Sayyidah Shafiyah binti Huyai, Istri Rasulullah Keturunan Nabi Harun

Kamis, 21 Mei 2020 - 14:43 WIB
Sayyidah Shafiyah disebut sebagai wanita Shadiqah oleh Rasulullah, yang artinya adalah wanita yang jujur imannya. Ilustrasi/Ist
Sayyidah Shafiyah binti Huyai bin Akhtab adalah bangsawan Bani Nadhir, keturunan Nabi Harun ‘alaihissalam (as). Maknanya, jika ditarik garis nasabnya, Nabi Musa as terhitung sebagai pamannya. (Baca juga: Membaca Misi Suci Nabi Musa AS )

Rasulullah pernah mengatakan padanya, “Sesungguhnya engkau adalah putri seorang nabi. Pamanmu pun seorang nabi. Dan engkau dalam naungan seorang nabi. Bagaimana kau tidak bangga dengan hal itu?”

Sayyidah Shafiyah lahir tahun 9 sebelum hijrah dan wafat 50 H. Tahun lahir dan wafat itu bertepatan dengan 613 M dan 670 M.

Sebelum memeluk Islam , Sayyidah Shafiyah pernah menikah dengan Salam ibn Abi Haqîq, kemudian dengan Kinanah ibn Abi al-Haqîq, penguasa Benteng al-Qumush, benteng yang paling megah di Khaibar. Keduanya adalah kesatria dan penyair terbaik dari kaumnya. Kala itu, penyair menempati posisi mulia. Mereka terhitung sebagai cerdik cendekia.

Ayah Sayyidah Shafiyah, Huyai bin Akhtab, adalah tokoh Yahudi sekaligus ulama mereka. Sang ayah tahu bahwa Muhammad bin Abdullah adalah seorang nabi akhir zaman. Ia tahu persis sejak kali pertama kaki Nabi yang mulia menjejak tanah Yatsrib (nama Madinah di masa lalu). Namun ia sombong dan menolak kebenaran. Karena apa? Karena nabi itu berasal dari Arab bukan dari anak turunan Israil ( Nabi Ya’qub ).

Baca juga: Pernikahan Jarak Jauh Rasulullah Dengan Ummu Habibah

Keadaan ini diceritakan Sayidah Shafiyah sebagai berikut:

"Tak ada seorang pun anak-anak ayahku dan pamanku yang lebih keduanya cintai melebihi aku. Tak seorang pun anak-anak keduanya membuat mereka gembira, kecuali ia melibatkan aku bersamanya.

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Quba -perkampungan Bani Amr bin Auf-, ayah dan pamanku, Abu Yasir bin Akhtab, datang menemuinya di pagi buta. Demi Allah, mereka baru pulang menemui kami saat matahari menghilang. Keduanya datang dengan ekspresi layu, lunglai, dan jalan tergontai lesu. Aku berusaha membuat mereka gembira seperti yang biasa kulakukan. Demi Allah, tak seorang pun dari keduanya peduli walau hanya sekadar menoleh padaku.

Aku dengar pamanku, Abu Yasir, bicara pada ayahku, “Apakah dia itu memang si nabi itu?

“Iya, demi Allah,” jawab ayah.

“Kau kenali dia dari sifat-sifat dan tanda-tandanya?” tanya paman lagi.

“Iya, demi Allah,” ayah memberikan jawaban yang sama.

“Lalu bagaimana keadaan dirimu terhadapnya?” tanya paman.

Ayah menjawab, “Demi Allah, permusuhan selama aku masih hidup.”

Baca juga: Sayyidah Juwairiyah, Tawanan Perang yang Bikin Sayyidah Aisyah Cemburu Berat



Diceritakan oleh Musa bin Uqbah az-Zuhri bahwa saat Rasulullah SAW di Madinah, Abu Yasir bin Akhtab datang menemui beliau. Ia mendengar ucapan-ucapan beliau. Setelah itu, ia kembali ke kaumnya dan berkata, “Taatilah aku. Sesungguhnya Allah telah mendatangkan pada kalian seseorang yang kalian tunggu-tunggu. Ikutilah dia! Jangan kalian menyelisihinya.”

Kemudian Huyai bin Akhtab yang merupakan pimpinan Yahudi segera beranjak menemui Rasulullah SAW. Ia duduk dan mendengar ucapan Nabi. Setelah itu pulang menuju kaumnya. Huyai adalah seorang yang ditaati. Ia berkata, “Aku telah datang menemui laki-laki itu. Demi Allah, aku akan senantiasa memusuhinya selamanya.”

Abu Yasir berkata, “Hai anak pamanku, ikutlah bersamaku dalam permasalahan ini. Selain urusan ini silahkan tidak bersamaku sekehendakmu. Kau tidak akan binasa.”

Huyai menjawab, “Tidak! Demi Allah! Aku tak akan menurutimu.”

Ia dikuasai oleh setan. Dan kaumnya mengikuti pandangannya (Ibnu Hisyam: as-Sirah an-Nabawiyah 1/519-520 dan Ibnu Katsir: as-Sirah an-Nabawiyah 2/298).

Setelah kejadian itu, Sayyidah Shafiyah mengetahui bahwa Rasulullah berada dalam jalan yang benar. Ternyata selama ini, kaumnya tidak memberitahukan tentang Nabi Muhammad kepada dirinya.



Baca juga: Pernikahan Tak Lazim Dua Kali Sayyidah Zainab bin Jahsy

Perang Khaibar

Sejak Nabi tiba di Madinah, orang-orang Yahudi Khaibar telah bulat menolak ajakan damai. Kebuntuan tersebut tak dapat didobrak kecuali dengan perang.

Pada pertengahan kedua bulan Muharram Tahun 7 H, Rasulullah SAW berangkat bersama segenap pasukan Muslim disertai persenjataan dan perlengkapan perang yang lengkap menuju Khaibar. Begitu melihat mereka, Rasulullah berseru, "Allah Akbar! Hancurkan Khaibar! Sungguh ketika kami turun di halaman suatu kaum, amat buruklah pagi hari yang dialami oleh orang-orang yang mendapat peringatan itu!"

Setelah pertempuran berdarah yang terjadi antara iman dan kekufuran itu berlangsung, perang berakhir dengan kemenangan di pihak kebenaran dan Islam yang mengalahkan kebatilan dan kekufuran.

Khaibar pun runtuh, benteng-bentengnya berhasil ditempus, para laki-lakinya terbunuh, termasuk Huyay bin Akhthab. Sedangkan para wanita menjadi sandera. Salah seorang wanita yang menjadi sandera adalah seorang bangsawan Bani Nadhir, Sayyidah Shafiyah binti Huyai ibn Akhthab. Ia adalah kembang para wanita Khaibar yang paling mulia bagi mereka dan saat itu Sayyidah Shafiyah belum genap berusia 17 tahun

Saat para tawanan dikumpulkan, Dihyah bin Khalifah al-Kalbi menemui Rasulullah SAW. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, berilah aku seorang budak wanita dari tawanan ini.”
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!