alexametrics

Rasa Cemburu dalam Pandangan Syariat

loading...
Rasa Cemburu dalam Pandangan Syariat
Rasa cemburu pada pasangan halal boleh saja, asal sampaikanlah rasa cemburu itu dalam bentuk yang cerdas, romantis lagi menyenangkan. Fto ilustrasi/ist
Rasa cemburu atau al-Ghirah merupakan fitrah manusiayang bisa datang kapan saja. Dalam sebuah rumah tangga, rasa cemburu terhadap pasangan bisa dikatakan wajar. Jika rasa cemburu itu tidak ada, justeru menjadi hal yang sangat dikhawatirkan. Kenapa? Karena bisa jadi pasangan ternyata tidak memiliki rasa kasih dan sayang yang sebenarnya.

Perasaan cemburu biasanya paling besar ditampilkan oleh kaum Hawa. Dalam kehidupan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam pun, rasa cemburu kerap diperlihatkan oleh istri Nabi. Terutama bagi Ummu Aisyah yang memang memiliki rasa cemburu yang lebih besar dibandingkan istri-istri Nabi SAW lainnya.

Dalam sebuah riwayat menceritakan :

“Suatu ketika, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumah salah seorang isteri beliau. Tiba-tiba isteri yang lain mengirim mangkuk berisi makanan. Melihat itu, isteri yang rumahnya kedatangan Rasul memukul tangan pelayan pembawa makanan tersebut, maka jatuhlah mangkuk tersebut dan pecah. Kemudian Rasul mengumpulkan kepingan-kepingan pecahan tersebut serta makanannya, sambil berkata:

غَرَّتْ أُمُّكَ

“Ibumu sedang cemburu,”

Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh pelayan itu untuk menunggu, kemudian beliau memberikan padanya mangkuk milik isteri yang sedang bersama beliau untuk diberikan kepada pemiliki mangkuk yang pecah. Mangkuk yang pecah beliau simpan di rumah isteri yang sedang bersama beliau” (HR. Al-Bukhari).

Ibnu Hajar menjelaskan bahwa isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memecahkan mangkuk adalah ‘Aisyah Ummul Mu’minin, sedangkan yang mengirim makanan adalah Zainab binti Jahsy.

Rasa cemburu akan muncul karena adanya rasa cinta. Semakin kuat rasa cinta seorang istri kepada suaminya maka semakin kuat pula rasa cemburu dalam hatinya. (Baca juga :Cara Bertaubat dari Tabarruj Menurut Al-Qur'an)

Cemburu di dalam Islam sebenarnya diperbolehkan, asalkan jika rasa cemburu yang timbul tidak memiliki sifat yang berlebihan hingga menyebabkan pertengkaran di antara keduanya. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbali, Imam An-Nasa’i, dan Imam Abu Dawud, bahwasanya Rasulullah SAW pernah bersabda:

“Sungguh ada sifat cemburu yang disukai oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala yaitu sifat cemburu yang disertai dengan keragu-raguan dan ada pula sifat cemburu yang sangat dibenci oleh Allah Ta'ala yaitu rasa cemburu yang tanpa disertai rasa keragu-raguan lagi.”
halaman ke-1 dari 4
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
cover top ayah
تَعۡرُجُ الۡمَلٰٓٮِٕكَةُ وَ الرُّوۡحُ اِلَيۡهِ فِىۡ يَوۡمٍ كَانَ مِقۡدَارُهٗ خَمۡسِيۡنَ اَلۡفَ سَنَةٍ‌ۚ‏
Para malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan, dalam sehari setara dengan lima puluh ribu tahun.

(QS. Al-Ma'arij:4)
cover bottom ayah
preload video
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak