Kisah Sufi: Maruf Si Tukang Sepatu dan Istrinya Fatima

loading...
Kisah Sufi: Maruf Si Tukang Sepatu dan Istrinya Fatima
Kisah Maruf SI Tukang Sepatu ini terdapat juga dalam Malam-malam Arab (Arabian Nights). Tetapi tak seperti kebanyakan alegori Sufi, kisah ini tak berbentuk sajak. (Foto/Ilustrasi : Ist)
Idries Shah dalam bukunya berjudul Tales of The Dervishes bercerita, pada zaman dahulu, di Kota Kairo, ada seorang tukang sepatu bernama Maruf dan istrinya Fatima. Fatima, wanita tua yang hatinya busuk itu, memperlakukan suaminya begitu buruk. Ia membalas setiap perbuatan baik dengan perbuatan jahat sehingga Maruf pun mulai menganggap istrinya itu merupakan perwujudan sifat suka menentang, yang sulit dipahami di dunia.

Baca juga: Kisah Sufi Mencari Makna Merak dan Ular

Oleh karena tekanan rasa ketidakadilan yang nyata, dan terdesak keputusasaan yang amat sangat, Maruf pun melarikan diri ke sebuah reruntuhan biara di dekat kota itu; di sana ia bersimpuh dalam doa dan permohonan, berseru tak putus-putusnya: "Tuhan, hamba mohon pada-Mu agar mengirimkan bagi hamba suatu alat pembebasan supaya hamba-Mu ini bisa mengadakan perjalanan yang jauh dari tempat ini untuk menemukan keselamatan dan harapan."

Hal ini di lakukannya terus selama beberapa jam. Tiba-tiba suatu peristiwa ajaib terjadi. Suatu makhluk tinggi besar dan ujudnya aneh tampak berjalan menembus keluar lewat tembok di depannya, setelah Maruf menggunakan latihan yang berasal dari kekuatan Abdal, 'Yang Berubah', yang adalah manusia tetapi telah mendapatkan kekuatan jauh melebihi orang-orang biasa.

"Aku Abdi Makan, abdi tempat ini," kata ujud itu. "Apa gerangan maumu?"

Maruf pun menceritakan semua persoalannya. Yang Berubah pun membawa Maruf di punggungnya, dan mereka terbang melesat dalam kecepatan tak terbandingkan, melintasi angin selama beberapa jam. Keduanya sampai ketika hari siang ke sebuah kota yang jauh di perbatasan China, suatu tempat yang kaya dan indah.

Seorang penduduk kota itu mencegatnya di jalan, dan bertanya siapa gerangan dirinya. Ketika Maruf memberitahu, dan mencoba menjelaskan cara kedatangannya, sekumpulan orang udik pencemooh berkumpul; sambil melempar tongkat dan batu, mereka menuduhnya gila atau seorang penipu yang pantas dihajar.

Kerumunan orang tersebut masih mengeroyok tukang sepatu yang malang itu ketika seorang pedagang berkuda muncul dan membubarkan mereka. "Memalukan! Seorang asing adalah tamu, sudah kewajiban kita menunjukkan keramahtamahan dan perlindungan," katanya. Nama saudagar itu Ali.

Baca juga: Kisah Sufi Tapabrata Malik Dinar dan Utusan Sang Guru Tersembunyi

Ali pun menceritakan kepada teman barunya bagaimana ia telah maju dari orang melarat menjadi orang kaya di Kota Ikhtiyar yang asing itu.
halaman ke-1
cover top ayah
اِنَّا هَدَيۡنٰهُ السَّبِيۡلَ اِمَّا شَاكِرًا وَّاِمَّا كَفُوۡرًا‏
Sungguh, Kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.

(QS. Al-Insan:3)
cover bottom ayah
preload video