Kisah Bijak Para Sufi: Emas Keberuntungan

Kamis, 18 Juni 2020 - 06:26 WIB
loading...
Kisah Bijak Para Sufi:...
Saat itu pukullah aku, dan aku akan berubah menjadi emas. Foto/Ilustrasi/Ist
A A A
KONON hiduplah seorang saudagar bernama Abdul Malik. Ia dikenal sebagai orang baik dari Khorasan karena ia menggunakan kekayaannya yang berlimpah untuk berderma dan mengundang orang-orang miskin untuk makan.

Tetapi pada suatu hari, ia begitu saja memberikan sebagian besar hartanya, dan merasakan kelegaan yang jauh lebih nikmat dibandingkan ketika ia memberi hanya sebagian kecil dari segala kepunyaannya.

Baca juga: Hikayat Mistis: Bunglon dan Kelelawar

Kelegaan itu membuatnya memutuskan untuk mendedikasikan tiap sen miliknya demi kesejahteraan umat manusia. Dan ia melakukan keputusannya itu.

Baca juga
: Kisah Bijak Para Sufi: Saudagar dan Darwis Kristen

Tak lama setelah membebaskan hatinya dari segala kekayaan duniawi --dan berserah diri pada takdir kehidupannya-- ketika sedang bersembahyang, Abdul Malik melihat sosok gaib muncul dari lantai kamarnya. Sosok itu ternyata seorang lelaki; jubah perca di tubuhnya jelas jubah seorang darwis .

Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Kandil Besi

"Wahai Abdul Malik, manusia murah hati dari Khorasan!" sapa sosok itu. "Aku adalah dirimu sendiri, yang sekarang ini hampir nyata bagimu karena engkau telah berbuat kebajikan yang sungguh mulia; oleh karena itu, semua laku baikmu di masa lalu jadi tampak kerdil. Sebab itu, dan sebab engkau mampu melepaskan dirimu dari kekayaan tanpa merasa dirimu hebat, aku menganugerahkan kamu dari sumber anugerah yang sejati."

Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Gerbang Surga

"Setiap hari dengan cara ini aku akan muncul di depanmu. Saat itu pukullah aku, dan aku akan berubah menjadi emas. Ambillah emas itu sebanyak yang engkau mau. Tak usah khawatir engkau menyakitiku, sebab yang kau ambil akan diganti dari sumber segala anugerah."

Baca juga: Ini Si Pemalu yang Dicintai Allah Ta'ala

Setelah berkata demikian, sosok itu pun lenyap.

Keesokan harinya, Abdul Malik sedang duduk-duduk bersama seorang teman, Bay-Akal, ketika hantu darwis itu mulai menunjukkan diri. Hantu itu pun jatuh ke tanah sebab dipukul oleh Abdul Malik dengan tongkat, dan berubah jadi emas. Abdul Malik mengambil bagiannya dan memberikan emas itu juga untuk tamunya.

Kini Bay-Akal, tanpa mengerti kejadian sebelumnya, mulai berpikir alangkah baiknya bila ia dapat melakukan keajaiban serupa. Ia mengetahui bahwa kaum darwis punya kekuatan tertentu dan menyimpulkan bahwa ia pun hanya perlu memukul mereka untuk mendapatkan emas.

Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Empat Harta Ajaib

Jadi, diadakanlah sebuah pesta lalu diundangnya semua darwis untuk hadir dan bersantap. Ketika mereka sudah makan kenyang, Bay-Akal pun mengeluarkan sebilah besi dan dengan tanpa ampun dihantamnya setiap darwis di dekatnya hingga mereka tersungkur di tanah.

Para suci yang luput segera menangkap Bay-Akal dan membawanya kepada hakim. Mereka mengadukannya bersama para darwis yang luka sebagai bukti. Bay-Akal pun bercerita tentang kejadian di rumah Abdul Malik dan ia hanya mencoba menirukan mukjizat tersebut.

Baca juga: Hikayat-Hikayat Mistis: Burung Hoopoe dan Burung Hantu

Maka dipanggillah Abdul Malik, dan dalam perjalanan ke pengadilan sosok emas itu membisikkan kepadanya apa yang harus ia katakan.

"Inilah pernyataan saya," katanya, "Menurut saya, orang ini sudah tidak waras, atau sedang berusaha menutup-nutupi hobinya menyiksa orang tanpa alasan. Memang saya mengenalnya, tetapi yang ia ceritakan tentang kejadian di rumah saya tidak lebih dari akal-akalannya belaka."

Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Warisan

Bay-Akal pun dimasukkan ke rumah sakit jiwa sampai ia menjadi lebih tenang. Para darwis yang luka sudah sehat kembali melalui ilmu pengobatan yang mereka miliki. Dan tak ada yang percaya bahwa peristiwa menakjubkan seperti seorang manusia berubah menjadi patung emas --setiap hari demikian-- bisa terjadi.

Selama berpuluh-puluh tahun kemudian, hingga ia dikumpulkan bersama para leluhurnya, Abdul Malik terus memecahkan patung emas yang adalah dirinya, dan membagi-bagikan harta itu, yang adalah dirinya, kepada barangsiapa yang tak dapat ia tolong dengan cara lain kecuali dengan materi.

Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Kisah Api

===

Ada pendapat bahwa para pendeta menyampaikan ajaran moral dengan memakai perumpamaan, tetapi kaum darwis mampu menyamarkan pengajaran mereka secara lebih sempurna; sebab hanya melalui usaha untuk mengerti dan kecerdikan seorang gurulah yang sungguh-sungguh mampu mempengaruhi pendengar.

Kisah ini lebih condong pada bentuk perumpamaan daripada kebanyakan kisah sejenis. Namun, sang darwis yang menceritakannya di sebuah pasar di Peshawar pada awal tahun 1950-an menasihati: "Pusatkan perhatian pada bagian awal cerita, bukan pada pesan moralnya. Itu menunjukkan padamu tentang metode." (Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Kisah Pasir )

Dinukil dari Idries Shah "Tales of The Dervishes" diterjemahkan Ahmad Bahar menjadi Harta Karun dari Timur Tengah - Kisah Bijak Para Sufi.
(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Kisah Hikmah : Tidak...
Kisah Hikmah : Tidak Melakukan Ibadah Haji Tapi Dapat Pahala Haji, Kok Bisa?
Kisah Bulan Zulhijjah...
Kisah Bulan Zulhijjah : Diijabahnya Doa Nabi Zakaria Mendapatkan Keturunan di Umur 90 Tahun
Kisah Uwais Al Qarni...
Kisah Uwais Al Qarni : Menggendong Ibunya dari Yaman ke Makkah untuk Melaksanakan Haji
Kisah Hikmah : Laki-laki...
Kisah Hikmah : Laki-laki yang Selamat dari Neraka karena Zikir Laa Ilaaha Illallaah
Kisah Hikmah : Diselamatkan...
Kisah Hikmah : Diselamatkan dari Siksa Kubur karena Fadilah Puasa Syawal
Kisah Hit, Seorang Waria...
Kisah Hit, Seorang Waria yang Hidup di Zaman Nabi SAW
Rekomendasi
Dataran Tinggi Ontong...
Dataran Tinggi Ontong Java Mengalami Perubahan Besar Akibat Aktivitas Vulkanik
NOAA Prediksi Air Permukaan...
NOAA Prediksi Air Permukaan Laut Akan Naik hingga 40 Kaki
Lubang Ozon di Antartika...
Lubang Ozon di Antartika Jadi Ancaman bagi Penangkaran Penguin dan Anjing Laut
Artikel Terkini
7 Kisah Para Nabi di...
7 Kisah Para Nabi di Bulan Muharram yang Diabadikan Al Quran
3 Puasa Sunnah Muharram...
3 Puasa Sunnah Muharram yang Pahala Tidak Main-main!
Sebaik-baikya Puasa...
Sebaik-baikya Puasa Setelah Ramadan, Ternyata Puasa Muharram!
Wamenhaj Ungkap Dugaan...
Wamenhaj Ungkap Dugaan Penipuan Rp1,4 M Modus Dam dan Badal Haji
Larangan Menikah di...
Larangan Menikah di Bulan Suro: Bagaimana Pandangan Islam?
Doa Memasuki Tahun Baru...
Doa Memasuki Tahun Baru Islam, Jangan Lupa Diamalkan!
Infografis
Fenomena Foehn Bikin...
Fenomena Foehn Bikin Jepang Diselimuti Suhu Panas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved