Sa'id bin al-Harits, Pecinta Sholat Tahajud yang Syahid Dikelilingi Bidadari

loading...
Said bin al-Harits, Pecinta Sholat Tahajud yang Syahid Dikelilingi Bidadari
Selama di medan jihad, Said bin al-Harits berpuasa di siang hari dan mengerjakan sholat di malam hari. Siang maupun malam aku selalu melihatnya bersungguh-sungguh dalam ibadah. (Foto/Ilustrasi : Ist)
Sa'id bin al-Harits adalah pejuang muslim di eraBani Ummayah, pada abad ke-8. Beliau jihad di Romawi dengan komandan perang Maslamah bin Abdul Malik . Maslamah sendiri adalah seorang pangeran Umayyah memimpin beberapa kampanye melawan Kekaisaran Bizantium dan Kekhaganan Khazar.

Baca juga: Masjid Lumpur Bani Umayyah Ditemukan, Dibangun di Awal Islam

Dalam buku berjudul "Ia Hidup Kembali Setelah Mati 100 Tahun: Kisah-Kisah Haru" karya Ust. Ahmad Zacky El-Syafa diceritakan kisah Sa'id bin al-Harits yang dikutip dari Hisyam bin Yahya al-Kinani.

Hisyam bin Yahya al-Kinani menceritakan:

Pada tahun 38 H, kami melakukan peperangan di negeri Romawi. Komandan kami saat itu adalah Maslamah bin Abdul Malik. Kami berteman dengan penduduk Bashrah. Dengan bergiliran kami melayani pasukan, berjaga, mencari bekal, dan mempersiapkan makanan dalam satu tempat.

Dalam tim kami itu ada seseorang yang bernama Sa'id bin al-Harits. Selama di medan jihad, ia berpuasa di siang hari dan mengerjakan sholat di malam hari. Siang maupun malam aku selalu melihatnya bersungguh-sungguh dalam ibadah.

Di luar waktu sholat atau sedang melakukan perjalanan, ia tidak pernah berhenti berzikir kepada Allah dan mengkaji al-Qur'an.

Pada suatu malam, aku bersamanya mendapatkan giliran jaga. Saat itu, kami sedang mengepung salah satu benteng pertahanan pasukan Romawi yang sangat sulit ditaklukkan. Malam tersebut, aku melihat Sa'id sangat bersabar dalam beribadah dan mengerjakan sholat.

Aku pun memandang remeh ibadahku dibandingkan ibadahnya. Aku takjub dengan kekuatan fisiknya dalam beribadah. Aku katakan kepadanya, agar ia menyayangi dirinya. Namun ia menjawab, “Saudaraku, hidup ini adalah nafas-nafas yang akan dihitung, usia yang akan habis dan hari-hari yang akan berlalu."

Jawabannya itu justru membuatku menangis. Aku berdoa kepada Allah agar memberinya pertolongan dan kekuatan. Kemudian aku bertanya kepadanya, “Tidurlah barang sejenak agar dirimu bisa beristirahat. Sebab, engkau tidak tahu apa yang akan dilakukan pihak musuh."

Baca juga: Catatan Emas Jihad di Zona Laut Daulah Umayyah

Sa'id pun lalu tidur di dalam tenda sendirian, sementara aku sendiri tetap berjaga.

Tiba-tiba, aku mendengar suara orang berbicara dari dalam kemah. Aku heran karena di dalam kemah hanya ada Sa'id yang sedang tidur. Aku tidak melihat ada seorang pun masuk kemah kecuali Sa'id. Aku lalu pergi ke kemah untuk melihat apa yang terjadi di dalamnya. Di sana ada Sa'id yang tengah tidur. Namun, ia tertawa dan berbicara sambil tetap tidur.

Aku masih hafal apa yang ia katakan, “Aku tidak ingin kembali.”

Kemudian ia mengulurkan tangan kanannya, seakan-akan mengambil sesuatu. Kemudian ia menarik kembali tangannya dengan pelan sambil tertawa. Kemudian ia berkata, "Malam ini saja!'

Selanjutnya, ia bangun dari tidurnya dalam keadaan gemetar. Aku dekap ia dan aku tenangkan. Setelah tenang, ia mengucapkan tahlil, takbir, dan tahmid.

Aku pun memintanya untuk menceritakan apa yang telah terjadi. Ia memberitahuku bahwa ada dua orang laki-laki mendatanginya dalam mimpi dengan rupa yang bagus. Mereka berkata, "Bangunlah agar kami bisa memperlihatkan nikmat yang Allah sediakan untukmu.”

Sa'id lalu menceritakan kepadaku bahwa ia melihat istana dan bidadari-bidadari yang menyambutnya. la berjalan-jalan di dalam istana itu sampai ke sebuah kasur yang di atasnya terdapat satu bidadari. Seakan-akan bidadari itu adalah permata yang disimpan.

Bidadari itu berkata kepadanya, “Sudah cukup lama aku menantimu."

Sa'id pun bertanya, "Siapa kamu?"
halaman ke-1
preload video