Idul Adha, Kurban, dan Keteladanan Nabi Ibrahim AS (2)

loading...
Idul Adha, Kurban, dan Keteladanan Nabi Ibrahim AS (2)
Ilustrasi/Ist
Imam Shamsi Ali
Nusantara Foundation/Jamaica Muslim Center

BEGITU luas makna keteladanan Nabi Ibrahim Alaihis Salam (AS) dalam kehidupan kita, baik secara individu maupun kolektif. Ibrahim memang menjadi sosok yang diteladani bahkan diakui oleh tiga kelompok agama. Yahudi mengakuinya sebagai Yahudi. Kristen sebagai Kristen. Lalu Al-Quran kemudian datang menolak pengakuan itu.

Baca juga: Idul Adha, Kurban, dan Keteladanan Nabi Ibrahim AS (1)

Firman Allah: “Ibrahim bukankah Yahudi dan tidak pula Kristen. Tapi dia adalah seorang Muslim yang hanif. Dan dia juga bukan seorang yang musyrik”.

Penolakan asosiasi Ibrahim AS dengan Yahudi dan Nasrani ini, apalagi dengan musyrik , karena dalam pandangan Islam relasi kita dengan beliau, dan semua rasul dan nabi termasuk Muhammad SAW , bukan relasi ras, etnis atau hubungan darah. Tapi hubungan hati, akidah dan iman .

Ibrahim AS dan generasi masa depan
Berhubung karena masih dalam suasana hari kurban , saya ingin membahas secara singkat dan sederhana satu aspek ketauladanan Ibrahim AS yang saya yakin sangat mendesak untuk kita teladani. Yaitu keteldanan beliau dalam menyiapkan generasi masa depan yang tangguh.

Mungkin tidak salah saya katakan bahwa beliaulah yang meletakkan dasar bagi terutusnya penutup pada rasul dan nabi, Muhammad SAW. Sekaligus beliaulah yang meletakkan fondasi bagi kebangkitan “Khaer Ummah” yang menjadi representasi para nabi dan rasul dalam mengemban amanah risalah samawi ini.

Dalam proses membentuk generasi masa depan, ada tujuh hal yang perlu kita teladani dari Ibrahim AS.

Pertama, bahwa Ibrahim AS membangun kesadaran penuh tentang tanggung jawab dakwah. Bahwa dakwah adalah tanggung jawab keumatan hingga akhir hidup dunia. Dan Karenanya untuk kesinambungannya diperlukan regenerasi dari orang tua ke anak ke cucu dan seterusnya.

Sadar tanggung jawab inilah yang menjadikan Ibrahim resah dan gelisah ketika itu karena umur beliau yang semakin rentah tapi juga tak kunjung dikaruniai anak oleh Allah SWT. Kegelisahan ini menyebabkan isterinya Sarah terpanggil mendorong Ibrahim untuk menikahi Hajar AS menjadi isteri keduanya.
halaman ke-1
cover top ayah
اَللّٰهُ يَتَوَفَّى الۡاَنۡفُسَ حِيۡنَ مَوۡتِهَا وَالَّتِىۡ لَمۡ تَمُتۡ فِىۡ مَنَامِهَا‌ ۚ فَيُمۡسِكُ الَّتِىۡ قَضٰى عَلَيۡهَا الۡمَوۡتَ وَ يُرۡسِلُ الۡاُخۡرٰٓى اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّى‌ ؕ اِنَّ فِىۡ ذٰ لِكَ لَاٰیٰتٍ لِّقَوۡمٍ يَّتَفَكَّرُوۡنَ
Allah memegang nyawa seseorang pada saat kematiannya dan nyawa orang yang belum mati ketika dia tidur, Allah menahan nyawa orang yang telah ditetapkan kematiannya dan melepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi kaum yang berpikir.

(QS. Az-Zumar:42)
cover bottom ayah
preload video