Subhanallah, Beginilah Abu Dzar Menebus Kesalahannya kepada Bilal
Selasa, 19 Mei 2020 - 19:46 WIB
loading...
Kisah dua sahabat ini bisa menjadi iktibar dan hikmah betapa kemurahan hati dan sifat pemaaf bisa mendatangkan ridha-Nya Allah. Foto Ilustrasi/Ist
A
A
A
Abu Dzar Al-Ghifari dan Bilal bin Rabah radhiallahu 'anhuma adalah dua sahabat setia Rasulullah SAW yang ikut berjuang menegakkan risalah Islam . Keduanya hampir selalu ikut berjuang di medan perang melawan kaum musyrikin.
Abu Dzar dan Bilal dikenal sebagai penyayang kaum dhuafa dan sahabat yang hidup dalam kesederhanaan. Suatu hari keduanya terlibat perdebatan hingga membuat Abu Dzar lepas kendali dengan mengeluarkan kata-kata yang tidak terpuji.(Baca Juga: Kisah Bilal dan Adzan Terakhir yang Menggetarkan Madinah)
Kisah kedua sahabat ini bisa menjadi iktibar dan hikmah betapa kemurahan hati dan sifat pemaaf bisa mendatangkan ridha-Nya Allah. Apalagi saat ini bertepatan fase 10 hari terakhir Ramadhan di mana Allah banyak mengucurkan rahmat, ampunan dan kasih sayang-Nya.
Berikut kisah Abu Dzar dan Bilal diceritakan oleh Dai penulis buku-buku Islami Ustaz Salim A Fillah . Beliau menukil kalam indah Imam Sufyan Ats-Tsaury. "Menghadap Allah dengan membawa seribu dosa kepada-Nya. Rasanya akan lebih ringan daripada membawa 1 dosa kepada sesama".
"Mengapa demikian?," tanya murid-muridnya.(Baca Juga: Kisah Ibnu Mas'ud dan Abu Jahal yang Sombong)
"Sebab Allah itu menutup aib, menunggu tobat, mengampuni, dan menghapus kesalahan. Sedangkan manusia menyebarkan cela, tidak menanti penyesalan, sulit memaafkan, meminta ganti rugi, dan mengungkit-ungkitnya kecuali sedikit saja."
Suatu hari di Madinah, terdengar suara keras dari sesosok sahabat yang sedang berbaring. "Injak kepalaku ini hai, Bilal! Demi Allah, kumohon injaklah!"
Abu Dzar Al-Ghifari meletakkan kepalanya di tanah berdebu. Dilumurkannya pasir ke wajahnya dan dia menunggu penuh harap terompah Bilal ibn Rabah segera mendarat di pelipisnya.
"Kumohon Bilal," rintihnya, "Injaklah wajahku. Demi Allah aku berharap dengannya Allah akan mengampuniku dan menghapus sifat jahiliahku."
Abu Dzar ingin sekali menangis. Dia menyesal. Dia sedih. Dia takut. Dia marah pada dirinya sendiri. Dia merasa begitu lemah berhadapan dengan hawa nafsunya. Maka dengan kepala bersaput debu dan wajah belepotan pasir yang disurukkan, dia mengerang lagi, "Kumohon injaklah kepalaku!"
Abu Dzar dan Bilal dikenal sebagai penyayang kaum dhuafa dan sahabat yang hidup dalam kesederhanaan. Suatu hari keduanya terlibat perdebatan hingga membuat Abu Dzar lepas kendali dengan mengeluarkan kata-kata yang tidak terpuji.(Baca Juga: Kisah Bilal dan Adzan Terakhir yang Menggetarkan Madinah)
Kisah kedua sahabat ini bisa menjadi iktibar dan hikmah betapa kemurahan hati dan sifat pemaaf bisa mendatangkan ridha-Nya Allah. Apalagi saat ini bertepatan fase 10 hari terakhir Ramadhan di mana Allah banyak mengucurkan rahmat, ampunan dan kasih sayang-Nya.
Berikut kisah Abu Dzar dan Bilal diceritakan oleh Dai penulis buku-buku Islami Ustaz Salim A Fillah . Beliau menukil kalam indah Imam Sufyan Ats-Tsaury. "Menghadap Allah dengan membawa seribu dosa kepada-Nya. Rasanya akan lebih ringan daripada membawa 1 dosa kepada sesama".
"Mengapa demikian?," tanya murid-muridnya.(Baca Juga: Kisah Ibnu Mas'ud dan Abu Jahal yang Sombong)
"Sebab Allah itu menutup aib, menunggu tobat, mengampuni, dan menghapus kesalahan. Sedangkan manusia menyebarkan cela, tidak menanti penyesalan, sulit memaafkan, meminta ganti rugi, dan mengungkit-ungkitnya kecuali sedikit saja."
Suatu hari di Madinah, terdengar suara keras dari sesosok sahabat yang sedang berbaring. "Injak kepalaku ini hai, Bilal! Demi Allah, kumohon injaklah!"
Abu Dzar Al-Ghifari meletakkan kepalanya di tanah berdebu. Dilumurkannya pasir ke wajahnya dan dia menunggu penuh harap terompah Bilal ibn Rabah segera mendarat di pelipisnya.
"Kumohon Bilal," rintihnya, "Injaklah wajahku. Demi Allah aku berharap dengannya Allah akan mengampuniku dan menghapus sifat jahiliahku."
Abu Dzar ingin sekali menangis. Dia menyesal. Dia sedih. Dia takut. Dia marah pada dirinya sendiri. Dia merasa begitu lemah berhadapan dengan hawa nafsunya. Maka dengan kepala bersaput debu dan wajah belepotan pasir yang disurukkan, dia mengerang lagi, "Kumohon injaklah kepalaku!"
Lihat Juga :