Meneladani Ibrahim (3): Ujian dan Kematangan Hidup
Kamis, 22 Juni 2023 - 20:29 WIB
loading...
A
A
A
Kuasa Allah berlaku. Api yang panas menjadi dingin bahkan menyenangkan Ibrahim dengan kuasaNya. Sebuah peristiwa yang melampaui daya nalar manusia yang kerap dibatasi oleh segala keterbatasaannya.
Skill Komunikasi dalam Berdakwah
Ada sebuah catatan menarik yang terjadi ketika terjadi dialog antara sang raja dan Ibrahim sebelum eksekusi itu terjadi: "Kamukah yang merusak tuhan-tuhan kami Wahai Ibrahim?" Ibrahim menjawab: "Tapi patung besar itulah sendiri yang melakukannya. Tanyakan kepadanya jika mereka mampu berbicara."
Sang raja menjawab: "Engkau tahu kalau mereka itu tidak berbicara."
Yang segera direspons oleh Ibrahim dengan kecerdikan dan logika: "Lalu wajarkah kalian menyembah mereka selain Allah? Sedangkan mereka tidak memberi manfaat apa-apa?"
Pelajaran terpenting dari dialog antara Ibrahim dan raja itu adalah bahwa seorang Muslim, apalagi para ulama dan Dai harus memiliki ketajaman logika, sekaligus kapabilitas dalam mengkomunikasikan kebenaran.
Kelemahan logika dan ketidakmampuan mengkomunikasikan kebenaran melahirkan Dai-dai yang kerap bermain dogma, mudah menyalahkan, bahkan mengkafirkan. Yang lebih berbahaya lagi ketika para Dai melakukan dakwah dengan metode bolduzer. Menghancurkan segala harapan hidayah atas nama dakwah. Bahkan lebih berbahaya meruntuhkan keindahan wajah Islam itu sendiri.
(bersambung)!
Baca Juga: Meneladani Ibrahim (2): Kesungguhan dalam Proses Mencari Hidayah
Skill Komunikasi dalam Berdakwah
Ada sebuah catatan menarik yang terjadi ketika terjadi dialog antara sang raja dan Ibrahim sebelum eksekusi itu terjadi: "Kamukah yang merusak tuhan-tuhan kami Wahai Ibrahim?" Ibrahim menjawab: "Tapi patung besar itulah sendiri yang melakukannya. Tanyakan kepadanya jika mereka mampu berbicara."
Sang raja menjawab: "Engkau tahu kalau mereka itu tidak berbicara."
Yang segera direspons oleh Ibrahim dengan kecerdikan dan logika: "Lalu wajarkah kalian menyembah mereka selain Allah? Sedangkan mereka tidak memberi manfaat apa-apa?"
Pelajaran terpenting dari dialog antara Ibrahim dan raja itu adalah bahwa seorang Muslim, apalagi para ulama dan Dai harus memiliki ketajaman logika, sekaligus kapabilitas dalam mengkomunikasikan kebenaran.
Kelemahan logika dan ketidakmampuan mengkomunikasikan kebenaran melahirkan Dai-dai yang kerap bermain dogma, mudah menyalahkan, bahkan mengkafirkan. Yang lebih berbahaya lagi ketika para Dai melakukan dakwah dengan metode bolduzer. Menghancurkan segala harapan hidayah atas nama dakwah. Bahkan lebih berbahaya meruntuhkan keindahan wajah Islam itu sendiri.
(bersambung)!
Baca Juga: Meneladani Ibrahim (2): Kesungguhan dalam Proses Mencari Hidayah
(rhs)
Lihat Juga :