Dialah Tokoh Penggerak Pan-Islamisme untuk Melawan Kolonialisme

Senin, 27 Juli 2020 - 05:00 WIB
loading...
A A A
2. Berusaha untuk menghentikan gerakan negara-negara kolonialis Eropa dan Rusia, tatkala mereka sadar bahwa kaum muslimin kini telah membentuk sebuah blok dan satu barisan. Gerakan ini akan menyadarkan kaum muslimin terhadap kerakusan kolonialisme dan kini sedang menghadang mereka dengan kesatuan Islam.

3. Pengokohan diri bahwa kaum muslimin mungkin saja membentuk sebuah kekuatan politik internasional yang bisa diperhitungkan dalam usaha untuk menghadapi perang budaya, pemikiran, dan akidah yang dilancarkan oleh Rusia dan Eropa Kristen.

4. Kesatuan Islam yang baru ini akan memainkan peran yang sangat signifikan dalam memberikan pengaruh kepada kebijakan politik internasional.

Baca juga: Sejarah Hagia Sophia, antara Katedral Kristen Ortodoks dan Masjid

5. Pemerintahan Utsmani kembali mengokohkan kekuatan dirinya sebagai pemerintahan yang berbentuk Khilafah. Dengan demikian, maka sangat mungkin baginya untuk mengembalikan kekuatannya dan dipersiapkan dengan sarana-sarana ilmiah baru dan modern dalam semua lapangan dan medan. Dengan demikian maka dia akan mampu mengembalikan wibawanya dan menjadi sebuah pelajaran sejarah yang sangat berharga.

Sultan Abdul Hamid mengatakan, agar kaum muslimin menyumbang secara sukarela untuk menghidupkan masjid-masjid di seluruh dunia Islam.

Sultan sangat antusias membangun sarana transportasi yang bisa menghubungkan antara wilayah-wilayah pemerintahan Utsmani.

Baca juga: Al-Fatih Kirim Hadiah dan Surat kepada Penguasa Makkah, Begini Isinya

6. Selain itu Sultan juga berusaha untuk menjadikan kepala suku Arab condong padanya. Sultan juga membangun sekolah di ibu kota untuk dijadikan sebagai sarana mengajar anak-anak para kabilah dan suku dan mengajarkan mereka tentang tata cara administrasi. Sultan juga berusaha mendekati kalangan tarekat sufi.

7. Secara optimal mengambil manfaat dari media-media Islam untuk melakukan sosialisasi dan kampanye tentang Pan-Islamisme. Bahkan Sultan menjadikan beberapa media cetak itu sebagai sarana untuk mengampanyekan Pan-lslamisme ini serta berusaha untuk menumbuhkan kebangkitan ilmiah dan teknik di dalam pemerintahan Utsmani, serta memodernkan pemerintahan dalam hal yang dianggap sangat perlu.

Baca juga: Sembahyang Terakhir di Hagia Sophia, Kisah Haru Jelang Takluknya Konstantinopel

Luar Biasa
Seruan Pan-Islamisme ini mendapat sambutan luar biasa dari berbagai kalangan ulama dan para dai Islam. Dukungan ini datang misalnya dari Jamaluddin Al-Afghani, Mushtafa Kamil dari Mesir, Abu Al-Huda Ash-Shayadi dari Suriah, Abdur Rasyid Ibrahim dari Siberia, serta gerakan Sanusiah di Tunisia Libya dan lain sebagainya.

Jamaluddin Al-Afghani sangat mendukung ide dan seruan Sultan Abdul Hamid II tentang Pan-Islamisme. Bahkan dia mengajukan proyek-proyek yang lebih besar dari apa yang menjadi obsesi Sultan sendiri yang berkeinginan tidak lebih dari hanya sekadar menyatukan bangsa-bangsa Islam serta adanya kesatuan gerakan di antara bangsa-bangsa di dunia Islam. Yakni berupa kesatuan perasaan dalam amal dan pada saat yang sama khilafah akan memiliki wibawa dan kekuatan.

Baca juga: Armada Laut Utsmani Kian Perkasa Setelah Taklukkan Konstantinopel

Al-Afghani bahkan menawarkan penyatuan antara kalangan Sunni dan kalangan Syiah. Padahal pandangan Sultan sendiri dalam hal ini, tak lebih dari penyatuan gerakan politik antara dua kelompok untuk menghadapi gerakan kolonialisme internasional.

"Telah jatuh ke tangan saya satu blue-print yang disiapkan oleh seorang badut di kementerian luar negeri Inggris, dia bemama Jamaluddin Al-Afghani dan seorang Inggris yang bernama Balant. Dalam blue-print itu keduamya mengatakan untuk meruntuhkan khilafah dari orang-orang Turki. Keduanya mengusulkan agar Syarif Husein penguasa Makkah menjadi khalifah kaum muslimin,” kata Sultan menanggapi gagasan Jamaluddin Al-Afghani.

Baca juga: Al-Fatih Sebaik-Baik Pemimpin, Pasukannya Sebaik-baik Pasukan

“Saya mengenai Jamaluddin Al-Afghani dari dekat. Dia sebelumnya berada di Mesir dan seorang yang sangat berbahaya. Suatu saat dia mengusulkan pada saya--dan dia menganggap dirinya sebagai Al-Mahdi--agar dia menjadi pemimpin semua kaum muslimin di Asia Tengah. Saya tahu bahwa dia tidak memiliki kapasitas untuk itu. Dia adalah anteknya Inggris dan sangat mungkin sekali telah dipersiapkan lnggris untuk menguji saya. Maka saya menolak usulannya dan dia bergabung dengan Balant,” lanjutnya.

Sultan mengungkap ia memanggil Jamaluddin Al-Afghani ke Istanbul dengan perantaraan Abul Huda Al-Shayyadi Al-Halibi, seorang tokoh yang sangat dihormati di seluruh negeri Arab. Untuk kepentingan tersebut, bertindak sebagai mediator antara lain Munif Pasya, penguasa lama Afghanistan dan penyair sastrawan Abdul Haq Hamid. "Jamaluddin Al-Afghani datang ke Istanbul dan saya tidak mengizinkan dia keluar kembali dari lstanbul...” tuturnya.

Baca juga: Ketika Sultan Muhammad Al-Fatih Ubah Daratan Menjadi Lautan

Positif
Sedangkan Jamaluddin Al-Afghani memandang Sultan Abdul Hamid dengan penilaian positif, dia berkata, “Sesungguhnya Sultan Abdul Hamid, andaikata ditimbang dengan empat orang yang paling terkenal di zaman ini, pasti kecerdasan dan kecerdikan politiknya akan mengalahkan mereka, khususnya dalam menaklukkan orang-orang yang berada dekat dengannya. Maka tidak heran jika kita melihat dia akan mampu menunjukkan kebolehannya dalam membela negerinya di saat-saat genting dari orang Barat. Orang-orang yang menentangnya akan keluar darinya dengan rela, dan dia akan puas dengan perjalanan hidup dan perilakunya. Siapapun akan puas dengan argumen-argumen yang dia lontarkan, baik itu seorang raja, pangeran, menteri, maupun duta besar...”

Dalam kesempatan lain dia mengatakan, “Saya melihat dia sangat mengetahui detail-detail masalah politik dan rencana-rencana orang-orang Barat. Ia pun selalu siap untuk menghadapi semua serangan yang akan datang terhadap negerinya dengan cara yang selamat. Salah satu yang sangat mengagumkan saya adalah, apa yang dia persiapkan dalam hal sarana-sarana dan alat-alat, sehingga Eropa tidak bisa terlibat langsung dengan organisasi tarekat untuk menebarkan pemikiran Pan-lslamisme dan kesatuan Islam."
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Masjid Hagia Sophia...
Masjid Hagia Sophia Turki : Mengenal Toleransi Islam di Dalam Masjid
6 Fakta Sulaiman Al-Qanuni,...
6 Fakta Sulaiman Al-Qanuni, Sultan ke-10 Daulah Turki Utsmani
Kisah Muhammad Al-Fatih...
Kisah Muhammad Al-Fatih Sang Penakluk: Masa Kejayaan Turki Utsmani
Terbentuknya Daulah...
Terbentuknya Daulah Utsmaniyah: Pada Mulanya Mengabdi ke Turki Seljuk
Kisah Turki Utsmani...
Kisah Turki Utsmani Menaklukkan Kesultanan Mamalik Mesir
Kisah Ottoman Membuat...
Kisah Ottoman Membuat Eropa Tak Berdaya: Pasar Rempah-Rempah Dikuasai Umat Islam
Rekomendasi
Biografi Ibnu Khaldun,...
Biografi Ibnu Khaldun, Bapak Sosiologi dan Ilmu Sejarah dari Islam
Penemuan Pintu Besar...
Penemuan Pintu Besar di Pegunungan Kazakhstan Dikaitkan dengan Alien
Suhu Global Naik Satu...
Suhu Global Naik Satu Derajat, 50% Penduduk Bumi Terancam Mengungsi
Artikel Terkini
Deretan Dalil Kuat Anjuran...
Deretan Dalil Kuat Anjuran 3 Puasa Sunnah di Bulan Muharram
Fakta Sejarah: Hijrah...
Fakta Sejarah: Hijrah Nabi SAW Terjadi di Bulan Rabiul Awal, Bukan Muharram
Jelang Kedatangan Jemaah...
Jelang Kedatangan Jemaah Gelombang Kedua di Madinah, Wamenhaj Minta Petugas Haji Siaga
Mengapa Muharram Menjadi...
Mengapa Muharram Menjadi Awal Tahun Baru Hijriah?
Pemberangkatan Jemaah...
Pemberangkatan Jemaah Haji Gelombang Kedua dari Makkah Menuju Madinah Dimulai 7 Juni
Kumpulan Doa Pulang...
Kumpulan Doa Pulang Haji Lengkap dengan Zikirnya
Infografis
10 Ilmuwan Muslim yang...
10 Ilmuwan Muslim yang Mengubah Wajah Ilmu Pengetahuan Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved