Tuntutlah Ilmu Sekalipun ke Negeri China, Bukan Hadis tapi Ungkapan Para Sufi
Senin, 15 Agustus 2022 - 10:57 WIB
Carilah ilmu, bahkan sampai ke Negeri China adalah suatu ungkapan yang kerapkali dinyatakan para sufi, lebih mempunyai pengertian literal atau bahkan figuratif. Foto/Ilustrasi: Ist
Kalimat "carilah ilmu, bahkan sampai ke Negeri China" atau "tuntutlah ilmu sekalipun ke negeri China" yang banyak diklaim sebagai hadis oleh sejumlah daiternyata ungkapan yang seringkali diucapkan kalangan sufi . Ungkapan ini lebih mempunyai pengertian literal atau bahkan figuratif.
Idries Shah dalam bukunya berjudul "The Sufis" menjelaskan soal itu. Menurut dia, maksud dari ungkapan ini (dapat) dikuak melalui analisa atas pemakaian kata "China", diinterpretasi melalui bahasa rahasia. "China" adalah kata sandi untuk pemusatan pemikiran, salah satu praktik Sufi, sebuah prasyarat utama bagi pengembangan sufi.
Baca juga: Tuntutlah Ilmu Walau ke Negeri China, Hadis atau Bukan?
Sementara, ungkapan itu adalah penting karena ia menunjukkan sebuah contoh koinsidensi dari kemungkinan interpretasi baik dalam bahasa Arab ataupun Persia. "Namun tidak ada hubungan yang jelas di antara keduanya," kata Idries Shah.
Kenyataannya, meskipun dieja dan dilafalkan secara berbeda, kata "China" dalam kedua bahasa tersebut secara substansial mengungkapkan konsep yang sama, mempunyai pemaknaan yang khusus bagi sufi.
Hadis Batil
Hanya saja, banyak dai yang menyebut kalimat, "tuntutlah ilmu sekalipun ke negeri China" adalah sebagai hadis.
Syaikh Muhammad Nashruddin al-Albani dalam kitabnya berjudul "Silsilatul-Ahaadiits adh-Dhaifah wal Maudhu'ah wa Atsaruhas-Sayyi' fil-Ummah" yang telah diterjemahkan A.M. Basamalah dengan judul "Silsilah Hadits Dha'if dan Maudhu'" menyebut tiwayat tersebut batil.
Kalimat yang disandarkan kepada Nabi SAW ini diriwayatkan oleh Ibnu Adi II/207, Abu Naim dalam Akhbar Ashbahan II/106, al-Khatib dalam at-Tarikh IX/364 dan sebagainya, yang keseluruhannya dengan sanad dari al-Hasan bin Athiyah, dari Abu Atikah Tharif bin Salman, dari Anas bin Malik ra. Kemudian semuanya menambahkan lafazh fa inna thalabal ilmi faridlatun 'ala kulli muslimin.
Baca juga: Tuntutlah Ilmu Walau ke Negeri Cina Ternyata Bukan Hadis Shahih
Idries Shah dalam bukunya berjudul "The Sufis" menjelaskan soal itu. Menurut dia, maksud dari ungkapan ini (dapat) dikuak melalui analisa atas pemakaian kata "China", diinterpretasi melalui bahasa rahasia. "China" adalah kata sandi untuk pemusatan pemikiran, salah satu praktik Sufi, sebuah prasyarat utama bagi pengembangan sufi.
Baca juga: Tuntutlah Ilmu Walau ke Negeri China, Hadis atau Bukan?
Sementara, ungkapan itu adalah penting karena ia menunjukkan sebuah contoh koinsidensi dari kemungkinan interpretasi baik dalam bahasa Arab ataupun Persia. "Namun tidak ada hubungan yang jelas di antara keduanya," kata Idries Shah.
Kenyataannya, meskipun dieja dan dilafalkan secara berbeda, kata "China" dalam kedua bahasa tersebut secara substansial mengungkapkan konsep yang sama, mempunyai pemaknaan yang khusus bagi sufi.
Hadis Batil
Hanya saja, banyak dai yang menyebut kalimat, "tuntutlah ilmu sekalipun ke negeri China" adalah sebagai hadis.
Syaikh Muhammad Nashruddin al-Albani dalam kitabnya berjudul "Silsilatul-Ahaadiits adh-Dhaifah wal Maudhu'ah wa Atsaruhas-Sayyi' fil-Ummah" yang telah diterjemahkan A.M. Basamalah dengan judul "Silsilah Hadits Dha'if dan Maudhu'" menyebut tiwayat tersebut batil.
Kalimat yang disandarkan kepada Nabi SAW ini diriwayatkan oleh Ibnu Adi II/207, Abu Naim dalam Akhbar Ashbahan II/106, al-Khatib dalam at-Tarikh IX/364 dan sebagainya, yang keseluruhannya dengan sanad dari al-Hasan bin Athiyah, dari Abu Atikah Tharif bin Salman, dari Anas bin Malik ra. Kemudian semuanya menambahkan lafazh fa inna thalabal ilmi faridlatun 'ala kulli muslimin.
Baca juga: Tuntutlah Ilmu Walau ke Negeri Cina Ternyata Bukan Hadis Shahih
Lihat Juga :