Kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq

Kekayaan Abu Bakar 40.000 Dirham, Setelah Masuk Islam Tinggal 5.000 Dirham

loading...
Kekayaan Abu Bakar 40.000 Dirham, Setelah Masuk Islam Tinggal 5.000 Dirham
Abu Bakar antara lain membeli Bilal untuk dibebaskan. Foto/Ilustrasi/Ist
DALAM menjalankan dakwah, Abu Bakar, tidak hanya berbicara saja dengan kawan-kawannya dan meyakinkan mereka. Abu Bakar juga menghibur kaum dhuafa dan orang-orang miskin yang disiksa dan dianiaya oleh musuh-musuh Islam. Tidak hanya dengan kedamaian jiwanya, dengan sifatnya yang lemah lembut, tetapi ia menyantuni mereka dengan hartanya.

Baca juga: Dia Abdul Ka'bah yang Mengurus Masalah Penebusan Darah

Abu Bakar menggunakan hartanya untuk membela golongan lemah dan orang-orang tak punya. Orang-orang yang telah mendapat petunjuk Allah ke jalan yang benar, lalu dianiaya oleh musuh-musuh kebenaran itu.

Muhammad Husain Haikal dalam As-Siddiq Abu Bakr menyebut ketika Abu Bakar masuk Islam, hartanya tak kurang dari 40.000 dirham yang disimpannya dari hasil perdagangan. Dan selama dalam Islam ia terus berdagang dan mendapat laba yang cukup besar.

Tetapi setelah hijrah ke Madinah, sepuluh tahun kemudian, hartanya itu tinggal 5.000 dirham. Semua harta Abu Bakar dihabiskan untuk kepentingan dakwah, mengajak orang ke jalan Allah dan demi agama dan Rasul-Nya.

Baca juga: Biografi Abu Bakar, Sahabat Paling Terdepan Membela Rasulullah SAW

Kekayaannya itu digunakan untuk menebus orang-orang lemah dan budak-budak yang masuk Islam, yang oleh majikannya disiksa dengan pelbagai cara, tak lain hanya karena mereka masuk Islam.

Suatu hari Abu Bakar melihat Bilal yang negro itu oleh tuannya dicampakkan ke ladang yang sedang membara oleh panas matahari, dengan menindihkan batu di dadanya lalu dibiarkannya agar ia mati dengan begitu, karena ia masuk Islam.

Dalam keadaan semacam itu tidak lebih Bilal hanya mengulang-ulang kata-kata: “Ahad, Ahad”. Ketika itulah ia dibeli oleh Abu Bakr kemudian dibebaskan!

Baca juga: Istri-Istri Nabi Cemburu Berat dengan Maria, Umar Ikut Sibuk

Begitu juga Amir bin Fuhairah oleh Abu Bakar ditebus dan ditugaskan menggembalakan kambingnya.

Tidak sedikit budak-budak itu yang disiksa, laki-laki dan perempuan, oleh Abu Bakar dibeli lalu dibebaskan.

Tetapi Abu Bakar sendiri pun tidak bebas dari gangguan kaum kafir Quraisy. Sama halnya dengan Nabi Muhammad sendiri yang juga tidak lepas dari gangguan itu dengan kedudukannya yang sudah demikian rupa di kalangan kaumnya serta perlindungan Banu Hasyim kepadanya.

Setiap Abu Bakar melihat Muhammad diganggu oleh Quraisy ia selalu siap membelanya dan mempertaruhkan nyawanya untuk melindunginya.

Baca juga: Ayat-Ayat Khamr: Di Zaman Pra-Islam Sudah Ada yang Haramkan Miras

Ibn Hisyam menceritakan, bahwa perlakuan yang paling jahat dilakukan Quraisy terhadap Rasulullah ialah setelah agama dan dewa-dewa mereka dicela. Suatu hari mereka berkumpul di Hijr, dan satu sama lain mereka berkata: "Kalian mengatakan apa yang didengarnya dari kalian dan apa yang kalian dengar tentang dia. Dia memperlihatkan kepadamu apa yang tak kamu sukai lalu kamu tinggalkan dia."

Sementara mereka dalam keadaan serupa itu tiba-tiba datang Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam. Sekaligus ia diserbu bersama-sama oleh mereka dan mengepungnya seraya berkata: Engkau yang berkata begini dan begini? Maksudnya yang mencela berhala-berhala dan kepercayaan mereka.

Baca juga: Akhlak Umar bin Khattab dan Kesedihannya Ketika Nabi Wafat

Maka Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam pun menjawab: Ya, memang aku yang mengatakan. Salah seorang di antara mereka langsung menarik bajunya. Abu Bakar sambil menangis menghalanginya seraya katanya: “Kamu mau membunuh orang yang mengatakan hanya Allah Tuhanku!”

Mereka kemudian bubar. Itulah yang kita lihat perbuatan Quraisy yang luar biasa kepadanya. Tetapi peristiwa ini belum seberapa dibandingkan dengan peristiwa-peristiwa lain yang benar-benar memperlihatkan keteguhan iman Abu Bakar kepada Nabi Muhammad dan risalahnya itu. Sedikit pun tak pernah goyah. Dan iman itu jugalah yang membuat tidak sedikit kalangan orientalis tidak jadi melemparkan tuduhan kepada Nabi, seperti yang biasa dilakukan oleh mereka yang suka berlebih-lebihan.

Baca juga: Ijtihad Umar bin Khattab dari Soal Khamar Sampai Urusan Jilbab
halaman ke-1
cover top ayah
اَلَمۡ يَاۡنِ لِلَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡۤا اَنۡ تَخۡشَعَ قُلُوۡبُهُمۡ لِذِكۡرِ اللّٰهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الۡحَـقِّۙ وَلَا يَكُوۡنُوۡا كَالَّذِيۡنَ اُوۡتُوا الۡكِتٰبَ مِنۡ قَبۡلُ فَطَالَ عَلَيۡهِمُ الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوۡبُهُمۡ‌ؕ وَكَثِيۡرٌ مِّنۡهُمۡ فٰسِقُوۡنَ
Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka), dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka menjadi orang-orang fasik.

(QS. Al-Hadid:16)
cover bottom ayah
preload video