Fiqih Prioritas

Lebih Baik Ada Penguasa Walau Zalim, Ketimbang Tak Ada Sama Sekali

loading...
Lebih Baik Ada Penguasa Walau Zalim, Ketimbang Tak Ada Sama Sekali
Ilustrasi/Ist
DALAM pandangan manusia, turunnya hujan ketika musim kering merupakan rahmat bagi mereka. Tidak adanya hujan sama sekali lebih berbahaya bagi mereka. Sehingga mereka lebih menguatkan adanya penguasa walaupun zalim lebih baik daripada tidak ada penguasa sama sekali. Sebagaimana dikatakan Syaikh al-Islam,Taqiyuddin Ibnu Taimiyah: "Enam puluh tahun dengan penguasa yang zalim adalah lebih baik daripada satu malam tanpa penguasa." (Baca juga: Keburukan Boleh Dilakukan dalam Dua Kondisi Berikut Ini)

"Akan tetapi saya ingin mengatakan, kalau yang memegang kekuasaan adalah penguasa untuk seluruh wilayah, atau sebagian wilayah, seperti imaroh, dan pendidikan, kemudian dia tidak mampu melaksanakan kewajiban dan meninggalkan larangan, akan tetapi dia melakukannya dengan tidak sengaja dan di luar kemampuannya, maka dia boleh bahkan wajib memegang kekuasaan tersebut," tutur Ibnu Taimiyah dalam fatwanya sebagaimana dikutip Syaikh Yusuf Al-Qardhawi dalam bukunya yang berjudul "Fiqh Prioritas". (Baca juga: Rasulullah Ingin Ubah Ka'bah, Demi Kemaslahatan Hal Itu Tidak Dilakukan)

Menurut Ibnu Taimiyah, kekuasaan yang dapat menghasilkan berbagai kemaslahatan, seperti melakukan peperangan terhadap musuh, membagi barang pampasan, menegakkan hukum agama, mengamankan negara, maka sesungguhnya memegang kekuasaan itu hukumnya wajib.

Akan tetapi, katanya, manakala kekuasaan itu dipegang oleh orang yang tidak berhak memegangnya, sehingga ia mengambil sesuatu yang tidak halal, memberikan sebagian hak kepada orang yang seharusnya tidak menerimanya, tetapi hal ini tidak dapat dihindarkan, maka perkara ini termasuk dalam pembahasan "sesuatu yang tidak akan sempurna suatu kewajiban atau perkara sunnah kecuali dengannya". Sehingga memegang kekuasaan itu hukumnya bisa menjadi wajib atausunnah apabila keburukannya lebih sedikit daripada kebaikannya. (Baca juga: Penyakit Pemikiran Islam Menurut Syaikh Muhammad Al-Ghazali (1) dan (2)

Bahkan, kalau kekuasaan itu tidak wajib dan mengandung kezaliman, sehingga orang yang memegang kekuasaan itu melakukan kezaliman sampai diganti oleh orang yang hendak memperingan kezaliman dan orang yang memegang kekuasaan tersebut.



Risiko Paling Ringan
Menurut Ibnu Taimiyah, pada hakikatnya kita harus memilih risiko yang paling ringan, dan ini dianggap sebagai tindakan yang paling baik.(Baca juga: Rukun Iman dan Rukun Islam Sarana Menuju Kehidupan Akhirat Lebih Baik)

Pembahasan ini berkisar pada perbedaan niat dan tujuannya. Oleh sebab itu, barang siapa dimintai bantuan oleh seorang zalim yang berkuasa, kemudian dia diberi harta benda, sedangkan orang yang dimintai bantuan ini dapat mengambil tindakan yang netral antara yang menzalimi dan yang dizalimi, dan dapat mencegah terjadinya kezaliman yang lebih banyak, kemudian dengan cara seperti itu dapat mencegah terjadinya kezaliman tersebut, maka dia dianggap sebagai orang yang baik. (Baca juga: Si Kaya Membangun Masjid dan Sekolah tetapi Masuk Golongan yang Tertipu)

Akan tetapi, apabila dia menjadi penengah dan malah membantu orang yang zalim itu, maka dia dianggap sebagai orang yang buruk.



Hanya saja, kebanyakan kasus yang terjadi terpulang kepada rusaknya niat dan tindakan orangnya. Yaitu niat untuk memperoleh kekuasaan dan harta kekayaan; dan tindakannya dalam melakukan hal-hal yang diharamkan dan meninggalkan hal-hal yang diwajibkan. Persoalannya sudah bukan lagi pada benturan dan mencari sesuatu yang lebih bermanfaat dan lebih bermaslahat. (Baca juga: Begini Ibadah Orang Kaya yang Tertipu dan Justru Menjadi Aib)
halaman ke-1 dari 4
cover top ayah
اَمۡ حَسِبَ الَّذِيۡنَ يَعۡمَلُوۡنَ السَّيِّاٰتِ اَنۡ يَّسۡبِقُوۡنَا‌ ؕ سَآءَ مَا يَحۡكُمُوۡنَ
Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput dari azab Kami? Sangatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu!

(QS. Al-'Ankabut:4)
cover bottom ayah
preload video