Ini Fatwa yang Lengserkan Sultan Abdul Hamid II dan Hancurkan Khilafah Utsmani
Minggu, 02 Agustus 2020 - 05:00 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Bumi Utsmani Jadi Pintu Pertama dan Pondasi Gerakan Yahudi Internasional
Emanuel adalah seorang advokat yang berhasil ditempatkan oleh organisasi Persatuan dan Pembangunan untuk duduk di Majelis Perwakilan Utsmani sebagai wakil dari Salanika dalam satu periode dan untuk Istanbul selama dua periode.
Sedangkan sumber-sumber di Inggris menyebutkan, bahwa dia adalah pemimpin organisasi Persatuan dan Pembangunan tersebut. Pada saat perang dia bertugas sebagai inspektur. Pada saat duduk dalam jabatannya ini, dia berhasil mengumpulkan banyak harta yang menebalkan kantongnya sendiri. (Baca juga: Kisah Heroik Sultan Abdul Hamid II Menghadapi Konspirasi Barat)
Emanuel memainkan peran yang demikian penting dalam pendudukan Italia terhadap Libya, di mana ltalia telah memberikan bayaran yang sangat tinggi terhadapnya. Karena pengkhianatannya terhadap pemerintah, dia terpaksa melarikan diri ke ltalia dan berhasil mengantongi kewarganegaraan ltalia.
Dia kemudian tinggal di Tariasana dan meninggal pada tahun 1934. Saat dia berada di tengah-tengah pemerintahan Utsmani, dia menjadi “guru besar" bagi gerakan Freemasonry Macedonia-Yazulita.
Baca juga: Usaha Arabisasi Pemerintahan Utsmani yang Mengundang Pertentangan
Kedua, Aaram. Dia adalah anggota Majelis Perwakilan yang berasal dari Armenia.
Ketiga, As’ad Thubathani. Dia adalah orang Albania yang merupakan wakil dari kawasan Darraj.
Keempat, Arif Hikmat seorang anggota dari laut yang menjadi anggota Majelis ‘Ayan, dan berasal dari Irak Karajabani.
Baca juga: Ketika Freemasonry Masuk dan Atur Detak Jantung Kekuasaan Utsmani
Sultan Abdul Hamid mengisahkan ini dalam catatan hariannya secara terperinci. Dia mengatakan; “Sesungguhnya yang sangat menyedihkan saya adalah, bukan karena saya disingkirkan dari kesultanan, namun adanya perlakuan yang sangat tidak sopan yang dilakukan oleh As'ad Pasya yang sudah keluar dari batas-batas sopan santun. Di mana saya mengatakan pada mereka, ‘Sesungguhnya saya tunduk terhadap semua undang-undang dan syariah dan ketetapan Majelis Mab’utsin, sebab saya yakin ini adalah takdir dan ketentuan dari Yang Maha Perkasa dan Maha Mengetahui. Namun saya tegaskan di sini, bahwa saya sama sekali tidak memiliki hubungan apa pun baik langsung ataupun tidak langsung dengan peristiwa 31 Maret‘
Baca juga: Sultan Abdul Hamid: “Tangan-Tangan Asing Menggerayang Dalam Hati Kita
Kemudian dia melanjutkan; “Sesungguhnya tanggung jawab yang kalian , pikul itu sangatlah berat.”
Emanuel adalah seorang advokat yang berhasil ditempatkan oleh organisasi Persatuan dan Pembangunan untuk duduk di Majelis Perwakilan Utsmani sebagai wakil dari Salanika dalam satu periode dan untuk Istanbul selama dua periode.
Sedangkan sumber-sumber di Inggris menyebutkan, bahwa dia adalah pemimpin organisasi Persatuan dan Pembangunan tersebut. Pada saat perang dia bertugas sebagai inspektur. Pada saat duduk dalam jabatannya ini, dia berhasil mengumpulkan banyak harta yang menebalkan kantongnya sendiri. (Baca juga: Kisah Heroik Sultan Abdul Hamid II Menghadapi Konspirasi Barat)
Emanuel memainkan peran yang demikian penting dalam pendudukan Italia terhadap Libya, di mana ltalia telah memberikan bayaran yang sangat tinggi terhadapnya. Karena pengkhianatannya terhadap pemerintah, dia terpaksa melarikan diri ke ltalia dan berhasil mengantongi kewarganegaraan ltalia.
Dia kemudian tinggal di Tariasana dan meninggal pada tahun 1934. Saat dia berada di tengah-tengah pemerintahan Utsmani, dia menjadi “guru besar" bagi gerakan Freemasonry Macedonia-Yazulita.
Baca juga: Usaha Arabisasi Pemerintahan Utsmani yang Mengundang Pertentangan
Kedua, Aaram. Dia adalah anggota Majelis Perwakilan yang berasal dari Armenia.
Ketiga, As’ad Thubathani. Dia adalah orang Albania yang merupakan wakil dari kawasan Darraj.
Keempat, Arif Hikmat seorang anggota dari laut yang menjadi anggota Majelis ‘Ayan, dan berasal dari Irak Karajabani.
Baca juga: Ketika Freemasonry Masuk dan Atur Detak Jantung Kekuasaan Utsmani
Sultan Abdul Hamid mengisahkan ini dalam catatan hariannya secara terperinci. Dia mengatakan; “Sesungguhnya yang sangat menyedihkan saya adalah, bukan karena saya disingkirkan dari kesultanan, namun adanya perlakuan yang sangat tidak sopan yang dilakukan oleh As'ad Pasya yang sudah keluar dari batas-batas sopan santun. Di mana saya mengatakan pada mereka, ‘Sesungguhnya saya tunduk terhadap semua undang-undang dan syariah dan ketetapan Majelis Mab’utsin, sebab saya yakin ini adalah takdir dan ketentuan dari Yang Maha Perkasa dan Maha Mengetahui. Namun saya tegaskan di sini, bahwa saya sama sekali tidak memiliki hubungan apa pun baik langsung ataupun tidak langsung dengan peristiwa 31 Maret‘
Baca juga: Sultan Abdul Hamid: “Tangan-Tangan Asing Menggerayang Dalam Hati Kita
Kemudian dia melanjutkan; “Sesungguhnya tanggung jawab yang kalian , pikul itu sangatlah berat.”
Lihat Juga :