Kisah Sahabat Nabi

Kontroversi Usamah, Panglima Perang yang Masih Belia (1)

loading...
Kontroversi Usamah, Panglima Perang yang Masih Belia (1)
Usamah bin Zaid, panglima perang kesayangan Rasulullah. Foto/Ilustrasi/Ist
TATKALA Rasulullah SAW menunjuk Usamah bin Zaid bin Harisah usianya belum lagi 20 tahun. Dia memimpin pasukan yang anggotanya para senior sahabat Nabi dari kalangan Muhajirin dan Ansor , termasuk Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab . Keputusan Nabi ini menjadi kontroversi pada era beliau sampai era Khalifah Abu Bakar.

Sekadar mengingatkan, pasukan yang dipimpin Usamah ini untuk menghadapi Romawi . Pengiriman pasukan ini didasari rasa khawatir Nabi, akan kemungkinan Romawi menyerbu daerah Muslimin. (Baca juga: Gampang Menangis, Sayyidah Aisyah Ragukan Abu Bakar Bisa Jadi Imam Salat )

Apalagi kala itu, pihak Romawi telah menghasut orang-orang Yahudi yang pindah ke Palestina setelah dikeluarkan oleh Nabi dari Madinah , Taima', Fadak dan daerah-daerah lain yang dulu mereka tempati.

Sebelumnya juga sempat terjadi perang di Mu'tah dan Tabuk antara pasukan muslim dengan Romawi. Rasulullah merasa perlu meningkatkan pengamanan perbatasan Arab-Romawi. Ketika pasukan Muslimin berada di Mu'tah itu, banyak pimpinan militer yang gugur, seperti Zaid bin Harisah, Ja'far bin Abi Thalib dan Abdullah bin Rawahah.

Khalid bin al-Walid sempat menarik mundur pasukannya hingga selamat kembali ke Madinah tanpa membawa kemenangan.

Dalam perang Tabuk Rasulullah sendiri yang memimpin pasukan Muslimin. Perjalanannya ini sudah merupakan peringatan, sehingga membuat musuh menarik mundur pasukannya ke luar perbatasan, tanpa terjadi pertempuran.

Tidak heran jika kedua peperangan yang terjadi antara Muslimin dengan Romawi itu membuat Nabi segera menyiapkan pasukan Usamah bin Zaid bin Harisah, dan persiapan itu merupakan salah satu politik Nabi dalam mengamankan perbatasan Semenanjung Arab dari serangan pasukan Romawi, yang ketika itu merupakan adikuasa.

Usamah bin Zaid ketika itu masih sangat muda. Tetapi Rasulullah mengangkatnya memimpin pasukan agar kemenangannya kelak menjadi kebanggaan atas gugurnya ayahnya sebagai syahid di Mu'tah.

Pemuda ini belum terbiasa dengan beban tanggung jawab yang begitu berat. Rasulullah SAW memerintahkan Usamah agar menjejakkan kudanya di perbatasan Balqa' dengan Darum di Palestina, dan menyerang musuh Tuhan dan musuhnya itu pada pagi hari dengan serangan yang gencar serta menghujani mereka dengan api.

Hal ini supaya diteruskan tanpa berhenti sebelum beritanya sampai lebih dulu kepada musuh. Bila berhasil ia harus segera kembali dengan hasil kemenangannya itu.

Sejak hari pertama penunjukan anak muda seperti Usamah memimpin pasukan dengan kaum Muhajirin dan Ansar terkemuka itu termasuk ke dalamnya, sudah banyak orang yang menggerutu. Memang benar sejak kecil Usamah sudah menjadi kesayangan Nabi, sehingga karenanya ia dijuluki "Kesayangan Nabi dan putra kesayangannya."

Rasulullah Wafat
Begitu besar kecintaan Nabi kepada Usamah sehingga ia pernah didudukkan sekendaraan ketika Rasulullah pergi ke Makkah dalam tahun kedelapan Hijriyah dan diajaknya ia masuk ke dalam Ka'bah.

Sejak kecil Usamah sudah punya keberanian dan tidak kenal takut, sehingga ia ikut bergabung dengan pasukan Muslimin ke Uhud, namun dikembalikan ke Madinah karena usianya yang masih terlalu muda.

Setelah itu ia pernah juga ikut dalam pertempuran di Hunain dan berjuang mati-matian seperti seorang pahlawan perang. Tetapi orang-orang yang mengeluh itu melihatnya tidak sama. Peristiwa itu lain dan memegang pimpinan militer dengan mengikutkan Abu Bakar, Umar dan sahabat-sahabat besar lainnya ke dalamnya, lain lagi. (Baca juga: Ketika Para Pembangkang Zakat Menyerbu Madinah )

Keluhan mereka itu sampai juga kepada Nabi ketika ia dalam sakitnya yang terakhir sementara pasukan Usamah sudah berada di Jurf, siap akan berangkat.

Nabi meminta istri-istrinya menyiramkan air kepadanya tujuh kirbat untuk menurunkan demam panasnya. Kemudian ia pergi ke masjid, dan setelah membaca hamdalah dan mendoakan para korban Uhud, katanya:

"Saudara-saudara, laksanakanlah keberangkatan Usamah. Demi hidupku, kalau kamu telah berbicara tentang kepemimpinannya, tentang kepemimpinan ayahnya dulu pun juga kamu sudah berbicara. Dia sudah pantas memegang pimpinan, seperti ayahnya dulu juga pantas memegang pimpinan." (Baca juga: Kisah Umm Ziml, Perempuan yang Murtad Demi Balas Dendam )

Setelah sakit Rasulullah bertambah berat, pasukan Usamah tidak bergerak di Jurf. Disebutkan bahwa Usamah berkata: "Setelah sakit Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam makin berat, saya dan yang lain turun ke Madinah. Ketika saya masuk hendak menemui Rasulullah, Nabi sudah tak dapat berbicara. Ia mengangkat tangannya ke atas dan kemudian meletakkannya kepada saya. Tahulah saya bahwa ia mendoakan saya."

Ketika Nabi sadar sesaat sebelum wafat pagi hari itu, Usamah meminta izin akan berangkat dengan pasukannya. Nabi mengizinkan. Tetapi tak seberapa lama tersiar berita Rasulullah wafat, Usamah dan pasukannya kembali lagi ke Madinah.

Baca juga: Benarkah Sayyidina Ali Menolak Kepemimpinan Khalifah Abu Bakar?

Kemudian Usamah bersama-sama dengan keluarga bertugas menyiapkan pemakaman. Dia dan Syuqran pembantu Nabi menuangkan air ke tubuh Rasulullah dan Ali memandikannya, berikut baju yang dipakainya.

Masa Khalifah Abu Bakar
Setelah ada perintah dari Khalifah Abu Bakar agar pengiriman Usamah diteruskan usai beliau dilantik, kaum Muslimin masih juga menggerutu. Mereka berusaha mencari jalan keluar dari situasi yang tidak menyenangkan itu. Sebagian melihat adanya perbedaan pendapat yang dulu antara Muhajirin dengan Ansar dalam soal Khalifah, serta berita-berita yang masuk ke Madinah tentang warga Arab di pedalaman, orang-orang Yahudi dan Nasrani dan hasutan mereka setelah Nabi wafat agar menyerang kaum Muslimin dan agamanya.

Mereka berkata, ditujukan kepada Abu Bakar: "Mereka itu pemuka-pemuka Muslimin dan kaulihat orang-orang Arab pedalaman itu sudah memberontak kepadamu, tidak patut kau memilah-milah jamaah Muslimin." (Baca juga: Ketika Para Pembangkang Zakat Menyerbu Madinah)

Tetapi Abu Bakar menjawab: "Demi nyawa Abu Bakar, sekiranya ada serigala akan menerkamku, niscaya akan kuteruskan pengiriman pasukan Usamah ini seperti yang diperintahkan Nabi Sallallahu 'alaihi wasallam. Sekalipun di kota ini sudah tak ada orang lagi selain aku, pasti kulaksanakan juga."

(Baca juga: Maaf dan Marah Khalifah Abu Bakar kepada Kaum yang Murtad )

Disebutkan juga bahwa setelah Usamah melihat keadaan yang demikian, ia meminta kepada Umar bin Khattab agar memintakan izin kepada Abu Bakar untuk membawa pasukannya itu kembali, supaya dapat membantu Abu Bakar dalam menghadapi kaum musyrik yang kala itu sudah siap-siap melakukan pemberontakan.

Orang-orang Ansar berkata kepada Umar: "Kalau harus juga kita meneruskan perjalanan, sampaikan permintaan kami supaya yang memimpin kita ini orang yang lebih tua usianya dari Usamah."

Umar menyampaikan pesan Usamah itu kepada Abu Bakar. Tetapi mendengar itu Abu Bakar marah. "Sekiranya yang akan menyergapku itu anjing dan serigala," katanya, "aku tidak akan mundur dari keputusan yang sudah diambil oleh Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam." (Baca juga: Murtad dan Penolakan Membayar Zakat Pascawafatnya Rasulullah )

Mengenai pesan kaum Ansar yang meminta agar Usamah digantikan oleh orang yang lebih tua usianya, Abu Bakar melompat dari duduknya dan memegang janggut Umar seraya berkata marah: "Celaka kau Umar! Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam yang menempatkan dia, lalu aku yang akan mencabutnya?!"

Ketika kemudian Umar kembali dan mereka menanyakan hasil pembicaraannya, Umar berkata: "Teruskan! Karena usul kalian itulah Khalifah Rasulullah marah kepadaku.”

“Apa pun yang dikerjakan oleh Rasulullah akan kukerjakan," tandasnya.

Baca juga: Kisah Persembunyian di Gua Tsur dan Bukti Cinta Abu Bakar

Haekal mengatakan peristiwa dengan beberapa sumbernya yang berbeda-beda ini memberikan gambaran kepada kita tentang politik Abu Bakar mula-mula ia memangku jabatan sebagai Khalifah. Politik itu dapat disimpulkan dari kata-katanya tatkala Fatimah putri Rasulullah meminta warisan ayahnya. "Demi Allah, apa pun yang dikerjakan oleh Rasulullah akan kukerjakan."

Dan dia sudah membuat suatu pengumuman ketika ia berkata kepada orang banyak: "Teruskan pengiriman pasukan Usamah. Jangan seorang pun dari anggota pasukan Usamah yang tinggal di Madinah, harus pergi bergabung ke markasnya di Jurf."

Baca juga: Debat Khalifah Abu Bakar dengan Umar Bin Khattab Soal Pembangkang Zakat

Dia berdiri di tengah-tengah mereka berpidato setelah mengirimkan kembali sebagian orang yang menentang itu: "Saudara-saudara, aku seperti kamu sekalian. Aku tidak tahu, adakah kamu akan menugaskan aku melakukan sesuatu yang dilakukan oleh Rasulullah. Allah telah memilih Muhammad untuk semesta alam dan dibebaskan dari segala cacat. Tetapi aku hanya seorang pengikut, bukan pembaru. Kalau aku benar, ikutilah aku, dan kalau aku sesat luruskanlah. Rasulullah wafat tiada seorang pun merasa dirugikan dan teraniaya. Padaku juga ada setan yang akan menjerumuskan aku. Kalau yang demikian terjadi, jauhkanlah aku..."

Baca juga: Beda Haluan Politik antara Umar bin Khattab dan Abu Bakar

Kemudian ia menyuruh orang melakukan segala perbuatan yang baik sebelum ajal datang menjemput, dan supaya mengambil pelajaran dari bapak-bapak dan saudara-saudara, dan janganlah iri hati terhadap yang hidup kecuali seperti terhadap yang sudah mati. “Aku hanya seorang pengikut, bukan pembaru; apa pun yang dikerjakan oleh Rasulullah akan kukerjakan,” tegasnya.

Inilah politik Khalifah Pertama itu. Kebijakan yang patut dicontoh dari Abu Bakar melebihi dari siapa pun. Seperti sudah kita lihat, ia mendampingi Rasulullah sejak pertama kali kerasulannya hingga Allah memanggilnya ke sisi-Nya. Keimanannya kepada Allah dan kepada Rasul-Nya tak pernah goyah. (Baca juga: Kisah Konsolidasi Nabi-Nabi Palsu di Era Khalifah Abu Bakar )

Karena hubungannya secara mental dan rohani dengan Rasulullah, dia mengetahui melebihi apa yang diketahui orang lain, dan hanya Rasulullah yang mengatakan tentang sahabatnya ini dua hari sebelum kematiannya: "Aku belum tahu ada orang yang lebih bermurah hati dalam bersahabat dengan aku seperti dia. Sekiranya ada dari hamba Allah yang akan kuambil sebagai khalil (teman kesayangan), maka Abu Bakar-lah khalilku. Tetapi persaudaraan dan persahabatan dalam iman, sampai tiba saatnya Allah mempertemukan kita."

Baca juga: Kisah Aswad al-Ansi, Nabi Palsu yang Sempat Menguasai Yaman

Kita sudah melihat persahabatan dan persaudaraannya serta imannya semasa hidup Nabi, yang semuanya itu tak dapat ditandingi baik oleh Umar, Ali atau siapa pun dari kalangan Muslimin yang paling dekat hubungannya dan pertalian kerabatnya dengan Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam.

Sudah tentu ia mengikuti Nabi karena keikhlasan hati yang keluar dari keimanan dan kesadarannya, iman yang membuat begitu tenang bahwa apa yang diikutinya dari Rasulullah sudah tidak salah. (Baca juga: Akhlak Umar bin Khattab dan Kesedihannya Ketika Nabi Wafat)

Kesadarannya itu membuat dia menempuh jalan yang menurut hematnya pasti dulu telah ditempuh oleh Rasulullah. (Bersambung)
(mhy)
cover top ayah
اَمۡ اَمِنۡتُمۡ مَّنۡ فِى السَّمَآءِ اَنۡ يُّرۡسِلَ عَلَيۡكُمۡ حَاصِبًا‌ ؕ فَسَتَعۡلَمُوۡنَ كَيۡفَ نَذِيۡرِ
Atau sudah merasa amankah kamu, bahwa Dia yang di langit tidak akan mengirimkan badai yang berbatu kepadamu? Namun kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku.

(QS. Al-Mulk:17)
cover bottom ayah
preload video