Ini Doa Siti Sarah Ketika Mengalami Pelecehan Seksual

loading...
Ini Doa Siti Sarah Ketika Mengalami Pelecehan Seksual
Seorang raja menghendaki Siti Sarah menjadi istrinya. Dan ketika raja itu mulai nakal, Siti Sarah berdoa kepada Allah SWT sehingga tangan sang raja menjadi kaku. Foto/Ilustrasi: Ist
Siti Sarah adalah istri Nabi Ibrahim as . Tatkala masih pengantin baru, pasangan ini mendapat cobaan. Seorang raja menghendaki Siti Sarah menjadi istrinya. Dan ketika raja itu mulai nakal, Siti Sarah berdoa kepada Allah SWT sehingga tangan sang raja menjadi kaku.

Kisah tersebut disampaikan Syaikh Muhammad bin Ahmad bin Iyas (1448-1522) dalam bukunya yang diterjemahkan oleh Abdul Halim berjudul “Kisah Penciptaan dan Tokoh-tokoh Sepanjang Zaman”.

"Setelah raja mendekati Sarah dan hendak meraba dengan tangannya, tangan itu jadi kaku. Raja pun bertobat sehingga tangannya bisa digerakkan kembali. Kedua kalinya dia mengulangi tindakan serupa, dan pada saat itu yang kaku adalah tangan dan kakinya," tulis Syaikh Muhammad bin Ahmad bin Iyas.

Baca juga: Siti Sarah, Wujud Kecantikan Dunia dan Akhirat

Kisah Siti Sarah yang digoda raja ini terjadi pascapembakaran Nabi Ibrahim oleh Raja Namrudz yang gagal. Ketika itu, Nabi Ibrahim AS meninggalkan daerah kelahirannya bersama beberapa orang, termasuk Siti Sarah dan anak saudaranya, yaitu Nabi Luth as. Rombongan kecil ini menuju tanah Hauran. Lalu Allah mewahyukan kepada Nabi Ibrahim untuk menikahi Sarah. Atas perintah tersebut, Ibrahim pun menikah dengan Sarah.

Peristiwa pelecehan seksual atas diri Siti Sarah itu juga dikisahkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah ra, sebagaimana dikutip dalam buku berjudul "Tahrirul-Ma'rah fi 'Ashrir-Risalah" karya Abdul Halim Abu Syuqqah.

Rasulullah SAW menceritakan bahwa Nabi Ibrahim hijrah bersama Sarah. Dia memasuki satu desa yang dikuasai oleh seorang raja yang tergolong tirani. Dikabarkan kepadanya bahwa Ibrahim datang bersama seorang wanita yang sangat cantik. Lalu raja itu memanggilnya.

"Wahai Ibrahim, siapakah perempuan yang bersamamu ini?" tanya utusan raja kepada Nabi Ibrahim.

"Saudaraku," jawab Nabi Ibrahim.

Kemudian Ibrahim menemui Sarah dan berkata: "Ucapanmu jangan berbeda dengan ucapanku, sebab aku telah memberitahu mereka bahwa kamu adalah saudara perempuanku. Demi Allah (aku terpaksa berdusta) karena di sini tidak ada orang mukmin selain aku dan kamu."

Baca juga: Tatkala Siti Sarah Bersumpah akan Memotong Daging Siti Hajar

Utusan itu membawa Sarah menghadap raja. Dan raja tersebut berdiri ke dekat Sarah, sementara Sarah berdiri untuk berwudhu, lalu sholat. "Ya Allah, seandainya aku beriman kepada-Mu dan kepada Rasul-Mu, dan Engkau menjaga kemaluanku kecuali terhadap suamiku, maka janganlah Engkau kuasakan orang kafir atas diriku," begitu Sarah berdoa.

Hal tak terduga terjadi. Tiba-tiba raja seperti orang sekarat. Ia mengeluarkan suara seperti orang mendengkur dan kakinya bergerak-gerak seperti kejang.

Melihat itu, Sarah berdoa lagi: "Ya Allah, jika dia mati, maka orang akan berkata: 'Dialah yang telah membunuhnya.' Maka sadarkanlah dia."

Raja pun sadar, kemudian berdiri kembali hendak menghampiri Sarah. Sarah juga berdiri kembali berwudhu dan sholat, kemudian berdoa: "Ya Allah, seandainya aku beriman pada-Mu dan pada Rasul-Mu dan Engkau menjaga kemaluanku, kecuali terhadap suamiku, maka janganlah Engkau kuasakan orang kafir ini atas diriku."

Hal yang sama terjadi. Raja kembali seperti orang sakarat, mendengkur, dan menggerak-gerakkan kakinya. Kemudian Sarah berkata: "Ya Allah, jika dia mati, maka orang akan berkata: 'Sarah telah membunuhnya.'" Maka sadarkanlah dia untuk kedua dan ketiga kalinya.

Melihat keadaan dirinya yang demikian, raja berkata: "Demi Allah, yang kalian kirim kepadaku ini hanyalah setan. Kembalikanlah dia kepada Ibrahim dan berikanlah Hajar kepadanya."

Lalu Sarah kembali kepada Ibrahim as seraya berkata: "Tahukah kamu bagaimana Allah menghinakan si kafir itu dan memberi kita seorang pelayan?" (HR Bukhari dan Muslim)

Baca juga: Raja Mesir Memaksa Menikahi Siti Sarah Akhirnya Taubat

Syaikh Muhammad bin Ahmad mengutip As-Sadi menggambarkan, Sarah adalah wanita jelita dengan postur tubuh ideal. Pada zamannya tidak ditemukan orang yang secantik dia.

Raja yang menggoda Siti Sarah itu bernama Raja Tutis. Salah satu kebiasaan raja-raja terdahulunya adalah suka menetap di suatu kota yang bernama Manuf. Raja tersebut memiliki pengawal yang berjaga di jalan-jalan untuk mengambil perbekalan para musafir.
(mhy)
preload video