Kisah Perjalanan Sayyidina Husain ke Karbala, Bergabungnya Zuhair bin Qain

loading...
Kisah Perjalanan Sayyidina Husain ke Karbala, Bergabungnya Zuhair bin Qain
Zuhair bin Qain adalah seorang pembela setia Utsman bin Affan. Beliau sahid sebelum Tragedi Karbala. Foto/Ilustrasi: pinterest
Pada Jumat, 18 Dzulhijjah 60 H, Sayyidina Husain bin Ali bin Abi Thalib as (cucu Rasulullah SAW ) dan rombongan bermalam di Dzatul 'Irq, dalam perjalanan menuju ke Karbala. Ini adalah sebuah persinggahan yang digunakan oleh para jamaah haji dari Irak untuk memulai ihram. Persinggahan ini dikenal sebagai pembatas antara Tuhamah dan Najd.

Tatkala pagi tiba, Zainab binti Ali bin Abi Thalib yang ikut dalam caravan Husein as menjumpai saudarana seraya berkata, "Wahai saudaraku! Saya keluar dari kemah di pertengahan malam dan mendengar suara penyeru yang menyenandungkan dua bait syair berikut ini:

Hai mata, menangislah dengan penuh sedih; siapakah yang akan menangisi syuhada ini setelahku.
Menangislah atas kaum yang telah dibimbing oleh kematian ini; sehingga mereka menepati janji yang telah diikat terhadap Allah.

Baca juga: Kisah Sayyidina Husein Meninggalkan Madinah Demi Memperbaiki Umat Kakeknya

Mendengar itu, Husain as membesarkan hati saudara perempuan beliau dan mengajaknya supaya bersabar.

Sekadar mengingatkan, Zainab adalah putri Ali bin Abi Thalib dan ibunya Sayidah Fatimah , Zainab namanya yang paling terkenal yang dalam bahasa Arab berarti pohon yang indah dipandang dan harum dan makna lainnya adalah "Zein Ab" yaitu hiasan (bagi) ayah.

Sayidah Zainab lahir di kota Madinah pada 5 Jumadil Awal 5 H. Di Iran, hari kelahirannya ini diperingati sebagai "Hari Perawat".

Berdasarkan beberapa riwayat, penamaan Sayidah Zainab dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Syarif al-Qurasyi dalam bukunya berjudul "As-Sayidah Zainab" menyebut bahwa malaikat Jibril atas perintah Allah SWT datang dan memberikan nama tersebut kepada Nabi SAW.

Dalam buku al-Khashāish al-Zainabiyah karya Jazairi dimuat bahwa Nabi SAW menciumnya dan bersabda, "Aku berwasiat kepada umatku yang hadir dan yang gaib untuk menjaga kehormatan anak perempuan ini. Karena sesungguhnya dia (bagiku) bagaikan Khadijah al-Kubra.

Baca juga: Jika Hasan dan Husein Dua Mata Sayyidina Ali, Maka Muhammad adalah Dua Tangannya

Sayidah Zainab mempunyai banyak gelar, seperti Aqilah bani Hasyim, Ālimah Ghairu Mu'allamah, Ārifah, Muwatsaqah, Fādilah, Kāmilah, Ābidatu Āli 'Ali, Ma'sumah Sughrā, Āminatullah, Nāibatu az-Zahra, Nāibatu al-Husain, Aqilatu an-Nisa, Syarikatu as-Syuhadā, Bālighah, Fashihah dan Syarikatu al-Husain.

Seorang peneliti berkata, "Di antara gelar-gelar Sayidah Zainab adalah Ar-Radhiyah bil Qadri wal Qadha yaitu ridha atas ketentuan qadha dan qadar Ilahi.

Menurut sebagian riwayat, Zuhair bin Qain bergabung dengan Husein as di persinggahan ini. Husein as berkata kepada saudara perempuan beliau, Zainab Kubra di persinggahan ini, "Hai Saudariku! Segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allah pasti akan terjadi."

Zuhair bin Qain
Zuhair bin Qain adalah seorang pembela setia Utsman bin Affan. Pada tahun itu, ia melaksanakan ibadah haji dan sedang dalam perjalanan menuju Kufah. Zuhair sangat tidak senang apabila berhenti di sebuah tempat bersama Husain as.

Akan tetapi, di persinggahan ini, ia terpaksa harus berhenti sekalipun Husain as juga berhenti di tempat itu. Ketika Zuhair sedang sibuk menyantap makanan bersama teman-teman seperjalanan, Husain as mengundangnya untuk datang ke kemah beliau. Akan tetapi, Zuhair acuh tak acuh.

Istri Zuhair berkata kepadanya, "Maha suci Allah! Putra Rasulullah memanggilmu dan kamu tidak memenuhi panggilannya."

Baca juga: Ritual Karbala: Tradisi Kaum Syiah saat Hari Asyura, Penyesalan Diri Para Pengkhianat

Akhirnya, Zuhair pergi menjumpai beliau dengan terpaksa. Akan tetapi, ketika kembali dari kemah Husain as, Zuhair sangat bahagia seraya berkata kepada teman-teman seperjalanan, "Saya akan bergabung dengan Husain. Barang siapa hendak membantu putra Rasulullah, hendaklah ia ikut bersamaku. Dan barang siapa tidak ingin bersama kami, maka saya akan berpisah darinya."

Al-Dinawari dalam kitab "Al-Akhbar al-Thawal" menyebutkan seusai berpamitan kepada istri, Zuhair menyampaikan kepada rombongannya, "Barang siapa yang ingin meraih kesyahidan hendaknya ikut denganku, kalau tidak maka kalian boleh pergi dan ini adalah perjumpaan terakhir kita."

Zuhair menceritakan kenangan kepada mereka dan berkata, "Dulu waktu ikut perang di Balanjar dan akhirnya meraih kemenangan lalu mendapat banyak harta rampasan, kita begitu gembira.
halaman ke-1
preload video