Saudah binti Zam'ah : Sosok Keindahan dan Kesetiaan Seorang Istri

loading...
Saudah binti Zamah : Sosok Keindahan dan Kesetiaan Seorang Istri
Saudah binti Zamah adalah sosok yang tidak henti-hentinya menjaga dan memelihara rumah tangga Rasulullah SAW dengan penuh keikhlasan dan keimanan sampai akhir hayatnya. Foto Ilustrasi/ist
Mungkin nama Saudah binti Zam’ah, tidak begitu sepopuler Khadijah dan Aisyah sebagai istri Rasulullah Shallallahu alaihi wa salam. Namun, sosoknya selalu dikenang oleh Aisyah. Ummul mukminin Aisyah sangat terkesan akan keindahan kesetiaannya kepada Rasulullah, bahkan Aisyah pun berharap bisa menjadi ‘bajunya’ (penggantinya) di sisi Nabi yang mulia tersebut.

Aisyah berkata, "Tiada seorang perempuan pun yang paling aku sukai agar aku memiliki sifat seperti dia melebihi Saudah binti Zam'ah taktala berusia senja yang mana dia berkata,"Ya Rasulullah, aku hadiahkan kunjungan Anda kepadaku untuk Aisyah, hanya saja beliau berwatak keras." (HR Muslim)

(Baca juga : Agar Ketaatan Kepada Suami Terasa Ringan Dilakukan )

Begitu mulianya Saudah, sehingga dikagumi sosok Aisyah radhiyallahu'anha. Siapa sebenarnya Saudah binti Zam'ah ini, dan bagaimana kepribadiannya? Dikutip dari buku 'Mereka adalah Para Shahabiyat', inilah kisah Saudah binti Zam'ah :



Saudah binti Zam’ah bin Qais bin Abdi Syams bin Abud al-Qursyiyah al-Amiriyah, seorang perempuan yang berasal dari Bani Uday bin Najjar . Ia adalah perempuan pertama yang dinikahi Rasulullah setelah wafatnya Khadijah. Usianya bisa dikatakan telah memasuki usia senja ketika dinikahi Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.

Rasulullah tentu tidak sembarangan dalam menikahi perempuan, yang dilakukannya tentunya sesuai dengan perintah Allah Subhanahu wa ta'ala, bukan berdasarkan nafsu semata. Allah juga yang telah memilih siapa-siapa saja yang akan menjadi istri Rasulullah RasulullahShallallahu alaihi wa sallamsepeninggal Khadijah.

(Baca juga : Kapankah Perempuan Boleh Memakai Parfum? )



Sebelum menikah dengan Rasulullah, Saudah ditinggal suami tercintanya, as-Sakar bin Amru saudara dari Suhail bin Amru pada saat sama-sama hijrah ke Habasyah. Kesedihan yang sangat mendalam tentunya dialami Saudah di tengah-tengah penderitaan hijrahnya. Kondisi inilah merupakan salah satu faktor penyebab pernikahan Rasulullah dengannya.

Sebelum menikahi Saudah, Khaulah binti Hakiim mengusulkan Aisyah binti Shiddiq sebagai calon istri yang akan menggantikan Khadijah. Namun, pada saat itu usia Aisyah masih belia maka lamaran itu ditunda sampai Aisyah tumbuh dewasa. Untuk itu diutuslah Khaulah binti Hakiim untuk melamar Saudah. Sambil menanti hingga Aisyah cukup umur maka Saudah-lah yang mendampingi RasulullahShallallahu alaihi wa sallam dan merawat putri-putrinya serta yang mengurusi segala urusan rumah tangganya selama lebih dari tiga tahun sebelum kedatangan Aisyah sebagai istri baru Rasulullah.

(Baca juga : Kedepankan Ilmu, Santri Diminta Responsif Perubahan Sosial Keagamaan )

Saudah tahu persis bagaimana cinta RasulullahShallallahu alaihi wa sallam kepada Aisyah. Dalam banyak kesempatan Saudah lebih sering mengalah dan memberikan harinya (gilirannya) kepada Aisyah dan juga memberi keluasan dalam hal mengatur urusan rumah tangga . Saudah juga selalu mengutamakan keridhaan Aisyah, bahkan tidak jarang harus begadang demi ketenangan Aisyah. Semua yang Saudah lakukan di usianya yang semakin senja tak lain hanya mengharapkan tetap menjadi istri Rasulullah SAW baik di dunia dan akhirat. Dan terus berharap agar kemuliaan sebagai istri Rasulullah Saw ini terus langgeng.

Begitulah Saudah yang lebih mendahulukan keridhaan suaminya yang mulia. Maka Rasulullah menerima keinginan istrinya yang memiliki perasaan halus tersebut, yang kemudian turunlah ayat Allah :

وَإِنِ ٱمْرَأَةٌ خَافَتْ مِنۢ بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَآ أَن يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا ۚ وَٱلصُّلْحُ خَيْرٌ ۗ وَأُحْضِرَتِ ٱلْأَنفُسُ ٱلشُّحَّ ۚ وَإِن تُحْسِنُوا۟ وَتَتَّقُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

"Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS An-Nisa 128)

(Baca juga : Susun Peta Jalan Industri Hasil Tembakau, Ini Gambaran Pentingnya )

Itulah sosok pribadi Saudah yang tidak henti-hentinya menjaga dan memelihara rumah tangga Rasulullah SAW dengan penuh keikhlasan dan keimanan sampai akhir hayatnya. Di samping akhlaknya yang mulia, Saudah juga termasuk orang yang gemar bersedekah. Saudah meninggal pada masa pemerintahan Umar bin Khathab radhiyallahu'anhu.

Walaupun sudah tiada tetapi keagungan dan kharisma Saudah pun masih membekas di hati Aisyah sehingga ia berharap ingin sepertinya. Semoga keteladanan yang ada pada diri Saudah sebagai cermin istri salihah bisa menjadi contoh dan juga diterapkan dalam rumah tangga perempuan muslimah di zaman sekarang. (Baca juga : Bupati Kepulauan Seribu: Kita Sekarang Tidak Jual Wisata yang Terlalu Tinggi, tapi Kita Menjual Sehat )

Wallahu A'lam
(wid)
cover top ayah
شَهۡرُ رَمَضَانَ الَّذِىۡٓ اُنۡزِلَ فِيۡهِ الۡقُرۡاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَ بَيِّنٰتٍ مِّنَ الۡهُدٰى وَالۡفُرۡقَانِۚ فَمَنۡ شَهِدَ مِنۡكُمُ الشَّهۡرَ فَلۡيَـصُمۡهُ ؕ وَمَنۡ کَانَ مَرِيۡضًا اَوۡ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنۡ اَيَّامٍ اُخَرَؕ يُرِيۡدُ اللّٰهُ بِکُمُ الۡيُسۡرَ وَلَا يُرِيۡدُ بِکُمُ الۡعُسۡرَ وَلِتُکۡمِلُوا الۡعِدَّةَ وَلِتُکَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰٮكُمۡ وَلَعَلَّکُمۡ تَشۡكُرُوۡنَ
Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.

(QS. Al-Baqarah:185)
cover bottom ayah
TULIS KOMENTAR ANDA!
preload video