Gubernur yang Masuk Daftar Penduduk Miskin
Kamis, 09 Juli 2020 - 11:06 WIB
loading...
A
A
A
“Ada empat macam kelemahan yang hendak kami laporkan kepada Khalifah,” jawab rakyat.
“Saya akan pertemukan kalian dengan Gubernur kalian,” jawab Khalifah Umar sambil mendo’a: “Semoga sangka baik saya selama ini kepada Said bin ‘Amir tidak salah.”
Baca juga: Di Kaki Ka'bah, Tatkala Khalifah Meminta Fatwa dari Bekas Budak
Maka tatkala semua pihak—yaitu Gubernur dan masyarakat—telah lengkap berada di hadapan Khalifah, beliau bertanya kepada rakyat, “Bagaimana laporan saudara-saudara tentang kebijakan Gubernur Saudara-saudara?”
Pertanyaan Khalifah dijawab oleh seorang Juru Bicara. Pertama: Gubernur selalu tiba di tempat tugas setelah matahari tinggi. “Bagaimana tanggapan Anda mengenai laporan rakyat Anda itu, hai Said?” tanya Khalifah.
Gubernur Said bin ‘Amir Al-Jumahy diam sejenak. Kemudian dia berkata: “Sesungguhnya saya keberatan menanggapinya. Tetapi apa boleh buat. Keluarga saya tidak mempunyai pembantu. Karena itu tiap pagi saya terpaksa turun tangan membuat adonan roti lebih dahulu untuk mereka. Sesudah adonan itu asam (siap untuk dimasak), barulah saya buat roti. Kemudian saya berwudhu’. Sesudah itu barulah saya berangkat ke tempat tugas untuk melayani masyarakat.”
Baca juga: Dia Menghukum Atas Dasar Kesaksian, Bukan Atas Dasar Tuduhan
“Apa lagi laporan Saudara-saudara?” tanya Khalifah kepada hadirin.
Kedua, Gubernur tidak bersedia melayani kami pada malam hari.”
“Bagaimana pula tanggapan Anda mengenai itu, hai Said?” tanya khalifah.
“Ini sesungguhnya lebih berat bagi saya menanggapinya, terutama di hadapan umum seperti ini,” kata Said. “Saya telah membagi waktu saya, siang hari untuk melayani masyarakat, malam hari untuk bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah,” lanjut Said
Baca juga: Kisah Tabiin Cerdas Iyas Bin Mu’awiyah Al-Muzanni
“Apa lagi,” tanya Khalifah kepada hadirin.
Ketiga, Gubernur tidak masuk kantor sehari penuh dalam sebulan.
“Bagaimana pula tanggapan Anda, hai Said?” tanya Khalifah Umar.
“Sebagaimana telah saya terangkan tadi, saya tidak mempunyai pembantu rumah tangga. Di samping itu saya hanya memiliki sepasang pakaian yang melekat di badan ku ini. Saya mencucinya sekali sebulan. Bila saya mencucinya, saya terpaksa menunggu kering lebih dahulu. Sesudah itu barulah saya dapat keluar melayani masyarakat,” ucap Said.
“Nah, apa lagi laporan selanjutnya?” tanya Khalifah.
Baca juga: Kisah Khalifah Umar bin Abdul Aziz dan Putranya Saat Merayakan Hari Raya
Keempat, sewaktu-waktu Gubernur menutup diri untuk bicara. Pada saat-saat seperti itu, biasanya beliau pergi meninggalkan majlis.”
“Silakan menanggapi, hai Gubernur Said!” kata Khalifah Umar.
“Ketika saya masih musyrik dulu, saya pernah menyaksikan almarhum Khubaib bin ‘Ady dihukum mati oleh kaum Quraisy kafir. Saya menyaksikan mereka menyayat-nyayat tubuh Khubaib berkeping-keping. Pada waktu itu mereka bertanya mengejek Khubaib, “Sukakah engkau si Muhammad menggantikan engkau, kemudian engkau kami bebaskan?” Ejekan mereka itu dijawab oleh Khubaib, “Saya tidak ingin bersenang-senang dengan isteri dan anak-anak saya, sementara Nabi Muhammad tertusuk duri...“ (Baca juga: Penguasa Irak Itu Tak Berdaya kepada Orang yang Disebutnya Budak )
“Demi Allah...!” kata Said. “Jika saya teringat akan peristiwa itu, di waktu mana saya membiarkan Khubaib tanpa membelanya sedikit jua pun, maka saya merasa, bahwa dosaku tidak akan diampuni Allah Ta’ala”.
”Segala puji bagi Allah yang tidak mengecewakanku,” kata Khalifah Umar mengkahiri dialog itu.
Sekembalinya ke Madinah, Khalifah Umar mengirimi Gubernur Said seribu dinar untuk memenuhi kebutuhannya. Melihat jumlah uang sebanyak itu, isterinya berkata kepada Said, “Segala puji bagi Allah yang mencukupi kita berkat pengabdianmu. Saya ingin uang ini kita pergunakan untuk membeli bahan pangan dan kelengkapan kelengkapan lain-lain. Dan saya ingin pula menggaji seorang pembantu rumah tangga untuk kita.”
Baca juga: Kisah Tabi’in Amir bin Abdillah At-Tamimi (1)
“Adakah usul yang lebih baik dan itu?” tanya Said kepada isterinya.
“Apa pulakah yang lebih baik dari itu? “ jawab istrinya balik bertanya.
“Kita bagi-bagikan saja uang ini kepada rakyat yang membutuhkannya. Itulah yang lebih baik bagi kita,” jawab Said.
“Mengapa....?” tanya isterinya.
“Dengan begitu berarti kita mendepositokan uang ini kepada Allah. Itulah cara yang lebih baik,” kata Said.
“Baiklah kalau begitu,” kata isterinya.
“Semoga kita dibalasi Allah dengan balasan yang paling baik.”
Sebelum mereka meninggalkan majlis, uang itu dimasukkan Said ke dalam beberapa pundi, lalu diperintahkannya kepada salah seorang keluarganya untuk membagi uang itu kepada fakir miskin. (Baca juga: : Hakim Kasus Sengketa Kuda antara Khalifah Umar dan Warga Desa ).
“Saya akan pertemukan kalian dengan Gubernur kalian,” jawab Khalifah Umar sambil mendo’a: “Semoga sangka baik saya selama ini kepada Said bin ‘Amir tidak salah.”
Baca juga: Di Kaki Ka'bah, Tatkala Khalifah Meminta Fatwa dari Bekas Budak
Maka tatkala semua pihak—yaitu Gubernur dan masyarakat—telah lengkap berada di hadapan Khalifah, beliau bertanya kepada rakyat, “Bagaimana laporan saudara-saudara tentang kebijakan Gubernur Saudara-saudara?”
Pertanyaan Khalifah dijawab oleh seorang Juru Bicara. Pertama: Gubernur selalu tiba di tempat tugas setelah matahari tinggi. “Bagaimana tanggapan Anda mengenai laporan rakyat Anda itu, hai Said?” tanya Khalifah.
Gubernur Said bin ‘Amir Al-Jumahy diam sejenak. Kemudian dia berkata: “Sesungguhnya saya keberatan menanggapinya. Tetapi apa boleh buat. Keluarga saya tidak mempunyai pembantu. Karena itu tiap pagi saya terpaksa turun tangan membuat adonan roti lebih dahulu untuk mereka. Sesudah adonan itu asam (siap untuk dimasak), barulah saya buat roti. Kemudian saya berwudhu’. Sesudah itu barulah saya berangkat ke tempat tugas untuk melayani masyarakat.”
Baca juga: Dia Menghukum Atas Dasar Kesaksian, Bukan Atas Dasar Tuduhan
“Apa lagi laporan Saudara-saudara?” tanya Khalifah kepada hadirin.
Kedua, Gubernur tidak bersedia melayani kami pada malam hari.”
“Bagaimana pula tanggapan Anda mengenai itu, hai Said?” tanya khalifah.
“Ini sesungguhnya lebih berat bagi saya menanggapinya, terutama di hadapan umum seperti ini,” kata Said. “Saya telah membagi waktu saya, siang hari untuk melayani masyarakat, malam hari untuk bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah,” lanjut Said
Baca juga: Kisah Tabiin Cerdas Iyas Bin Mu’awiyah Al-Muzanni
“Apa lagi,” tanya Khalifah kepada hadirin.
Ketiga, Gubernur tidak masuk kantor sehari penuh dalam sebulan.
“Bagaimana pula tanggapan Anda, hai Said?” tanya Khalifah Umar.
“Sebagaimana telah saya terangkan tadi, saya tidak mempunyai pembantu rumah tangga. Di samping itu saya hanya memiliki sepasang pakaian yang melekat di badan ku ini. Saya mencucinya sekali sebulan. Bila saya mencucinya, saya terpaksa menunggu kering lebih dahulu. Sesudah itu barulah saya dapat keluar melayani masyarakat,” ucap Said.
“Nah, apa lagi laporan selanjutnya?” tanya Khalifah.
Baca juga: Kisah Khalifah Umar bin Abdul Aziz dan Putranya Saat Merayakan Hari Raya
Keempat, sewaktu-waktu Gubernur menutup diri untuk bicara. Pada saat-saat seperti itu, biasanya beliau pergi meninggalkan majlis.”
“Silakan menanggapi, hai Gubernur Said!” kata Khalifah Umar.
“Ketika saya masih musyrik dulu, saya pernah menyaksikan almarhum Khubaib bin ‘Ady dihukum mati oleh kaum Quraisy kafir. Saya menyaksikan mereka menyayat-nyayat tubuh Khubaib berkeping-keping. Pada waktu itu mereka bertanya mengejek Khubaib, “Sukakah engkau si Muhammad menggantikan engkau, kemudian engkau kami bebaskan?” Ejekan mereka itu dijawab oleh Khubaib, “Saya tidak ingin bersenang-senang dengan isteri dan anak-anak saya, sementara Nabi Muhammad tertusuk duri...“ (Baca juga: Penguasa Irak Itu Tak Berdaya kepada Orang yang Disebutnya Budak )
“Demi Allah...!” kata Said. “Jika saya teringat akan peristiwa itu, di waktu mana saya membiarkan Khubaib tanpa membelanya sedikit jua pun, maka saya merasa, bahwa dosaku tidak akan diampuni Allah Ta’ala”.
”Segala puji bagi Allah yang tidak mengecewakanku,” kata Khalifah Umar mengkahiri dialog itu.
Sekembalinya ke Madinah, Khalifah Umar mengirimi Gubernur Said seribu dinar untuk memenuhi kebutuhannya. Melihat jumlah uang sebanyak itu, isterinya berkata kepada Said, “Segala puji bagi Allah yang mencukupi kita berkat pengabdianmu. Saya ingin uang ini kita pergunakan untuk membeli bahan pangan dan kelengkapan kelengkapan lain-lain. Dan saya ingin pula menggaji seorang pembantu rumah tangga untuk kita.”
Baca juga: Kisah Tabi’in Amir bin Abdillah At-Tamimi (1)
“Adakah usul yang lebih baik dan itu?” tanya Said kepada isterinya.
“Apa pulakah yang lebih baik dari itu? “ jawab istrinya balik bertanya.
“Kita bagi-bagikan saja uang ini kepada rakyat yang membutuhkannya. Itulah yang lebih baik bagi kita,” jawab Said.
“Mengapa....?” tanya isterinya.
“Dengan begitu berarti kita mendepositokan uang ini kepada Allah. Itulah cara yang lebih baik,” kata Said.
“Baiklah kalau begitu,” kata isterinya.
“Semoga kita dibalasi Allah dengan balasan yang paling baik.”
Sebelum mereka meninggalkan majlis, uang itu dimasukkan Said ke dalam beberapa pundi, lalu diperintahkannya kepada salah seorang keluarganya untuk membagi uang itu kepada fakir miskin. (Baca juga: : Hakim Kasus Sengketa Kuda antara Khalifah Umar dan Warga Desa ).
(mhy)
Lihat Juga :