Kisah Ayah dan Anak yang Sahid dalam Memerangi Nabi Palsu
Senin, 13 Juli 2020 - 17:40 WIB
Tatkala Khalifah ‘Umar bin Khaththab memerintah, ‘Amr bin Thufail (putera Thufail) pernah datang ke majlis khalifah. Ketika dia sedang berada dalam majlis, makanan pun dihidangkan orang. Orang-orang yang duduk dalam majlis mengajak ‘Amr supaya turut makan bersama-sama. Tetapi ‘Amr menolak dan menjauh. “Mengapa..?“ tanya Khalifah.
"Barangkali engkau lebih senang makan belakangan. Mungkin engkau malu karena tanganmu itu?” ( )
“Betul, ya Amiral Mu’minin! “ jawab ‘Amr.
Kata Khalifah, "Demi Allah! Aku tidak akan memakan makanan ini, sebelum ia kau sentuh dengan tanganmu yang buntung itu. Demi Allah! Tidak seorang jua pun yang sebagian tubuhnya telah berada di surga, melainkan hanya engkau.”
Mimpi Thufail menjadi kenyataan semuanya. Tatkala terjadi perang Yarmuk, ‘Amr bin Thufail turut pula berperang bersama-sama dengan tentara muslimin. ‘Amr tewas dalam peperangan itu sebagai syuhada’, seperti yang diharapkan sang ayah. ( )
"Barangkali engkau lebih senang makan belakangan. Mungkin engkau malu karena tanganmu itu?” ( )
“Betul, ya Amiral Mu’minin! “ jawab ‘Amr.
Kata Khalifah, "Demi Allah! Aku tidak akan memakan makanan ini, sebelum ia kau sentuh dengan tanganmu yang buntung itu. Demi Allah! Tidak seorang jua pun yang sebagian tubuhnya telah berada di surga, melainkan hanya engkau.”
Mimpi Thufail menjadi kenyataan semuanya. Tatkala terjadi perang Yarmuk, ‘Amr bin Thufail turut pula berperang bersama-sama dengan tentara muslimin. ‘Amr tewas dalam peperangan itu sebagai syuhada’, seperti yang diharapkan sang ayah. ( )
(mhy)
Lihat Juga :