Selain Hagia Sophia, Ini yang Jadi Korban Setelah Kesultanan Utsmani Runtuh

Jum'at, 24 Juli 2020 - 10:26 WIB
loading...
A A A
Baca juga: Ketika Sultan Muhammad Al-Fatih Ubah Daratan Menjadi Lautan

Pemaksaan
Turki adalah negara Islam pertama yang sebelum Perang Dunia II, dengan lantang berani mencomot konsep negara sekuler. Doktrin sekulerisme diterapkan sebagai satu kebijakan politik, konstitusi, pendidikan, agama dan budaya.

Kebijakan ini tidak sepenuhnya mendapat persetujuan dari semua masyarakat Muslim. Alasannya, banyak yang menyatakan bahwa Islam tidak cocok dengan sikap tersebut. Meskipun klaim-klaim seperti itu didasarkan pada kesadaran yang berbeda, namun semua sepakat bahwa Islam tidak bisa hanya menjadi kepercayaan bagi individu yang punya kata hati, melainkan dasar bagi semua sistem sosial dan agama, yang kemudian mendapat cobaan berbahaya berupa upaya untuk memisahkan berbagai bidang tersebut dengan agama.

Baca juga: Pecat Syaikh Kurani sebagai Hakim, Sultan Muhammad Al-Fatih Menyesal

Pada akhirnya, perkembangan masyarakat di Turki menemukan karakter sendiri yang unik. Suatu bentuk percampuran yang rumit antara pemikiran Kemalisme yang fundamental dan radikal dengan pemikiran liberalis. Pun menentang Kemalisme tetapi tidak ingin ideologi ini diganti sehingga pemikiran Islam, baik yang konservatif maupun moderat tetap ada.

Adapun tentang sekularisasi dan modernisasi yang berkembang di Turki pada masa Rezim Kemalis, Bryan S. Turner, seorang guru besar sosiologi di Universitas Flinders (Australia Selatan), menyimpulkan bahwa sekularisme tersebut merupakan suatu bentuk pemaksaan dari pemerintah rezim, bukan sekularisasi yang tumbuh sebagai suatu konsekuensi dari proses modernisasi seperti di negara-negara Eropa.

Baca juga: Begini Cara Sultan Muhammad Al-Fatih Memuliakan Ulama

Selain itu sekularisasi di Turki pada saat itu merupakan peniruan secara sadar pola tingkah laku masyarakat Eropa yang dianggap modern dan lebih maju. Bagi Kemalis, manusia Turki baru tidak saja harus berpikiran rasional seperti orang-orang Eropa, tetapi juga harus meniru tatacara berperilaku dan berpakaian seperti mereka.

Kemudian, apakah Atatürk dan para penerusnya yang datang setelah itu, dengan segenap undang-undang, media pengajaran, tentara dan polisi serta dengan dukungan bangsa-bangsa Barat yang ada di belakangnya, mampu memisahkan dasar-dasar ajaran, ilmu pengetahuan dan nilai-nilai Islam dari kehidupan rakyat Muslim Turki?

Dalam surat kabar Lemonde Deplomatika pada edisi 18 Januari 1983 M, ada sebuah diskursus tentang Turki: antara Barat dan keuntentikan Islam dan tulisan yang dimuat oleh majalah Ar-Raid yang terbit di Akh Jerman.

Baca juga: Konstantinopel Jadi Islambul: Al-Fatih Berambisi Jadikan Ibu Kota Terindah di Dunia

Tulisannya begini: Setelah perbaikan berjalan selama dua abad, dengan mengubah karakter masyarakat Turki menjadi karakter masyarakat Barat dan setelah kekuasaan sekuler berlangsung selama setengah abad di sana, tampaknya ada indikasi kebangkitan baru Islam di Turki yang termasuk negara-negara Islam pertama, yang pernah mengalami pemisahan antara politik dan agama.

Dari sini terlihat jelas bahwa ungkapan Bryan S. Turner di atas benar. Artinya sekularisasi yang terjadi di Turki adalah suatu bentuk pemaksaan dari pemerintah rezim, bukanlah sekularisasi yang tumbuh sebagai suatu konsekuensi dari proses modernisasi seperti di negaranegara Eropa.

Baca juga: Al-Fatih Siapkan 400 Kapal dan 250.000 Mujahid untuk Kuasai Konstantinopel

Menurut Adian Husaini dalam Wajah Peradaban Barat, bentuk pemaksaan tersebut juga sangat jelas dari ungkapan Abdullah Cevdet, seorang tokoh Gerakan Turki Muda, yang menyatakan bahwa hanya ada satu peradaban dan itu adalah peradaban Eropa. Karena itu, menurutnya Turki harus meminjam peradaban Barat, baik bunga mawar maupun durinya sekaligus.

Ungkapan Abdullah Cevdet tersebut menyiratkan bahwa Turki harus mengadopsi peradaban Barat secara mentah-mentah; semua unsur termasuk yang jelek sekalipun. Baca juga: Wasiat Al-Fatih kepada Putranya (1), (2), (3) , ( 4 )

Ungkapan Cedvet itu sangat bertentangan dengan apa yang dikemukakan oleh Seyyed Hossein Nasr dalam ceramah umumnya tentang “Islam and Modern Science” untuk the Pakistan Study Group dan the MIT Muslim Students Association: Tidak ada satu ilmu pun yang diserap oleh sebuah peradaban tanpa ada pembuangan. Ini diibaratkan seperti tubuh, jika kita hanya makan dan tubuh kita tidak mengeluarkan sesuatu (buang air) maka kita akan mati dalam beberapa hari. Makanan yang dimakan oleh tubuh, sebagian akan diserap dan sebagian akan dibuang. (Baca juga: Sujud Syukur Dunia Islam Sambut Kemenangan Al-Fatih, Hagia Sophia Jadi Masjid )
(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Kemenag Siap Kirimkan...
Kemenag Siap Kirimkan Imam dan Santri Berprestasi Program Beasiswa ke Turki
Masjid Hagia Sophia...
Masjid Hagia Sophia Turki : Mengenal Toleransi Islam di Dalam Masjid
Pengelolaan Wakaf, Menag...
Pengelolaan Wakaf, Menag Lirik Keberhasilan Turki dan Yordania
Lembaga Kemanusiaan...
Lembaga Kemanusiaan Turkiye Hayrat Yardim Salurkan Ratusan Sapi Kurban di Indonesia
6 Fakta Sulaiman Al-Qanuni,...
6 Fakta Sulaiman Al-Qanuni, Sultan ke-10 Daulah Turki Utsmani
Kisah Muhammad Al-Fatih...
Kisah Muhammad Al-Fatih Sang Penakluk: Masa Kejayaan Turki Utsmani
Rekomendasi
Permukiman Prasejarah...
Permukiman Prasejarah Ditemukan di Gurun Yordania
Serangan Ubur-ubur Paksa...
Serangan Ubur-ubur Paksa Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Prancis Ditutup
Es Antartika Tiba-tiba...
Es Antartika Tiba-tiba Mencair, Ilmuwan Mulai Panik
Artikel Terkini
Bolehkah Menggabungkan...
Bolehkah Menggabungkan Niat Puasa Sunnah?
Tahun Baru Islam 1448...
Tahun Baru Islam 1448 H Jadi Momentum Kebangkitan Umat Islam Hadapi Tantangan Global
Puasa Tasua, Keutamaan...
Puasa Tasua, Keutamaan dan Jadwal Pelaksanaannya
Tak Banyak yang Tahu,...
Tak Banyak yang Tahu, Ini 7 Larangan di Bulan Muharram
Ucapkan Selamat Tahun...
Ucapkan Selamat Tahun Baru 1448 Hijriah, Menag Ajak Umat Jaga Persatuan
Jadwal Puasa Muharam...
Jadwal Puasa Muharam 1448 H Tahun 2026, Kapan Puasa Tasu'a dan Asyura Dilaksanakan?
Infografis
10 Ilmuwan Muslim yang...
10 Ilmuwan Muslim yang Mengubah Wajah Ilmu Pengetahuan Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved