bertahan dalam benteng. Ia lalu membukakan pintu-pintu benteng tersebut bagi kawan-kawan mereka di luar.

Baca Juga: Biografi Umar Bin Khattab, Khalifah Kedua yang Menaklukkan Romawi dan Persia

Di perang Hunain, Zubair melihat pemimpin suku Hawazin yang juga menjadi panglima pasukan musyrik dalam perang tersebut nama-nama Malik bin Auf. Terihat olehnya sesudah pasukan Hawazin bersama panglimanya lari tunggang langgang dari medan perang Hunain, ia sedang berada di tengah-tengah gerombolan besar sahabat-sahabatnya bersama sisa pasukan yang kalah, maka secara tiba-tiba diserbunya rombongan itu seorang diri, dan dikucar -kacirkannya kesatuan mereka. Kemudian dihalaunya mereka dari tempat persembunyian yang mereka gunakan sebagai pangkalan untuk menyergap pemimpin-pemimpin Islam yang baru kembali dari arena peperangan.

Keluarga Zubair

Masa kecil Zubair bin Awwam dihabiskan di Makkah, memori remaja dipenuhi dengan perjuangan membela Islam dan Rasulullah pada masa-masa awal saat Islam masih terasing dan sedikit pengikut.

Baca juga: Kisah Syahidnya Umar bin Khattab dan Kenaikan Pajak

Dalam catatan Thabaqat al-Kubra Zubair bin Awwam menikah dengan Asma’ binti Abu Bakar al-Shiddiq dan dikaruniai 11 orang putra dan 9 orang putri. Zubair sempat menikahi 3 orang istri selain Asma’ yaitu Ummu Khalid, al-Rabab binti Unaif, dan Zainab.

Masih dalam kitab al-Thabaqat al-Kubra, diceritakan tentang keutamaan lain dari Zubair bin Awwam yang keluar langsung dari mulut Rasulullah saw. Rasul bersabda: “Setiap Nabi memiliki sahabat utama, sahabat utamaku adalah Zubair bin Awwam (Likulli Nabiyyin hawaariyyun wa hawarii al-Zubair bin Awwam).

Baca juga : Pesan Nabi, Teladanilah Dua Orang Ini Sepeninggalku

Karena bukan saja ia saudara sepupunya dan suami dari Asma binti Abu Bakar yang empunya dua puteri semata, tapi lebih dari itu adalah karena pengabdiannya yang luar biasa, keberaniannya yang perkasa, kepemurahannya yang tidak terkira dan pengurbanan diri dan hartanya untuk Allah Tuhan dari alam semesta.

Sungguh, Hasan bin Tsabit telah melukiskan sifat-sifatnya ini dengan indah sekali, katanya: "la berdiri teguh menepati janjinya kepada Nabi dan mengikuti petunjuknya. Menjadi pembelanya, sementara perbuatan sesuai dengan perkataannya. Ditempuhnya jalan yang telah digunakannya, tak hendak menyimpang daripadanya. Bertindak sebagai pembela kebenaran, karena kebenaran itu jalan sebaik-baiknya. (Baca juga : Khalifah Umar Pecat Khalid bin Walid demi Selamatkan Tauhid Umat )



Zubair bin Awwam radhiallahu ‘anhu wafat pada bulan Rabiul Awal tahun 36 H. Saat itu beliau berusia 66 atau 67 tahun. Setelah jasad Zubair dimakamkan, Khalifah Ali bin Abu Thalib mengucapkan kalimat perpisahan kepada Zubair, “Sungguh aku berharap bahwa aku, Thalhah, Zubair, dan Usman termasuk orang-orang yang difirmankan Allah,

وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَى سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ

“Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” (QS. Al-Hijr: 47)

Ali menatap kubur Zubair sambil mengatakan, “Sungguh kedua telingaku ini mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Thalhah dan Zubair berjalan di surga.” ( Baca juga : Dua Versi Tentang Kisah Masuknya Islam Umar Bin Khattab )



(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!