Kisah-Kisah Mengharukan Jelang Wafatnya Rasulullah SAW

loading...
Kisah-Kisah Mengharukan Jelang Wafatnya Rasulullah SAW
Ilustrasi/Ist
IBNU Abil Hadid dalam bukunya Syarh Nahjil Balaghah mengatakan: "Pada malam hari setelah mempersiapkan pasukan untuk menghadapi rongrongan Romawi di Balqa --di bawah pimpinan Usamah bin Zaid -- Nabi Muhammad s.a.w. berziarah ke makam Buqai'. Setibanya di makam itu beliau mengucapkan: 'Assalamu 'alaikum, ya ahlal-qubur'. Semoga tempat di mana kalian berada ini lebih tenang daripada yang akan dialami oleh orang-orang yang masih hidup. Suatu malapetaka bakal terjadi seperti datangnya malam yang gelap-gulita dari permulaan sampai akhir." (Baca juga: Menag Ajak Umat Islam Tampilkan Akhlak Rasulullah dalam Keseharian )

Setelah memohon pengampunan bagi para ahlil-qubur, beliau memberitahu para sahabat: "Biasanya Jibril menghadapkan Al Qur'an kepadaku tiap tahun satu kali, tetapi tahun ini menghadapkan kepadaku sampai dua kali, kukira itu karena ajalku sudah dekat."

Keesokan harinya Rasulullah s.a.w. mengucapkan khutbah di hadapan jema'ah para sahabat.

Beliau berkata: "Hai orang-orang, sudah tiba saatnya aku akan pergi dari tengah-tengah kalian. Barang siapa mempunyai titipan padaku hendaknya datang kepadaku untuk kuserahkan kembali kepadanya. Barang siapa mempunyai penagihan kepadaku hendaknya ia datang untuk segera kulunasi. Hai orang-orang, antara Allah dan seorang hamba, tidak ada keturunan atau urusan apa pun yang dapat mendatangkan kebajikan atau menolak keburukan, selain amal perbuatan. (Baca juga: Ketika Sayyidah Aisyah Tak Diberi Minuman Oleh Rasulullah )

Janganlah ada orang yang mengaku-aku dan janganlah ada orang yang mengharap-harap. Demi Allah yang mengutusku membawa kebenaran, tidak ada apa pun yang dapat menyelamatkan selain amal perbuatan disertai cinta-kasih.

Seandainya aku berbuat durhaka aku pun pasti tergelincir. Ya Allah ..., amanat-Mu telah kusampaikan!"

Jatuh sakit
Sekembalinya dari ibadah haji wada', Rasulullah mengangkat Usamah bin Zaid bin Haritsah sebagai panglima pasukan muslimin untuk menghadapi rongrongan Romawi di Balqa, sebelah utara jazirah Arab. Pengangkatan Usamah yang baru berusia 22 tahun itu, menimbulkan kekhawatiran di kalangan para sahabat terkemuka. Sebab, selain Usamah masih terdapat panglima-panglima yang telah banyak makan garam peperangan dan pantas untuk jabatan itu. Namun Rasulullah tetap berpegang teguh pada kebijaksanaan yang telah ditetapkan.

Secara psikologis pengangkatan Usamah bin Zaid adalah tepat. Ia seorang tokoh muda yang cerdas dan penuh inisiatif. Lagi pula ayahnya, Zaid bin Haritsah, bukan nama yang kecil dalam jajaran pahlawan-pahlawan Islam. Ia gugur di Mu'tah sebagai pahlawan syahid dalam pertempuran melawan pasukan Romawi. Karena itu diharapkan Usamah akan mendapat kesempatan baik untuk menuntut balas atas kematian ayahnya.

Pada waktu Usamah bin Zaid dan pasukannya yang besar itu sudah dalam keadaan siaga, tiba-tiba Rasulullah jatuh sakit. Baru kali ini beliau mengeluh tentang penyakitnya. Beliau menderita penyakit demam tinggi. Tubuh yang selama hayatnya diabdikan kepada perjuangan di jalan Allah SWT kini tiba-tiba hampir tak bertenaga. Kaum muslimin sangat resah melihat penyakit beliau yang tampak gawat. (Baca juga: Larangan Membenci dan Menyakiti Ahlul Bait Rasulullah )

Meskipun demikian, banyak juga para sahabat yang tidak percaya, bahwa jasmani seorang manusia utusan Allah yang kekar dan kuat itu bisa dibuat tidak berdaya oleh penyakit. Lebih-lebih karena di masa sakit itu, beliau masih sibuk mengatasi keresahan pikiran sementara sahabat yang kurang bisa menerima pengangkatan Usamah.

Mengenai Usamah ini, Nabi Muhammad s.a.w. cukup tegas. Putusan yang telah beliau ambil tak dapat ditawar-tawar lagi. Usamah beliau perintahkan agar bertindak sebagai pemimpin ekspedisi ke utara. Ketetapan yang beliau ambil itu besar artinya bagi kaum muda. Muhammad Husain Haekal dalam bukunya "Hayat Muhammad" tentang hal itu mengatakan: "Timbul keyakinan di kalangan kaum muda bahwa mereka pun mampu mengemban tugas berat. Kebijaksanaan beliau itu juga merupakan pendidikan bagi mereka agar membiasakan diri memikul beban tanggung jawab yang besar dan berat."

Makin hari penyakit yang diderita Rasulullah makin gawat. Semula beliau tetap berusaha agar dapat melaksanakan tugas sehari-hari, seperti mengimami salat jama'ah. Akan tetapi ketika dirasa penyakitnya bertambah berat, beliau memerintahkan Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. menggantikan beliau melaksanakan tugas yang amat mulia itu.

Perintah Nabi Muhammad s.a.w. kepada Abu Bakar Ash Shiddiq ra. itulah yang kemudian diartikan orang sebagai petunjuk, bahwa Abu Bakar r.a. adalah orang yang layak menduduki kepemimpinan ummat Islam sepeninggal Rasulullah.

Wasiat
Dalam keadaan menderita sakit yang sedang gawat-gawatnya, Rasulullah s.a.w. menyampaikan pesan kepada para sahabatnya kaum Muhajirin, agar memelihara persaudaraan dan menjaga hubungan baik dengan kaum Anshar .

"Mereka itu, yakni kaum Anshar," kata Nabi Muhammad s.a.w., "adalah orang-orang tempat aku menyimpan rahasiaku dan yang telah memberi perlindungan kepadaku. Hendaknya kalian berbuat baik atas kebaikan mereka itu dan memaafkan mereka bila ada yang berbuat salah."

Imam Al Bukhari dalam shahihnya mengetengahkan sebuah hadis , dengan sanad Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah dan berasal dari Ibnu Abbas, bahwa ketika Rasulullah s.a.w. sedang mendekati ajal, berkata kepada para sahabat yang berada di sekelilingnya. Di antara mereka itu terdapat Umar bin Khattab r.a.

Nabi Muhammad s.a.w. berkata: "Marilah…, akan kutuliskan untuk kalian suatu kitab (secarik surat wasiat) dengan mana kalian tidak akan sesat sepeninggalku." (Baca juga: Pembangunan Irak di Era Umar bin Khattab dan Fitnah Atas Saad bin Abi Waqqash )

Mendengar itu Umar bin Khattab berkata kepada sahabat-sahabat lainnya: "Nabi dalam keadaan sangat payah dan kalian telah mempunyai Al-Qur'an. Cukuplah Kitab Allah itu bagi kita."

Menanggapi perkataan Umar itu para sahabat berselisih pendapat. Ada yang minta supaya segera disediakan alat tulis agar Rasulullah menuliskan wasiatnya yang terakhir. Ada pula yang sependapat dengan Umar. Terjadilah pertengkaran mulut, sehingga Rasulullah akhirnya menghardik: "Nyahlah kalian!"

Muslim dalam Shahihnya pada bagian "Wasiat terakhir" meriwayatkan hadis tersebut dari Sa'ad bin Zubair yang berasal dari Ibnu Abbas pula.

At-Thabrani dalam "Al-Ausath" mengemukakan: "Pada waktu Rasulullah s.a.w. menghadapi ajal, beliau berkata: "Bawalah kepadaku lembaran dan tinta. Akan kutuliskan untuk kalian yang dengan itu kalian tidak akan sesat selama-lamanya."

Mendengar ucapan Nabi Muhammd s.a.w. itu, para wanita yang menunggu di belakang tabir (hijab) berkata kepada para sahabat Nabi yang berada di tempat itu: "Tidakkah kalian mendengar apa yang dikatakan oleh Rasulullah?"

Umar bin Khattab r.a. segera menyahut: "Kukatakan, kalian itu sama dengan wanita-wanita yang mengelilingi Nabi Yusuf. Jika Rasulullah sakit kalian mencucurkan air mata dan jika beliau sehat kalian menunggangi lehernya!"

Mendengar ucapan Umar itu Rasululah s.a.w. kemudian berkata mengingatkan: "Biarkan mereka itu, mereka itu lebih baik daripada kalian."

Al Hamid Al Husaini dalam bukunya berjudul "Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib RA" menulis penyakit Rasulullah mencapai puncaknya ketika beliau berada di kediaman Siti Maimunah r.a. , salah seorang isteri beliau. Atas kesepakatan semua isterinya beliau meminta supaya dibawa ke tempat kediaman Siti Aisyah r.a .

Dengan berikat kepala, beliau keluar dan berjalan sambil bertopang pada Ali bin Abi Thalib dan pamannya, Abbas. Beliau tiba di tempat kediaman Siti Aisyah r.a. dalam keadaan lemah sekali. (Baca juga: Rumah Tangga Miskin Pasangan Ali Bin Abi Thalib dan Sayyidah Fatimah )

Beberapa hari kemudian, di saat banyak orang sedang menunaikan salat jama'ah yang diimami oleh Abu Bakar r.a., tiba-tiba Nabi Muhammad s.a.w. muncul di tengah-tengah mereka dengan bertopang pada Ali serta Al Fadhl bin Abbas.

Salat subuh berjama'ah itu hampir saja tertunda karena hal yang mengejutkan itu. Hal itu tak sampai terjadi, karena Rasulullah s.a.w. memerintahkan supaya salat dilanjutkan.

Abu Bakar r.a. sendiri merasa rikuh, berniat mundur dan hendak menyerahkan imam salat kepada beliau, tetapi Nabi Muhammad s.a.w. mendorongnya dari belakang sambil berucap setengah berbisik: "Teruskan mengimami salat".

Beliau kemudian mengambil tempat di samping kanan Abu Bakar r.a. dan menunaikan salat sambil duduk.

Seusai salat Nabi Muhammad s.a.w. berbalik menghadap ke belakang dan bertatap-muka dengan jama'ah yang memenuhi masjid. Semua bergembira melihat Rasulullah berangsur sehat. Lebih tertegun lagi tatkala beliau berkata:

"Hai kaum muslimin, api neraka sudah bertiup dan fitnahpun akan datang seperti malam gelap-gulita. Demi Allah, aku tidak akan menghalalkan sesuatu selain yang dihalalkan oleh Al Qur'an. Aku pun tidak akan mengharamkan sesuatu selain yang diharamkan oleh Al Qur'an. Terkutuklah orang yang menggunakan pekuburan sebagai tempat bersujud (Masjid)."

Kesehatan Rasulullah s.a.w. yang secara tiba-tiba tampak pulih kembali dengan cepat tersiar luas dan disambut gembira sekali oleh seluruh kaum muslimin. (Baca juga: Kisah Heroik Ali bin Abi Thalib dengan Pedang Zulfikar di Perang Khandaq )

Usamah bin Zaid, yang semula sudah siap untuk membubarkan pasukan, karena Rasulullah sakit keras, kemudian menghadap beliau untuk minta izin menggerakkan pasukannya ke Syam. Bahkan Abu Bakar r.a. sendiri pun yakin benar bahwa beliau sudah bisa kembali menjalankan tugas sehari-hari. Begitu pula Umar bin Khattab r.a. dan para sahabat dekat lainnya, sekarang sudah beranjak meninggalkan masjid guna menyelesaikan keperluan masing-masing. (Baca juga: Pengakuan Ali Bin Abi Thalib Ketika Nabi Muhammad Ajak Bani Muthalib Masuk Islam )
(mhy)
preload video