Tradisi 1 Muharam di Indonesia, Salah Satunya Membuat Jimat
Selasa, 18 Juli 2023 - 19:21 WIB
loading...
Tradisi 1 Muharam di Indonesia, tiap daerah memiliki cara dan tradisi sendiri. Foto/Ilustrasi: Ist
A
A
A
Tradisi 1 Muharam di Indonesia biasanya dikaitkan dengan 1 Syuro. Syuro sendiri adalah bulan pertama dalam sistem kalender Jawa. Biasanya, malam 1 Suro diisi dengan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan tradisi kebudayaan Jawa seperti tapa bisu, tirakatan, kungkum, kirab budaya, membuat jimat, dan pencucian pusaka.
Dr Syarifatul Marwiyah, MPdI dalam buku berjudul "Corak Budaya Pesantren di Indonesia" mencontohkan di Pondok Pesantren Salafiyah Bangil, Jawa Timur. Acara malam 1 Suro di pesantren itu dikenal dengan istilah Muharaman.
"Acara ini diisi dengan saling mengunjungi dari satu komplek ke komplek yang lain, karena itu semua santri menghias kamar untuk menghormati para santri lain yang berkunjung," ujar Syarifatul Marwiyah.
Pada acara Muharaman ini kiai duduk di pendopo untuk membagikan kue kepada seluruh santri. Setelah itu santri diperbolehkan melihat televisi. Televisi juga dihidupkan ketika santri selesai mengikuti ujian-ujian yang ada di pesantren.
Baca juga: Sejarah Tahun Baru Islam, Pembaruan dan Semangat Baru
Asyuroan
Adapun peringatan 10 Muharam di pesantren ini diistilahkan dengan Asyuroan. Kegiatan ini dirayakan dengan ritual puasa dan banyak bersedekah.
Pada hari tersebut banyak sekali santri-santri yang sedekah sirri yakni sedekah yang tidak diketahui siapa pemberinya.
Selain ritual puasa, menurut Syarifatul Marwiyah, ada juga santri yang membuat jimat menulis lafaz Basmalah sebanyak 113 kali dengan syarat penulisnya harus memiliki wudhu, menghadap kiblat, tulisan tidak boleh salah dan lafaz basmalah tersebut harus jelas 4 lubang yakni 1 lubang di huruf mimnya lafaz bismi, 1 lubang di lafaz Allah, 1 lubang di lafaz ar-Rahman, dan 1 lubang ar-Rahim. Kilasafat dari 4 lubang ini adalah 4 lubang mata air surga yang mengalirkan air jernih, susu, madu, dan arak.
Baca juga: Makna Tahun Baru Islam 1 Muharam 1445 Hijriah
Dr Syarifatul Marwiyah, MPdI dalam buku berjudul "Corak Budaya Pesantren di Indonesia" mencontohkan di Pondok Pesantren Salafiyah Bangil, Jawa Timur. Acara malam 1 Suro di pesantren itu dikenal dengan istilah Muharaman.
"Acara ini diisi dengan saling mengunjungi dari satu komplek ke komplek yang lain, karena itu semua santri menghias kamar untuk menghormati para santri lain yang berkunjung," ujar Syarifatul Marwiyah.
Pada acara Muharaman ini kiai duduk di pendopo untuk membagikan kue kepada seluruh santri. Setelah itu santri diperbolehkan melihat televisi. Televisi juga dihidupkan ketika santri selesai mengikuti ujian-ujian yang ada di pesantren.
Baca juga: Sejarah Tahun Baru Islam, Pembaruan dan Semangat Baru
Asyuroan
Adapun peringatan 10 Muharam di pesantren ini diistilahkan dengan Asyuroan. Kegiatan ini dirayakan dengan ritual puasa dan banyak bersedekah.
Pada hari tersebut banyak sekali santri-santri yang sedekah sirri yakni sedekah yang tidak diketahui siapa pemberinya.
Selain ritual puasa, menurut Syarifatul Marwiyah, ada juga santri yang membuat jimat menulis lafaz Basmalah sebanyak 113 kali dengan syarat penulisnya harus memiliki wudhu, menghadap kiblat, tulisan tidak boleh salah dan lafaz basmalah tersebut harus jelas 4 lubang yakni 1 lubang di huruf mimnya lafaz bismi, 1 lubang di lafaz Allah, 1 lubang di lafaz ar-Rahman, dan 1 lubang ar-Rahim. Kilasafat dari 4 lubang ini adalah 4 lubang mata air surga yang mengalirkan air jernih, susu, madu, dan arak.
Baca juga: Makna Tahun Baru Islam 1 Muharam 1445 Hijriah
Lihat Juga :